Saya berdiri lagi, sendiri, menepi.
Sebentar lagi raya ketiga, tanpa Mama.
Hari ini mendung disertai hujan, saya lihat sekeliling, merasa ada satu bagian hampa yang biasa selalu terisi oleh sosok yang saya pun bingung juga heran, yang dulu pernah saya hindari, yang dulu selalu mengatakan kecewa, tapi kami berdua terpaut saling cinta.
Kini saya merindukannya.
Kepala saya kembali mengulang memori, tempat-tempat dimana kami pernah tertawa bersama, menangis, dan marah.
Bangku yang pernah ia duduki, tempat yang pernah ia singgahi, seolah semua menjadi monumen bersejarah untuk saya.
Saya ingat bagaimana senyum melengkung di wajahnya yang jelita, dan air yang turun dari matanya yang turut menurun setiap tahunnya.
Suaranya yang selalu berteriak memanggil "Adiiiik", dan gelak tawanya yang selalu renyah ditelinga.
Pada momen ini, 4 tahun lalu, masih saya rasakan suasana hangat yang selalu ia ciptakan.
Harum kue-kue buatannya, dan lezat semua masakannya, membuat saya bertanya, mengapa tangannya begitu terberkahi bisa membuat makanan-makanan enak ini.
Ia selalu menyuruh kami makan bersama di malam Hari Raya, sambil tersenyum mendengar kami yang sibuk memuji betapa enaknya santapan Lebaran kami setiap tahun.
Lalu perjalanan mudik menjadi cerita lain, kala saya harus mendengarkan lagu-lagu kesukaannya di mobil secara berulang-ulang selama belasan jam, dan cerita-cerita yang ia tuturkan tentang kampung halaman, yang mungkin tidak hanya 1-2x sudah saya dengarkan.
Percayalah, dulu mungkin saya membenci lagu-lagu tersebut, namun kini seolah saya siap mendengarkannya selama berhari-hari, saking rindunya.
Kalimat-kalimat harapannya yang menginginkan saya menjadi manusia yang lebih baik, dan berguna, yang selalu terdengar menyebalkan, kini juga saya rindukan.
Mama adalah pelengkap Hari Raya yang sempurna, untuk semua keluarga.
Sosoknya selalu menyenangkan, perannya juga paling penting melebihi apapun.
Kini sudah tahun ketiga, saya menjalani Hari Raya tanpa Mama.
Tentu banyak yang berubah, dan selalu akan jadi beda.
Tidak semenyenangkan dulu, betapapun meriahnya tempat yang saya kunjungi, akan selalu dan tetap ada satu bagian yang akan tetap kosong.
Tidak ada lagi tangan lembut yang akan saya cium,
Tidak ada lagi tubuh hangat yang akan saya peluk,
Tidak ada lagi dirinya yang secantik dan secerah itu pada pagi Hari Raya.
Ma, bila ada 1 kesempatan sekali seumur hidup yang bisa terwujud, saya hanya ingin memelukmu..
Mereka boleh sebut saya pembangkang, atau saya terlihat seperti seorang yang tidak terlalu menyayangimu, namun dengan semua cerita yang sudah saya lewati selama 24 tahun, tetap Mama yang jadi pemeran utamanya.
Kepergian Papa tidak begitu terasa karna saya masih memiliki mu, kala itu, namun kini sudah tidak ada satupun tersisa.
Tubuh ini sudah kehilangan jiwa kala kepergianmu di akhir Januari itu.
Saya hanya bisa kembali berjalan sambil mengenang hal yang tidak akan pernah saya rasakan lagi meski sekeras apapun saya berusaha.
Hari harus tetap berlanjut, bumi tetap mengitari matahari, dan bulan berputar untuk bumi, begitupun, saya.
Namun, saya tetap, dan akan selalu merindukanmu, Mah.
Bagaimapun, terima kasih sudah berikan 24 tahun terbaik yang pernah saya miliki.
Saya rindu Mama.