Matahari pagi membawa lagi namamu
Tak ada air mata keluar, lambat laun kenyataan telah menyadarkanku, sesungguhnya hingga hari ini aku dapat berdiri tanpamu, meski angin sempat menggoyahkanku atas kepercayaan diri ini, aku masih tetap bernafas dengan jutaan namamu dalam sel otak ku, tak lantas membuat aku mati sesenggukan.
Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar, sembari mengulang ingatan tentang apa yang selama ini aku lalui, bagaimana aku melepas hal yang tak lagi menjadi milikku, bagaimana aku merelakannya, bagaimana aku mengikhlaskan suatu kenangan yang memang hanya untuk dikenang, bukan dimiliki lagi, karna satu-satunya hal yang kita miliki, adalah hari ini, sedangkan besok, adalah harapan.
Dan hari ini, bersama matahari, aku berharap esok aku bisa hidup tenang tanpa lagi menangisi kepergian orang yang memang tak ingin berjalan bersamaku, tak ingin memegang kembali tanganku, dan membuat seolah dimulai atau diakhiri itu adalah haknya, dan aku tak punya hak itu sama sekali.
Ini adalah saatnya aku mengambil hak milikku, otak dan pikiran yang seharusnya menjadi sepenuhnya milikku, yang sejak sebulan ini kamu bajak sesukamu.
Aku menaruh harapan, agar esok, aku dapat mencintai diriku sendiri, dan menghargai orang yang mencintaiku, tidak seperti kamu.
Memang munafik adanya aku menulis ini, tak bisa kupungkiri jika memang benar adanya aku masih teringatkan kenangan itu, namun, biarlah tulisan ini menjadi saksi bahwa aku punya niat untuk merdeka lagi.
Hari esok sepenuhnya akan menjadi milikku lagi, aku akan menatanya dengan baik, sebaik-baik keputusanmu untuk melangkah pergi, sebaik-baik keputusanmu menarikku, kemudian menyingkirkanku.
Aku selalu ingat bagaimana orang yang telah menghabiskan beberapa kalender bersamaku, membuat penuh warna didalamnya, dan aku bisa mengikhlaskan dirinya, atas nama hakikat cinta, aku ingin orang yang aku cinta bahagia, dengan atau tanpa aku.
Dan aku akan melakukan hal yang sama, dengan kamu yang kuhabiskan waktu hitungan jari, aku yakin bisa melewatinya, jadi sebenarnya yang aku butuhkan bukan kamu yang melangkah pergi, tapi waktu yang merangkulku agar terus melalui semua ini.
Dan waktuku tak akan pernah membawa kamu kembali. Bagaimanapun aku menagisinya, ia tak akan membawamu kesini.
Aku berharap, esok aku temukan kembali senyumku, senyum yang tak ingin kau lihat, senyumku yang tak kau perjuangkan. Namun aku akan berjuang untuk itu.
Kamu percaya aku bisa, iya, aku bisa. Tanpa kau percayai, aku memang pasti bisa.
Terimakasih atas pembuangan waktumu denganku, aku pikir, kamu salah memilih 'rest area', kamu salah memilih tempat singgah. Juga terimakasih atas pelajaran yang begitu berharga, tentang seorang lelaki yang tak pernah memikirkan keputusannya, selama itu hanya menyangkut diri dan kesenangannya sendiri, tanpa memikirkan orang yang terlihat didalamnya.
Dan maaf, ternyata aku mematahkan harapanmu tentang aku, aku yang ternyata tidak sanggup mengikuti alurmu, sesungguhnya kamu hanya menyeretku, bukan mengajakku perlahan, tanpa aku bisa melihat sekelilingku, tanpa sempat aku melihat diriku sendiri, dan kau buat aku hanya melihat kamu dalam seretan di genggaman tanganmu.
Berbahagialah kamu, atas dirimu yang hanya melihat dirimu saja. Berbahagialah, semoga suatu saat nanti Tuhan membuka matamu, dan membuat kamu melihat sekelilingmu..
Aku masih rindu, tapi semoga besok rinduku terobati dengan hal lain yang lebih menghargai perasaan rinduku.
Besok akan menjadi milikku,
Sepenuhnya akan menjadi milikku.
0 komentar