Diberdayakan oleh Blogger.

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

Hi, We are Your Charisma /

The place where we write some words

Sudut gelap kamar itu adalah aku
Yang panjang menjuntai kedepan, dan lebar kebelakang, ia ada ditengah, berdebu tebal, bersiku kokoh namun tak ada yang pernah bertanya, "apakah sulit menahan pondasinya sendirian?" Karna mereka menempatkannya dalam sudut, mungkin dengan rasa percaya atau hanya asal ada.
Ia dingin tak tersentuh, jarang juga terlihat karena mata kadang tak menarik padanya.

Dan kamu datang sebagai temaram.
Satu pagi kamu datang berbuai angin lembut, dan hangat memeluk, menyapa sudut tanpa malu, menjamah yang biasanya tak tersentuh. 
Satu sore kamu datang berbalut keteduhan, memberi semangat setelah diterpa terik, dan beri warna jingga keemasan untuk si sudut yang gelap dan dingin itu.

Temaram banyak berbagi pada sudut, begitupun sudut yang menyediakan ruang, bidang untuknya bersandar.
Mereka bercerita bagaimana waktu berjalan tanpa tempat, tanpa pasti, namun penuh arti.
Yang tanpa disadari, semua terjadi begitu saja, seolah sebuah kebetulan yang menyamar jadi takdir.

Hingga sudut menyadari satu hal, bahwa selalu ada jarak diantara mereka. Kadang terasa jauh, kadang teramat dekat. Namun ia percaya temaram selalu datang, meski hari ini hujan lebat, besok mentari membawanya kembali.
Meski awan menutupi, besok angin menghempasnya pergi.
Semesta seolah beri jalan bagaimanapun cara.
Temaram akan hadir tanpa diminta, sudut siap menyambutnya dari hilir ke hulu.
Lalu ia mengerti, bahwa jarak itu, ternyata adalah sebuah rindu.
Share on:
Saya hancur, saya terluka, saya kecewa.
Namun apakah saya memang berhak mendapatkan ini semua?
Saya lelah..
Ingin rasanya saya tinggalkan duniawi ini, saya lelah.
Jika memang harus disiksa neraka, bukankah itu lebih baik daripada disiksa dunia dan neraka?
Bagaimana nanti anak-anak jika saya pergi..
Dapatkah mereka tetap jadi alasan saya untuk hidup, meski hancur, meski sakit.
Dapatkah saya tetap jalani hidup demi mereka, karena tidak ada cinta untuk mereka sebesar cinta saya.
Darimana lagi saya dapat mengais kekuatan untuk tetap berdiri sebagai orang tua.
Saya rasa saya hampir tidak mengenali diri saya, karna terlalu banyak orang yang mengaruskan saya memaklumi apapun perbuatan jahat kepada saya. 
Saya sakit, air mata enggan keluar, tapi isi perut yang kosong bergejolak. Keluar cairan putih asam yang menyakiti tenggorokan. 
Saya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Hingga tidak ada lagi kebisingan yang tertangkap di telinga ini, hanya saya dan suara saya.
Saya lelah...
Saya mau istirahat, bahkan berhenti.
Saya lelah..
Jemput saya jika bisa.
Share on:
Bagaimana ya rasanya dicintai?

Sampai-sampai lupa, nyaris mati rasa.
Saya mungkin bukanlah mereka yang beruntung, dapat memamerkan bahwa ada 1 manusia yang menghargainya sedemikian rupa.
Mencintai, untuk pasangan saya mungkin adalah suatu penghinaan tersendiri, baginya sama saja membuat harga diri jadi rendah, pandangnya seperti hidup dijajah dan tiada kebahagiaan, itu hanyalah kegiatan buang tenaga belaka.
Saya mungkin juga bukan orang yang akan menginjak mereka yang mencintai saya dengan tulus, saya akan menghargai setiap dan apapun yang ia berikan, namun tetap saja, dengan apa saya bisa meyakinkan dia yang padahal dulu juga pernah segitunya mencintai saya.

Baginya pernikahan membuat semua rasa itu pantas berakhir, saya bukan lagi manusia yang berhak menerima segala bentuk manis itu, sekecil apapun, saya mungkin hanyalah satu, dari banyak kesialan dalam hidupnya, karna harus berbagi hidup dengan saya.
Namun ditengah itu, dia mencari rasa itu sendiri, rasa yang saya rindukan, yang selalu saya inginkan, namun bukan dicari dalam diri saya, melainkan orang lain, atau hal lain yang menurutnya lebih pantas.
Saya seperti mengais ngais perhatian yang sesungguhnya berhak saya dapatkan.

Hingga saya mencari pada orang lain, atau mencoba menghidupkan kenangan masalalu, namun setelah saya sadar, saya hanya butuh itu, dari orang yang saya anggap suami -- namun ia enggan berbaginya dengan saya.

Kini saya hidup seperti biasa, jauh dari kata cinta, mencoba menjadikan pemikiran suami, bahwa memang itulah yang pantas saya dapatkan.
Mungkin karna hidup terlalu pahit sekarang?
Kita butuh pemanis, meski itu hanya buatan?
Entah.
Yang pasti inilah hidup saya sekarang.
Tanpa cinta, tapi akan selalu mencoba baik-baik saja.
Share on:
Saya merasa saat orang lain dengan sadar dan sengaja menyakiti saya, umumnya mereka enggan mengucap maaf yang tulus.
Tiada gestur menyesal, tiada kata baik untuk menenangkan.
Apakah se sepele itu kehadiran saya untuk mereka?
Betahun lamanya semua menumpuk, lukanya masih ada.
Masih sama, masih basah.
Dada saya sering terasa sesak mengingatnya.
Hari ke hari, luka baru terus berdatangan.
Apakah lambat laun saya akan melupakan diri saya bila ini terus terjadi?
Situasi menjadi berubah, dimana saya merasa saya hanya diam dan mereka jahati, lalu menjadi saya yang mencari apa salah saya, dan apa memang saya pantas menerimanya?
Saya ingin meledak, saya mau marah.
Rasanya ingin mencabik semua kulit, mencopot semua rambut, mematahkan semua kuku.
Wajah mereka yang menyakiti selalu datang lagi dan lagi?
Apa sepenting itu sebuah maaf dan penyesalan untuk diri saya, hingga saya menjadi seperti ini?
Bahkan saya tersiksa hidup dalam dendam, membawa dendam itu kepada orang yang sudah mati, apa yang saya bisa harapkan? Toh dia juga sudah mati.
Namun sosoknya datang lagi dan lagi menghantui saya seolah semua baru terjadi kemarin.
Ditambah kali ini, yang masih hidup, namun bisa terus menjalankan hidup dengan terus menyakiti saya, sebaik apapun saya memperlakukan dia, selalu ada celah untuk membuat saya teriris perih.
Apakah saya harus hidup sepeti ini?
Seperti kejar bayangan sendiri.
Takut setiap saat, resah, kecewa, dan marah.
Saya lelah..
Dapatkah saya menikmati sisa hidup selayaknya manusia?
Saya lelah..
Sangat lelah..
Rasanya ingin pergi saja.
Yang jauh,
Sangat jauh
Sampai tidak ada yang bisa nemukan saya.
Share on:
Saya berdiri lagi, sendiri, menepi.
Sebentar lagi raya ketiga, tanpa Mama.

Hari ini mendung disertai hujan, saya lihat sekeliling, merasa ada satu bagian hampa yang biasa selalu terisi oleh sosok yang saya pun bingung juga heran, yang dulu pernah saya hindari, yang dulu selalu mengatakan kecewa, tapi kami berdua terpaut saling cinta. 
Kini saya merindukannya.

Kepala saya kembali mengulang memori, tempat-tempat dimana kami pernah tertawa bersama, menangis, dan marah.
Bangku yang pernah ia duduki, tempat yang pernah ia singgahi, seolah semua menjadi monumen bersejarah untuk saya.
Saya ingat bagaimana senyum melengkung di wajahnya yang jelita, dan air yang turun dari matanya yang turut menurun setiap tahunnya.
Suaranya yang selalu berteriak memanggil "Adiiiik", dan gelak tawanya yang selalu renyah ditelinga.

Pada momen ini, 4 tahun lalu, masih saya rasakan suasana hangat yang selalu ia ciptakan.
Harum kue-kue buatannya, dan lezat semua masakannya, membuat saya bertanya, mengapa tangannya begitu terberkahi bisa membuat makanan-makanan enak ini. 
Ia selalu menyuruh kami makan bersama di malam Hari Raya, sambil tersenyum mendengar kami yang sibuk memuji betapa enaknya santapan Lebaran kami setiap tahun.

Lalu perjalanan mudik menjadi cerita lain, kala saya harus mendengarkan lagu-lagu kesukaannya di mobil secara berulang-ulang selama belasan jam, dan cerita-cerita yang ia tuturkan tentang kampung halaman, yang mungkin tidak hanya 1-2x sudah saya dengarkan.
Percayalah, dulu mungkin saya membenci lagu-lagu tersebut, namun kini seolah saya siap mendengarkannya selama berhari-hari, saking rindunya.

Kalimat-kalimat harapannya yang menginginkan saya menjadi manusia yang lebih baik, dan berguna, yang selalu terdengar menyebalkan, kini juga saya rindukan.

Mama adalah pelengkap Hari Raya yang sempurna, untuk semua keluarga.
Sosoknya selalu menyenangkan, perannya juga paling penting melebihi apapun.

Kini sudah tahun ketiga, saya menjalani Hari Raya tanpa Mama.
Tentu banyak yang berubah, dan selalu akan jadi beda.
Tidak semenyenangkan dulu, betapapun meriahnya tempat yang saya kunjungi, akan selalu dan tetap ada satu bagian yang akan tetap kosong.

Tidak ada lagi tangan lembut yang akan saya cium,
Tidak ada lagi tubuh hangat yang akan saya peluk,
Tidak ada lagi dirinya yang secantik dan secerah itu pada pagi Hari Raya.

Ma, bila ada 1 kesempatan sekali seumur hidup yang bisa terwujud, saya hanya ingin memelukmu..

Mereka boleh sebut saya pembangkang, atau saya terlihat seperti seorang yang tidak terlalu menyayangimu, namun dengan semua cerita yang sudah saya lewati selama 24 tahun, tetap Mama yang jadi pemeran utamanya.

Kepergian Papa tidak begitu terasa karna saya masih memiliki mu, kala itu, namun kini sudah tidak ada satupun tersisa.

Tubuh ini sudah kehilangan jiwa kala kepergianmu di akhir Januari itu.

Saya hanya bisa kembali berjalan sambil mengenang hal yang tidak akan pernah saya rasakan lagi meski sekeras apapun saya berusaha.

Hari harus tetap berlanjut, bumi tetap mengitari matahari, dan bulan berputar untuk bumi, begitupun, saya.

Namun, saya tetap, dan akan selalu merindukanmu, Mah.

Bagaimapun, terima kasih sudah berikan 24 tahun terbaik yang pernah saya miliki.
Saya rindu Mama.






Share on:

Efek Rumah Kaca dalam album Sinestesia, membawa saya dalam lagu pertama yang membuat saya menangis, tersetel secara acak, dan kemudian saya terdiam cukup lama, meresapi apa yang Cholil lantunkan.

"Hah, lagu tentang kematian?"

Saya mencoba terus khusyuk mendengarkan.
Liriknya mulai satu persatu masuk kedalam kepala saya melalui telinga, saya putuskan untuk membesarkan volumenya.
Memasuki menit ke 8, air mata saya tumpah begitu saja, tanpa sama sekali saya buat-buat.

"Laa ilaa ha ilallah...."

Samar-samar itulah yang saya dengar dibeberapa bait, dan setelah saya caritau, memang begitulah liriknya.

Apa yang Cholil tuliskan, dan lantunkan, mengubah perspektif saya melihat kematian.
Terlepas dari Cholil adalah lulusan S2 sastra Indonesia, di UI, dan S3 di Amerika, ia pastinya pandai merangkai kata yang indah dan sirat makna.
Namun, yang ada dalam Putih, benar-benar hal yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan.

"Kematian adalah awal kehidupan tanpa kematian"

Saya selalu lupa bahwa memang hidup ini hanya titipan, begitu yang dikatakan orang tua saya, dan guru ngaji saya.
Saya selalu mengutuk kehidupan yang saya miliki, apa yang dititipkan pada saya? Saya memilih tidak hidup sama sekali, saya pikir Tuhan begitu keji.

Namun saya menyesali apa yang pernah saya pikirkan, saya, dan seluruh makhluk di dunia ini, sama, Tuhan tidak memilah milih, kami berangkat dari awal yang sama, dan dengan akhir yang sama, yang membedakan hanyalah tenggat waktunya.
Isi kehidupan ini, sepenuhnya saya yang atur, saya yang jalani, saya berjalan dan mengumpulkan bekal untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Kemudian saya selalu berpikir bahwa kematian adalah kesengsaraan, saya takut mati, sungguh saya takut mati, atau saya pikir saya lebih baik mati sekalian, saya ingin mati, saya ingin mati saja, pikiran itu datang silih berganti.

Kata mereka kematian itu sakit, sakit sekali, tidak ada enak-enaknya, dan semua akan berakhir, mulai dari situ, penderitaanmu akan dimulai.

Saya pikir kematian menyakitkan, saya akan meninggalkan dunia dengan seisinya, saya akan meninggalkan orang-orang yang saya sayangi, saya akan berakhir sendirian, dan kesepian.

Saya lupa pada hakikatnya memang kita diciptakan dengan kesendirian, lahir, hidup, dan mati sendiri, dan mereka yang hadir hanya terjebak dalam tempat, waktu, dan memori yang sama dengan saya, namun dengan kepentingan pribadi, menjadikan mereka rupakan bagian dari hidup saya, secara tidak langsung.

Apa yang harus saya takutkan dari kematian? apa saya takut disiksa, atas dosa yang saya lakukan selama saya hidup?
Saya takut disiksa.
Saya bukan hanya takut mati, saya juga takut disiksa.
Kata semua orang yang mengajari saya tentang kematian adalah bayangan mengerikan tentang suatu penyiksaan atas hal buruk yang kita lakukan sekecil apapun.

Jelas saya berpikir, untuk tidak takut disiksa, saya harus melakukan kebaikan, dan menjalankan apa yang saya yakini.
Namun, tetap saja, saya takut mati.
Saya orang yang ingin mati, namun takut mati.

Dan hari itu, melalui Putih...
Saya tidak takut lagi, mungkin masih ada rasa itu jauh dalam diri saya.
Saya meyakini kematian adalah proses yang menjadikan kita manusia sesungguhnya, yang hidup pasti akan mati.

Kematian menyempurnakan kita sebagai manusia.

"Akhirnya aku usai juga..."

Kelak usai semua ketakutan saya akan kematian. Saya akan hidup dalam kematian, saya akan mati dan tidak akan mati lagi.

Kelak saya menjadi abadi, dalam kematian. Saya akan hidup, dalam kematian.

Dan selama mati, apa yang akan saya kenang?
Akankah saya harus hidup abadi dengan memori mengerikan? Memori buruk yang saya lakukan?
Saya ingin selama mati, saya mengenang memori indah penuh kebaikan. Karena keburukan yang saya kenang, tidak akan bisa di remedial, sedangkan kebaikan yang saya kenang, akan teruslah menjadi indah.

Putih,
Mengubah saya.

Bertahun-tahun saya mendengarkan ceramah, nasihat, atau bahkan lagu religi, saya hanya mendapatkan ketakutan.
Motivasi yang dilandasi oleh ketakutan.
Entah, justru saya malah terbiasa, sehingga tidak lagi takut, iya, saya takut, tapi motivasinya tidak masuk kedalam akal saya.

Saya merasakan keindahan dari kematian yang tidak perlu saya nantikan, karena nanti juga akan terjadi, semua hanya tentang tenggat waktu tiap orang berbeda-beda.

Dan sedikit-sedikit, saya ingin hidup dengan baik, agar memori yang akan saya kenang ketika mati kelak, adalah tentang kebaikan.

Namun satu harapan saya, tentang kehidupan setelah kematian.

Saya ingin berkumpul kembali dengan mereka yang telah mati lebih dulu.
Membayar waktu yang pernah terlewatkan bersamanya, karena kematian menjemput mereka lebih dulu. Sehingga semua akan impas.
Dan ketika dunia berakhir, saya masih bisa berkumpul dengan semua yang pernah hidup bersama saya, kemudian kami hidup bersama-sama salam kematian, mengenang memori yang pernah kita jalani di dunia.

Apakah definisi kesendirian dalam hidup, akan berlaku juga dalam kehidupan setelah kematian?
Saya harap tidak.

Terima kasih, Allah Subhanahu Wa Ta'ala..
Sudah menciptakan saya, menciptakan umat manusia lainnya, menciptakan Cholil, menghendaki terciptanya Efek Rumah Kaca, menghendaki terciptanya Putih.

Saya akan menjalani hidup saya dengan lebih tenang, lebih baik, hingga kematian akan datang tanpa saya nanti. Saya harap saya mati dengan baik, dan hidup dalam kematian mengenang kebaikan.

Aamiinn..

Share on:

Jelaga, ceria, aurora, mega, kelabu, biru.
Kau ajari aku.

Terbata aku mengeja
Bagaimana kau tuntun aku membaca
"Ini adalah warna..
... Dan sedikit ku bumbui dengan rasa."

Satu hari kau datang bersama langit kelabu
Kita membisu
Aku sibuk membacamu
Kau sibuk membacaku

Mulai aku rekam visual tentang dirimu
Mataku menelanjangi tubuh mu
Ah, haruskah aku namai kamu candu?
Zat adiktif kah yang kau pakai itu?

Yang aku lakukan hanya bunuh diri
Semakin dekat semakin mati
Semakin lama semakin tersakiti
Aku rindu (lagi) sendiri.

Masih jelas terasa bagaimana detak jantungmu bernyanyi
Hentakannnya buat aku hidup lagi
Namun sejak saat itu, aku hidup bukan dengan jantungku sendiri
Aku lupa diri.

Karena semakin kencang genggaman mu
Semakin menyelinap keluar, dari sela jemarimu
Kau genggam apa yang bukan milikmu
Kau hidup dalam semu.

Aku mengalah
Manusia hidup makan salah
Minum dengan ego tak terarah
Aku kenyang, ingin muntah.

Dan sewaktu-waktu
Kau sendiri akan ziarah makam mu
Berduka atas kematian mu
Kemudian tertawa karna jadikan semu, seolah nyata untuk mu.

Nyata

Sampai sampai

Aku lupa

Bahwa

Harus alam sadarku

Yang pilih bahagiaku

Agar sewaktu waktu

Aku tidak mati

Dalam kenyataan yang kurancang sendiri

Dengan halusinasi.

Share on:
  • ← Previous post
  • INSTAGRAM : PETUNIAINTAN.
  • Perangkai kata, dibalik lensa.
140x140

INTAN CHARISMA

penjagalaxy

Cari Aku!

Instagram: Petuniantan
Instagram Portfolio: jepretanintan & Photolicious.Jakarta

facebook.com/pettuniaintan

Twitter: IntnKD

Lineid: Intnkd

Snapchat: Pettuniantan

Path: IntanKharisma

Mail: pettuniaintan@yahoo.com
pettuniaintan@gmail.com


Facebook Twitter Gplus RSS
latest posts
latest comments

Search

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  November (1)
      • Sudut yang Temaram
  • ►  2024 (3)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2016 (27)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (9)

Popular Posts

  • Sudut yang Temaram
    Sudut gelap kamar itu adalah aku Yang panjang menjuntai kedepan, dan lebar kebelakang, ia ada ditengah, berdebu tebal, bersiku kokoh namun t...
  • Raya Ketiga Tanpa Mama
    Saya berdiri lagi, sendiri, menepi. Sebentar lagi raya ketiga, tanpa Mama. Hari ini mendung disertai hujan, saya lihat sekeliling, merasa ad...
  • Mas Nguber
    Kadang suka ngerasa gak sih, kita persiapin sesuatu, tapi kita suka lupa justru waktu yg kebuang buat persiapan bikin kita jadi keteteran? ...
  • Memo Kematian Diri
    Jelaga, ceria, aurora, mega, kelabu, biru. Kau ajari aku. Terbata aku mengeja Bagaimana kau tuntun aku membaca "Ini adalah warna.. ...
  • Pembunuh Senin
    Ini cerita tentang wanita yang ingin membunuh senin. Aku tau betul wajahnya yang selalu terlihat muram. Ia berkata ia juga tau betul banya...
  • Ber
    September Oktober November Desember Ber. Belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, mereka menandai bulan-bulan Ber, dengan langit teduh, ...
  • 24 Mei 2023
    Saya merasa saat orang lain dengan sadar dan sengaja menyakiti saya, umumnya mereka enggan mengucap maaf yang tulus. Tiada gestur menyesal, ...
  • Tentang Kampus Tercinta
    Kampus Tercinta. Kampus kecil di Jakarta Selatan tepatnya di Lenteng Agung. Gue mulai kisah awal gue disini. Tepat September 2014 gue mula...
  • Besok Punyaku
    Matahari pagi membawa lagi namamu Tak ada air mata keluar, lambat laun kenyataan telah menyadarkanku, sesungguhnya hingga hari ini aku dapa...

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku
Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style. This is a super clean and elegant WordPress theme for every bloggers. Theme is perfect for sharing all sorts of media online. Photos, videos, quotes, links... etc.

Facebook Twitter Flickr Linkedin Gplus Youtube

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

  • Home
Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates