Diberdayakan oleh Blogger.

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

CATEGORY >

Senin di Pagi Agustus, Tanggal 1 tahun 2016.
Kalibata, Jakarta Selatan.
Pukul, 01.00
Malam ini aku tidur berdua dengan juniorku dikampus, dan di sebuah UKM Fotografi Kaphac 32, Ajeng namanya. Karna rumahnya jauh di Citayam, maka ia menginap malam ini, kami menghabiskan malam dengan mengobrol, tapi perbincangan malam ini seperti bukan sebuah perbincangan senior dengan junior, namun sebagai seorang sahabat.
Setelah bongkar ulang packingan beberapa kali sambil asyik mengobrol, akhirnya packing selesai, dan kami tidak langsung tidur. Entah karna mungkin terlalu bahagia, penasaran atau apa, yang pasti mata ini lelah namun tak ada rasa mengantuk.
Kami beragi cerita apa saja. Termasuk tebak-tebakan kami tentang tempat yang akan kami kunjungi selama 5 hari kedepan, Baduy.


“Kak, kayaknya kita telat..”
Seketika mataku langsung terbuka selebar-lebarnya, termasuk kaget karna cahaya matahari sudah begitu terang dari jendela. Ku ambil handphone sudah ­­­menunjukkan pukul 06.30 kulihat banyak pesan di handphone ku, dari Jody, teman yang juga akan berangkat bersama ku pagi itu. Namun panik tak terelakkan, aku langsung lari ke kamar mandi, dan lansung mandi sekilat mungkin.
Setalah memesan ojek online kamipun lanjut bersiap-siap. Dan hanya kepanikan yang ada di wajah kami, teringat kereta kami akan berangkat pukul 08.00.
Susudah bersiap, ojek online yang akan mengantar kami, telah sampai di depan rumah, dan kami langsung bergegas berangkat dengan membawa tas carrier masing-masing.
Ditengah jalan di daerah Kuningan, aku sempat panik lagi karna polisi memberhentikan motor yang aku tumpangi. Polisi itu menyuruh kami berhenti di tengah jalan, dan ternyata dia hanya bertanya tentang barang bawaanku, “itu apa ya?” lalu dengan sewot aku dan driver ojek menjawab “ini tas carrier pak!” lalu dia hanya menjawab “ooh yaudah sana lanjut lagi”. Rasanya bila ada kesempatan, ingin aku tabrak saja polisi itu.
Sampai di daerah Karet Bivak, motor yang aku tumpangi oleng, bannya pecah, robek terkena paku beton yang entah dari mana asalnya. Aku tambah panik, driver ojekpun bilang ia akan segera mencari tukang tambal ban. Namun aku memikirkan berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menunggunya, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 07.30.
Akhirnya aku meminta jalan duluan ke driver itu, sesegera mungkin aku pesan ojek lagi namun tak ada yang mau mengambil orderanku, karena jam sibuk di pagi hari,, dan aku berada di derah erkantoran. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu taksi dan 10 menit kemudian akhirnya aku mendapatkan taksi.


Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Pukul 07.45
Akhirnya aku sampai di stasiun dengan meminta sang supir taksi mengebut, 5 menit saja aku sudah sampai, kulihat ke 10 rekan yang akan berangkat bersamaku telah menungguku, dan Ajeng sudah sampai duluan. 3 menit setelah aku sampai, kami berangkat menuju peron kereta Rangkas Jaya. Namun ketar-ketir kembali terulang, karna masih ada 2 teman kami belum datang, sedangkan kami sudah berada di dalam kereta. 2 menit sebelum kereta berangkat salah satu teman kami Alfian yang akrab dipanggil Jancuk, datang. Kami bernafas lega sekaligus berat juga karna dengan terpaksa kami meninggalkan salah seorang teman kami, yang seangkatan denganku, Surya, karna dia tidak ada kabar.

Pukul 08.00
Kereta berangkat, dari Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung.
Kini jumlah kami menjadi ber 11. Dengan 2 orang senior, yaitu bang Lito dari angkatan 1, dan bang Evan dari angkatan 9. 4 orang dari angkatan 18, aku, Jody, Jancuk, Fikhri yang akrab dipanggil Ote. 4 orang lagi dari angkatan 19, Ajeng, Izzat, Edi, dan Agung yang akrab disapa Gaung. Tidak lupa juga seorang Guide kami sekaligus fotografer, bertahun-tahun sudah ia mempelajari suku Baduy, kampung halaman kedua katanya, namanya bang Bagol.
Canda tawa di kereta pun tak terelakkan, saling mengejek satu sama lain, dan 30 menit kemudian semua sudah terlelap di bangkunya masing-masing.
Rangkas
Pukul 09.30
Kami tiba di stasiun Rangkas Bitung, dan langsung menuju tempat dimana elf akan menjemput kami, sembari menunggu kamipun menyantap sarapan di sekitar sana, dan seusainya kami langsung melakukan pembagian untuk 2 kelompok yang akan menyisir 2 jalur berbeda, agar kami lebih bisa mengeksplore keseluruhan budaya disana, juga agar frame yang akan kami bidik, bervariasi.
Kelompok 1, ada bang Lito, Jody, Jancuk, Edi, dan Ote, ditambah seorang guide orang asli Kanekes, bernama kang Herman.
Kelompok 2, ada bang Evan, aku, Ajeng, Izzat, Gaung, dan bang Bagol.
Kamipun berpisah dan berangkat dengan elf masing-masing kelompok. Kelompok 1 akan menempuh perjalanan selama 1,5 jam menuju Ciboleger, dan kelompok 2 akan menempuh perjalanan selama 2,5 jam menuju Cijahe. Dan kedua kelompok ini akan bertemu di akhir hari ke 3.

Pukul 13.40
Kami sampai di Cijahe, terlihat beberapa orang dari suku Kanekes atau lebih dikenal dengan suku Baduy, mereka berpakaian berwarna putih hitam berikat kepala putih yang artinya suci, yang menandakan mereka orang Baduy Dalam, dan terlihat beberapa belas orang dari rombongan yang akan menjelajahi Baduy Dalam.
Disini kami juga menemui porter yang akan turut menemani kami hingga akhir perjalanan, seorang anak kecil yang kuat dan tangguh, Jamir, bersama dengan ayahnya, kang Suherman, dan uwaknya.
Dan perjalanan kamipun dimulai, 20 menit kemudian kami pun sampai di kampung pertama


Kampung Cibungur
Pukul 14.00
Kokolotan dalam pemerintahan orang Baduy adalah pemerintahan terbawah, kokolotan adalah seorang yang dituakan di kampung, bila di wilayah biasa mungkin Kokolotan akan setara dengan seorang ketua RT, di rumah kokolotan inilah, kami akan menginap selama 1 malam.
Dan disini kami banyak bertemu dengan orang-orang yang memakai baju berwarna hitam-hitam, berikat kepala batik berwarna biru, sedangkan yang perempuan memakai baju hitam dan rok batik berwarna biru. Ini menandakan mereka adalah orang Baduy Luar. Namun seiring perkembangan zaman, di kampung-kampung Baduy luar, juga bisa didapati orang-orang yang sudah memakai pakaian modern seperti kaos dan celana jeans.
Sore hari di Kampung Cibungur kami habiskan dengan memotret kegiatan warga disana juga mengunjungi Kali Cibungur, sambil menyaksikan anak-anak kecil sedang mandi dan berenang beramai-ramai dengan teman-temannya.
Malam tiba dan kami harus membiasakan diri untuk bermalam tanpa pencahayaan lampu, karna tidak adanya pasokan listrik. Sebuah lilin kecil pun menemani kami bersantap malam
Seusai santap malam, kami tak tau harus melakukan apa, karna signal handphone sudah mulai hilang-hilangan, sebagian memilih tidur, namun aku dan Ajeng memilih mengobrol saja.
Dan ini lah hal yang membuat aku takjub dengan masyarakat suku Baduy, menolak pasokan tenaga Listrik untuk pencahayaan agar dapat tetap melihat keindahan langit malam yang benar-benar memukau, kalau di Jakarta mungkin langit seperti itu hanya ada di studio pertunjukan Planetarium saja. Tapi disana kita bisa melihatnya dengan mata telanjang. Tapi karna dingin malam yang begitu menusuk, aku memilih untuk berada di dalam rumah.
Sejujurnya perlu adaptasi yang cukup lama agar aku tahan terhadap udara dingin malam, ini menyebabkan aku sulit tidur, bahkan hingga hari-hari berikutnya. Jadi jika memang kalian yang tidak kuat dingin seperti aku, lebih baik kalian siap sedia membawa sleeping bag dan sebagainya agar dapat tidur nyenyak.


Selasa di Pagi Agustus, Tanggal 2 tahun 2016.
Baduy Luar – Baduy Dalam – Baduy Luar
Pukul 05.30
Kami semua sudah dibangunkan oleh bang Evan, kami akan berburu foto kabut dari atas pemukiman warga, dan benar saja, kabut begitu banyak masih menyelimuti kampung, bahkan nafas kami juga mengeluarkan asap.
Pukul 10.30
Usai sarapan dan berbenah kami melanjutkan perjalanan kami menuju Cibeo disanalah tempatnya warga Baduy Dalam. Tas dan barang bawaan kami yang berat pun beralih ke tangan para porter yang orang Baduy Dalam asli, dalam satu pikulan, satu porter kuat membawa 5 buah tas, yang dapat aku pastikan, pasti beratnya setara dengan 2 karung beras besar.
Namun tidak ada pilihan lain, karna sebagian dari kami juga belum terbiasa membawa barang bawaan yang berat, termasuk aku. Dan tujuan utama kami kesini adalah untuk memotret, agar kami bisa lebih fokus memotret maka kami memakai jasa porter, dan kami berjalan hanya membawa tas kamera yang berisikan lensa dan lain sebagainya.
Track yang kami lalui dari Cibungur menuju Cibeo tidaklah mudah, dan untuk orang yang berberat badan lumayan besar seperti aku, jadi sering istirahat kelelahan lantaran tidak bisa bernafas, belum lagi, aku pernah terkena asma. Jalur yang kami lewati ini, hampir setara dengan naik gunung, tanjakan dan turunan yang lumayan curam dan kontur tanah yang tidak rata juga menyulitkan perjalanan, hingga aku memutuskan untuk mencari kayu agar bisa jadi penopang dan membantuku berjalan, namun ku lihat, porter-porter ku ini sungguh tangguh, berjalan tanpa alas kaki, di track seperti ini, matahari pun begitu menyengat diatas kepala kami, belum lagi beban panggulan di bahu mereka, namun mereka masih lebih kuat berjalan daripada kami semua.


Baduy Dalam
Kampung Cibeo
Pukul 13.00
Maklumi saja bila tak ada dokumentasi di bagian ini, sebab kami mematuhi aturan adat yang melarang kami untuk memotret disini. Baduy Dalam masih benar-benar asri, terisolasi dari kemajuan teknologi, namun masih tetap teguh memegang prinsip-prinsip dan aturan dari para leluhur, semua untuk kebaikan bersama, dan untuk menjaga alam. Mungkin bagi para turis atau pendatang, sulit hidup seperti itu di era yang serba canggih, namun bukan kesulitan bagi mereka, Baduy Dalam, untuk meneguhkan prinsip tersebut, mereka masih bisa tetap berdiri, mandiri berpangku pada alam, dan menjaganya sebagaimana seharusnya manusia menjaga rumah mereka, yaitu alam yang ada di Bumi.
Degan, atau sebutan lain dari Kelapa muda, menyambut kami, sebagai pelepas dahaga, entahlah mungkin itu adalah kelapa-kelapa terbaik yang pernah aku coba, dan kami juga membeli bala-bala (sejenis gorengan bakwan) yang di jajakan oleh ibu-ibu disana.
Seusainya kami memilih untuk tidur sebentar untuk meluruskan lagi otot kaki yang lelah berjalan. Dan pukul 14.00 kami bangun untuk makan siang bersama.
Pukul 15.00 kami memutuskan untuk kembali berjalan menuju kampung Baduy Luar, kami tidak memutuskan untuk menginap di Cibeo lantaran disana kami tidak bisa memotret, karna kami ingin memotret langit di malamnya.
Perjalanan menuju Kampung Gajebo membutuhkan waktu selama kurang lebih 2,5 jam. Dan entah dapat tenaga darimana, aku kuat sekali berjalan sore itu, mungkin karna matahari tidak lagi menyengat seperti siang tadi, kini udara sudah lebih sejuk. Bahkan saking cepatnya aku berjalan, aku kuat mendului porter, dan ketika aku memutuskan untuk menunggu teman-temanku agar bisa jalan bersama lagi, aku menunggu hampir 30 menit. Entah apa yang membuatku dari barisan paling belakang, menjadi paling depan seperti itu, akupun masih bingung.


Kampung Cibungur
Pukul 17.30
Kami sampai di rumah yang akan kami singgahi malam ini, namun aku lupa, rumah siapa, yang jelas tuan rumahnya juga seorang kokolotan.
Usai makan malam kami ngeteh dan ngopi terlebih dahulu, setelah itu, pukul 20.30 kami mulai perburuan langit malam kami, ‘jalur susu’ kata bang Bagol.
Yap, Milky Way, Bima Sakti, galaksi favorit warga Bumi.
Tidak perlu alat yang canggih, akupun hanya menggunakan lensa di fl 18mm tanpa filter, dapat membidik Bima Sakti, mungkin akan lebih ‘oke’ dengan lensa wide dan kamera yang noise reductionnya bagus.
Dengan sekitar 30” detik, bukaan terbesar, iso tertinggi, Bima Sakti sudah bisa diabadikan, untuk mencari fokus, tinggal matikan mode auto pada lensa ke manual, lalu putar pada infinity, kemudian tinggal kita gonta-ganti saja White Balance nya, menyesuaikan warna apa yang kita suka.
Usai berburu foto si primadona langit, lukisan Tuhan yang indah, Bima Sakti. Kami memutuskan untuk kembali tidur, dan aku lagi-lagi mengalami susah tidur karna terlalu dingin, hingga aku harus beberapa kali terbangun.
Pagi menjelang, dan bang Evan kembali mengajak kami untuk mengejar kabut di kampung itu, namun karna aku juga kurang tidur, maka aku putuskan untuk tetap tidur karna mata ini tak kuat untuk bangun, jadilah aku, Ajeng, dan Izzat tidak ikut.


Rabu bersama matahari Agustus, Tanggal 3 tahun 2016.
Pukul 11.00
Kami memulai kembali perjalanan kami menuju Kampung Gajebo, di kampung inilah, sore nanti kami akan bertemu dengan teman-teman kami yang berada di jalur 1.

Pukul 14.00
Kami tiba di Kampung yang lumayan tinggi datarannya, disana kami bersinggah untuk makan siang, sayangnya aku lupa nama kampung itu, kami kembali singgah di rumah seorang kokolotan yang rumahnya juga menjadi sebuah warung.


Kampung Gajebo
Pukul 14.40
Kami sampai di Kampung Gajebo, namun teman-teman dari jalur 1 belum tiba. Maka kami memutuskan untuk kembali memotret, seusainya kami istirahat, akku dan Ajeng memilih untuk berenang dan main air di kali Ciujung, yang airnya paling jernih diantara kali yang kami kunjungi dari kemarin.

Pukul 16.00
Teman-teman dari jalur 1 sampai, kami melepas lelah bersama dengan mengobrol di bebatuan pinggir kali, dari cerita mereka yang lebih banyak berjalan, aku bersyukur mendapatkan jalur 2 yang tracknya tidak sesulit mereka, bahkan bang Lito, sampai kakinya lecet juga sepatunya jebol. Tak terbayang bagaimana bila aku yang berada di jalur 1, di jalur 2 saja aku sudah mati-matian.
Pukul 19.00
Usai makan malam, kami yang tadinya berniat mau motret langit lagi, jadi tertunda karna memang langit sejak sore sudah mendung, tidak banyak bintang yang bermunculan, akhirnya kami menghabiskan malam dengan ngopi dan ngeteh bersama sambil mengobrol, berbagi cerita suka-duka selama perjalanan, karna ini adalah malam terakhir kami di Baduy, lusa pagi buta kami sudah harus melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Pukul 05.30
Kami membagi 2 team untuk menyisir kampung Gajebo, aku, Ajeng, bang Lito akan memotret di jembatan dekat lumbung padi, sisanya akan jalan menanjak keatas untuk mendapkan lansdcape dengan kabut

Kamis di siang Agustus, Tanggal 4 tahun 2016.
Kampung Kaduketug
Pukul 12.00
Dengan melalui track yang lumayan banyak tanjakan, akhirnya dengan berjalan kami naik-turun, kami tiba di Kampung Kaduketug dengan memakan waktu sekitar 1,5 jam, agak lama karna di jalan juga kami sambil motret, juga banyak istirahat.
Kami singgah di rumah salah satu porter dari jalur 1, kang Herman namanya. Kang Herman juga merupakan warga baru di kampung Kaduketug, ia tadinya orang Baduy Dalam, namun karna melanggar beberapa aturan adat, dia dipindah ke Baduy Luar bersama dengan istri dan kedua anaknya, sedangkan masih ada 1 anaknya lagi yang masih ada di Baduy Dalam, tinggal dengan salah satu sanak saudara disana. Menurutnya, masih lebih mudah hidup di Baduy Dalam etimbang Baduy Luar, karna dari mulai persediaan pasokan pangan hingga air, di Baduy Dalam lebih berlimpah, mungkin itulah yang menjadi alasan baginya untuk membiarkan salah satu anaknya tetap berada disana.

Usai makan siang, kami semua istirahat sambil berbincang bersama di depan rumah, sorenya aku keliling kampung sendirian untuk mencari moment yang menarik sembari beli beberapa oleh-oleh.
Oleh-oleh khas Baduy ada lumayan banyak rupanya, ada batik Sunda berwarna biru yang biasa digunakan orang Baduy Luar, ada madu hutan asli, ada gelang-gelangan, gantungan kunci, pernak-pernik lainnya, dan yang paling menarik adalah kain tenunnya, kain tenun di Baduy sangat menarik karna warnanya yang cerah dan motifnya yang menarik, tidak terlalu ramai, justru ke simple-an itulah yang membuat menarik. Kain tenun Baduy biasa dibuat untuk kain rok, selendang atau syal, ataupun ikat kepala. Harga oleh-oleh disini bervariasi, menurutku harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas barang yang dibeli.
Malam menjelang, seusai kami semua makan malam, sebagian dari kami memutuskan untuk berjalan-jalan, ada yang tidur, ada yang memotret langit, karna meskipun ini desa terluar, pemandangan langitnya masih sama seperti kampung-kampung lainnya.
Jangan kaget kalo di desa ini sudah mulai terkena arus modern, karna desa ini paling dekat dengan dunia luar, yaitu terminal Ciboleger, disini kita masih bisa menemui rumah yang ada listriknya dan menyediakan jasa charger, sekali charger 2000 rupiah, dan tak jauh, ada musholla juga toilet umum, dan jika mau jalan sedikit lebih jauh, kita masih bisa jajan di Minimarket terminal. Banyak rumah di kampung ini memakai tenaga matahari untuk listrik, oleh karnanya diatas rumah mereka terdapat beberapa solar panel.

Jumat bersama dingin malam Agustus, Tanggal 5 tahun 2016.


Ciboleger
Pukul 01.30
Usai berbincang malam, kami lekas packing kembali dan bersiap-siap kembali ke Jakarta, hanya 10 menit saja kami sudah sampai di terminal Ciboleger kemudian langsung naik elf menuju Stasiun Rangkas Bitung.
Anehnya ketika aku memandangi langit di Ciboleger, langitnya tidak secerah di Kaduketug tadi, padahal jaraknya tidaklah jauh, dan meski rumah di Ciboleger sudah memakai lampu, tapi kan jumlahnya tidaklah banyak, entahlah.

Rangkas Bitung
Pukul 02.30
Kami sampai di Stasiun KA Rangkas Bitung, karna kereta berangkat pukul 06.00 maka kami menunggu sambil tidur-tiduran di pinggiran stasiun, sebagian memilih menyantap nasi uduk disana.

KA Rangkas Jaya
06.00
Kami semua sudah berada di kereta lagi, ada perasaan sedih meninggalkan Baduy, yang awalnya ku kira 5 hari itu lama, namun sesungguhnya tidak terasa, aku butuh waktu lebih lama lagi untuk mengenal Baduy, dan aku memutuskan untuk suatu hari nanti, kembali kesana.


Tanah Abang
Pukul 07.30
Kaki kami kembali menginjakkan Jakarta, kami langsung disambut oleh ratusan orang lalu-lalang di stasiun untuk berangkat kerja.
Kelelahan sudah kembali mewarnai wajah kami, pikiran untuk kembali melanjutkan aktivitas di ibu kota, belum lagi, masih ada PR untuk kita semua, PR untuk merealisasikan Pameran Fotografi tentang Baduy.

Aku mengerti alasan mengapa Baduy menjadi salah satu suku pedalaman yang menarik untuk diteliti, bukan hanya oleh orang biasa sepertiku, namun juga oleh para peneliti yang sudah kesohor dibidangnya.
Masih banyak hal-hal misterius disana- dari mulai seluk beluk Baduy yang hingga kini belum bisa dipastikan, hingga tentang kepercayaan mereka terhadap roh-roh alam (animisme). Tidak percuma jika mereka menjaga Alam dan hasilnya adalah hanya kata-kata keindahan yang tiada berujung, untuk sanjungan terhadap alam yang mereka jaga.
Well, sampai jumpa lagi, Baduy!

Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • INSTAGRAM : PETUNIAINTAN.
  • Perangkai kata, dibalik lensa.
140x140

INTAN CHARISMA

penjagalaxy

Cari Aku!

Instagram: Petuniantan
Instagram Portfolio: jepretanintan & Photolicious.Jakarta

facebook.com/pettuniaintan

Twitter: IntnKD

Lineid: Intnkd

Snapchat: Pettuniantan

Path: IntanKharisma

Mail: pettuniaintan@yahoo.com
pettuniaintan@gmail.com


Facebook Twitter Gplus RSS
latest posts
latest comments

Search

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ▼  2016 (27)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (1)
      • Senin di Pagi Agustus, Tanggal 1 tahun 2016. Ka...
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (9)

Popular Posts

  • Sudut yang Temaram
    Sudut gelap kamar itu adalah aku Yang panjang menjuntai kedepan, dan lebar kebelakang, ia ada ditengah, berdebu tebal, bersiku kokoh namun t...
  • Raya Ketiga Tanpa Mama
    Saya berdiri lagi, sendiri, menepi. Sebentar lagi raya ketiga, tanpa Mama. Hari ini mendung disertai hujan, saya lihat sekeliling, merasa ad...
  • Mas Nguber
    Kadang suka ngerasa gak sih, kita persiapin sesuatu, tapi kita suka lupa justru waktu yg kebuang buat persiapan bikin kita jadi keteteran? ...
  • Memo Kematian Diri
    Jelaga, ceria, aurora, mega, kelabu, biru. Kau ajari aku. Terbata aku mengeja Bagaimana kau tuntun aku membaca "Ini adalah warna.. ...
  • Pembunuh Senin
    Ini cerita tentang wanita yang ingin membunuh senin. Aku tau betul wajahnya yang selalu terlihat muram. Ia berkata ia juga tau betul banya...
  • Ber
    September Oktober November Desember Ber. Belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, mereka menandai bulan-bulan Ber, dengan langit teduh, ...
  • 24 Mei 2023
    Saya merasa saat orang lain dengan sadar dan sengaja menyakiti saya, umumnya mereka enggan mengucap maaf yang tulus. Tiada gestur menyesal, ...
  • Tentang Kampus Tercinta
    Kampus Tercinta. Kampus kecil di Jakarta Selatan tepatnya di Lenteng Agung. Gue mulai kisah awal gue disini. Tepat September 2014 gue mula...
  • Besok Punyaku
    Matahari pagi membawa lagi namamu Tak ada air mata keluar, lambat laun kenyataan telah menyadarkanku, sesungguhnya hingga hari ini aku dapa...

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku
Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style. This is a super clean and elegant WordPress theme for every bloggers. Theme is perfect for sharing all sorts of media online. Photos, videos, quotes, links... etc.

Facebook Twitter Flickr Linkedin Gplus Youtube

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

  • Home
Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates