Aku sedang berada di ujung lagi, sekali lagi Tuhan memang Maha pembalik hati manusia. Tuhan Maha adil, Dia tak ingin aku terlalu melayang, maka kali ini aku dihempaskan olehnya, melalui seseorang yang dengan susah payah aku bangun kepercayaan untuknya, hingga aku sangat menyayanginya.
Aku bingung, siapa yang salah disini.
Aku yang terlalu perasa atau kamu yang terlalu gegabah.
Disatu sisi aku menunjukan kekuranganku yang ternyata tak bisa kamu toleransi, hingga akhirnya perubahan demi perubahan terjadi hingga kamu memutuskan tidak melanjutkannya denganku.
Haruskah aku menyalahkan diri atas kebodohan yang kuperbuat, atas diriku yang sebenarnya dan kamu tak bisa terima..
Namun sesungguhnya, sungguh sungguh aku sudah bulatkan tekad, aku memang mau berubah untuk kamu, menjadi wanita yang lebih baik untuk kamu.
Ini baru 1, dari 1000 hitamnya diriku, dan meski aku sedang berusaha berubah, kamu tak menerima, lantas bagaimana dengan 999 hitam lainnya? Sedangkan aku sudah terlanjur menyayangi kamu.
Pikiranku sibuk menerjemahkan apa yang kamu maksud, apa yang kamu mau, dan hanya akan berujung pada, sesungguhnya kamu hanya membuangku perlahan, tapi pasti.
Dan aku menyesali kebodohanku, untuk menyayangi kamu sepenuhnya, seperti yang aku bilang, kamu seperti orang yang memang sudah lama aku cari, namun kini aku tersiksa atas diriku yang terlalu perasa dan terbawa suasana, ini barulah hitungan hari, bisa dihitung dengan jari-jari tubuh, namun kebodohan ini membuat seolah aku sudah menghabiskan beberapa kalender bersama mu.
Terlebih kenyataan menyakitkan lainnya, bahwa kamu tidak menyayangiku, seperti yang ada dipikiranku, kamu hanya turut terbawa suasana dan hanya menyayangi diri kamu sendiri.
Kamu bilang, kenangan telah membuatmu menghargai hari-hari kedepan, dan kepercayaanmu bahwa kamu akan dapat yang lebih baik dari sebelumnya, maka itulah pedomanku, pedomanku untuk mencintaimu, aku ingin jadi yang lebih baik untuk kamu, menjadi orang yang memang benar bisa membuat kamu nyaman, seperti katamu, kenyamanan adalah nomer satu.
Aku ingin menjadi salah satu semangatmu, seperti katamu, kamu selalu semangat kerja karna kamu berpikir dan membayangkan ada yang menunggu kamu dirumah, yaitu aku. Maka aku akan mengalahkan segala rasa egoku untuk memilikimu sepenuhnya, dan memberikan dorongan sebisaku, agar kamu selalu merasakan semangat itu, aku selalu menunggu kamu pulang, meskipun tak banyak kalimat yang aku dapat, tapi aku merasa itu semua berharga untukku, dan terlebih lambat laun kamu mulai menjauhiku karna berasumsi salah terhadapku, dan suara suara kamu di malam itu lambat laun menghilang.. Kamu lebih suka hidup tanpa aku...
Ataukah perilaku ku yang hanya sekedar ingin merealisasikan keinginanmu, membuat kamu jengah? Aku hanya berusaha yang terbaik, dan ingin menciptakan moment berharga di masa awal hubungan sebelum banyak masalah masuk.
Namun hanya dengan 1 masalah kamu semudah itu menilaiku dengan rendah..
Aku merasa saat kemarin aku terjatuh, kamu membangunkan ku, namun kamu mendorong aku lagi.
Aku merasa aku hanyalah pariwara dalam hidupmu, dan bisa kau elak kapan saja.
Aku merasa aku tidak berarti untuk kamu, hingga kamu semudah itu melepas genggamanmu.
Lalu dari semua yang aku rasa, dan kamu perbuat, bagaimana cara aku bertahan melewati semua ini saat semua seolah "tak sengaja" terjadi. Namun apa bisa aku menghilangkan perasaan ku dengan kata "tak sengaja"?
Malam ini banyak kata menyedihkan yang aku ucapkan didepanmu, seolah aku lemah.
Iya sesuai dengan katamu, wanita itu lemah, makanya butuh disayang. Namun aku mencoba kuat dengan sisa sisa harapan ku, sesungguhnya aku benci untuk menjadi lemah, meneteskan air mata depan kamu yang mencoba pergi, aku benci menunjukan kelemahanku, dan untuk pertama kalinya aku tunjukan depan kamu.
Aku hanya.... Lelah, aku baru saja berusaha keras membangun sebuah rumah nyaman untuk kamu, lalu kamu memutuskan pergi meninggalkannya.
Dan kamu menyuruhku untuk runtuhkan lagi rumah yang susah payah aku bangun.
Kamu bilang aku butuh waktu.
Aku hanya butuh kamu.
Kamu bilang aku bisa.
Aku tak bisa.
Kamu bilang aku kuat.
Aku hanya bisa jawab dengan air mataku.
Yang aku dan kamu lalui ini, singkat, tapi, dalam. Aku masih ingat pertama kali bertemu kamu bisa menerima kekuranganku dari masalaluku, namun setelah kita berhubungan, kamu menilaiku begitu rendah.
Aku hanya butuh kesempatan untuk berpikir lagi, sembari aku berusaha untuk bisa terbiasa tanpamu perlahan-lahan. Hingga entah kapan.
Namun biarlah,
Aku hanya ingin kamu saat ini
Aku hanya ingin kamu.
0 komentar