Bagaimana ya rasanya dicintai?
Sampai-sampai lupa, nyaris mati rasa.
Saya mungkin bukanlah mereka yang beruntung, dapat memamerkan bahwa ada 1 manusia yang menghargainya sedemikian rupa.
Mencintai, untuk pasangan saya mungkin adalah suatu penghinaan tersendiri, baginya sama saja membuat harga diri jadi rendah, pandangnya seperti hidup dijajah dan tiada kebahagiaan, itu hanyalah kegiatan buang tenaga belaka.
Saya mungkin juga bukan orang yang akan menginjak mereka yang mencintai saya dengan tulus, saya akan menghargai setiap dan apapun yang ia berikan, namun tetap saja, dengan apa saya bisa meyakinkan dia yang padahal dulu juga pernah segitunya mencintai saya.
Baginya pernikahan membuat semua rasa itu pantas berakhir, saya bukan lagi manusia yang berhak menerima segala bentuk manis itu, sekecil apapun, saya mungkin hanyalah satu, dari banyak kesialan dalam hidupnya, karna harus berbagi hidup dengan saya.
Namun ditengah itu, dia mencari rasa itu sendiri, rasa yang saya rindukan, yang selalu saya inginkan, namun bukan dicari dalam diri saya, melainkan orang lain, atau hal lain yang menurutnya lebih pantas.
Saya seperti mengais ngais perhatian yang sesungguhnya berhak saya dapatkan.
Hingga saya mencari pada orang lain, atau mencoba menghidupkan kenangan masalalu, namun setelah saya sadar, saya hanya butuh itu, dari orang yang saya anggap suami -- namun ia enggan berbaginya dengan saya.
Kini saya hidup seperti biasa, jauh dari kata cinta, mencoba menjadikan pemikiran suami, bahwa memang itulah yang pantas saya dapatkan.
Mungkin karna hidup terlalu pahit sekarang?
Kita butuh pemanis, meski itu hanya buatan?
Entah.
Yang pasti inilah hidup saya sekarang.
Tanpa cinta, tapi akan selalu mencoba baik-baik saja.
0 komentar