September
Oktober
November
Desember
Ber.
Belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, mereka menandai bulan-bulan Ber, dengan langit teduh, dingin, dan basah.
Musim yang mereka terka dengan kata Ber.
Selimut rapih diujung kasur, jaket dan mantel tidak lagi dalam almari, mereka tergantung rapih di sangkutan paku belakang pintu.
Ber.
Belasan bahkan puluhan tahun dari waktu itu, saat ini, tak ada lagi patokan musim.
Bisa saja cerah.
Bisa saja teduh.
Bisa saja dingin menusuk.
Atau panas merasuk.
Air yang mengalir di dahi, bisa jadi adalah rintik hujan, atau keringat.
Masa membawanya berubah.
Kini.
Ber.
Bulan-bulan ini, dengan musim macam-macam.
Pancaroba, malaria, mangga, dan rindu dia.
Masa, telah merubah.
Apa yang biasanya statis, dapat berubah drastis.
Apa yang biasanya bahagia tertawa, dapat berubah sedih kecewa.
Empat Ber telah dilalui, dalam bulan dihitung tiga.
Baru kuhitung bulan yang terlalui, sekejap kau hentikan dengan tega.
Mungkin akulah yang masih berpikiran seperti orang jaman dulu, Ber akan tetap, dan selalu sama.
Hingga realita, meneriakiku, apa saja bisa berubah di dunia.
Ber.
Untuk berhenti.
Ber.
Untuk rasa, yang mati.
Ber.
Untuk rindu, yang tak berarti.
0 komentar