1 Januari
"Uang darimana? Ngejual sabu?"
Kata yang sangat indah diucapkan mama barusan, bahkan hal itu sama sekali tidak pernah saya lakukan, dan ia menyamaratakan saya dengan saudari jauh saya yang seluk beluknya sangat rumit bahkan kami tidak ada hubungan darah.
Di belakang saya menangis. Tidakkah mama mengerti bahwa tidak hanya orang tua saja yang bisa tersakiti omongan setajam itu?
Berat.
Inilah rasa yang selalu saya jalani rumah.
Terkucilkan.
Terbuang.
Teralihkan.
Saya hanyalah orang asing yang menumpang hidup dirumah. Menumpang hidup dan memberatkan mama saya.
Saya bukan nomor 1, apalagi 2, 3, 4.. Saya tidak terlabeli dirumah.
Dan perasaan-perasaan lainnya sebagai makhluk buangan yang lahir membawa bencana selalu mengutuk saya tiap harinya di tempat orang berkata "rumahku adalah istanaku"
Saya menangis dibalik pintu kamar, sesenggukan, ingin teriak, namun saya sadar ini rumah mama saya, bukan rumah saya.
Saya menahan jerit dalam hati, saya ingin mati, dan meratapi hidup yang sedari kecil, dan kian hari kian memburuk.
Kemudian saya ambil buku yasiin kecil, berfotokan wajah papa di cover-nya.
Saya berharap punya buku yasin sendiri, berfotokan wajah saya.
Bukan karna saya pengecut menghadapi dunia.
Saya sadar saya hanya membawa bencana untuk keluarga ini.
Saya ingin mereka bernafas lega tanpa hadirnya saya.
Sayapun tertidur diatas kasur lusuh tanpa sprei, mimpi indah saya, adalah tentang kematian, saya tidak bangun lagi dari tidur ini.
"tok tok tok"
Pintu kamar diketok oleh seseorang.
Saya terbangun.
"TOK TOK TOK"
Ketukan mengencang.
Saya tidak mau langsung membukanya.
Kelamaan jadi,
"BRAK BRAK BRAAAK!"
Mama saya histeris memanggil nama saya untuk segera keluar dari kamar, ya saya memang tidak tahu diri, mengunci pintu kamar, padahal ini rumah mama saya, bukan rumah saya.
Namun saya tak ada kuasa untuk melihat wajahnya.
Saya hanya minta satu kepada mama saya, ambil sebilah pisau, tusuk jantung saya.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Matikanlah makhluk pembawa sial yang ia lahirkan.
Saya sadar, saya bukan siapa-siapa lagi, tidak punya tempat lagi.
Saya ini bukan manusia baik-baik, saya kriminal, saya penjahat, saya tukang zinah.
Mama saya terkena kutukan memiliki anak seperti saya.
Namun, satu-satunya alasan saya hidup dan mati sesungguhnya adalah mama saya sendiri.
Hidup dan terlahir dari rahimnya, dan mati dipelukannya.
Namun izinkan saya berkata bahwa mama saya adalah darah untuk saya, segala yang mengaliri tubuh penuh dosa ini adalah bagian dari mama saya.
Saya ingin untuk sekali saja mama membela saya, berkata kepada orang-orang jahat itu "jangan sakiti anak saya, darah daging saya"
Namun tidak pentinglah keinginan saya, sekali lagi saya bukan siapa-siapa. Baik dirumah maupun di dunia.
Saya memutuskan untuk pergi dari rumah.
Saya bawa baju seadanya, dan berlari ketika mama saya sedang beribadah.
Ah..
Saya hanya terlalu percaya diri.
Kalaupun ia ada didepan rumah, mungkin ia akan bahagia melihat bebannya pergi.
Dalam langkah saya menjauh dari rumah, saya berfikir, harus kemana saya pergi, harus dimana saya mati.
Apakah akan ada yang mencari saya?
Ataukah mereka ber-euphoria atas kepergian saya?
Ataukah, kalaupun saya pulang, hanya dalam bentuk kabar duka, akankah ada yang menangis untuk saya?