Saya merasa saat orang lain dengan sadar dan sengaja menyakiti saya, umumnya mereka enggan mengucap maaf yang tulus.
Tiada gestur menyesal, tiada kata baik untuk menenangkan.
Apakah se sepele itu kehadiran saya untuk mereka?
Betahun lamanya semua menumpuk, lukanya masih ada.
Masih sama, masih basah.
Dada saya sering terasa sesak mengingatnya.
Hari ke hari, luka baru terus berdatangan.
Apakah lambat laun saya akan melupakan diri saya bila ini terus terjadi?
Situasi menjadi berubah, dimana saya merasa saya hanya diam dan mereka jahati, lalu menjadi saya yang mencari apa salah saya, dan apa memang saya pantas menerimanya?
Saya ingin meledak, saya mau marah.
Rasanya ingin mencabik semua kulit, mencopot semua rambut, mematahkan semua kuku.
Wajah mereka yang menyakiti selalu datang lagi dan lagi?
Apa sepenting itu sebuah maaf dan penyesalan untuk diri saya, hingga saya menjadi seperti ini?
Bahkan saya tersiksa hidup dalam dendam, membawa dendam itu kepada orang yang sudah mati, apa yang saya bisa harapkan? Toh dia juga sudah mati.
Namun sosoknya datang lagi dan lagi menghantui saya seolah semua baru terjadi kemarin.
Ditambah kali ini, yang masih hidup, namun bisa terus menjalankan hidup dengan terus menyakiti saya, sebaik apapun saya memperlakukan dia, selalu ada celah untuk membuat saya teriris perih.
Apakah saya harus hidup sepeti ini?
Seperti kejar bayangan sendiri.
Takut setiap saat, resah, kecewa, dan marah.
Saya lelah..
Dapatkah saya menikmati sisa hidup selayaknya manusia?
Saya lelah..
Sangat lelah..
Rasanya ingin pergi saja.
Yang jauh,
Sangat jauh
Sampai tidak ada yang bisa nemukan saya.
0 komentar