Sudut gelap kamar itu adalah aku
Yang panjang menjuntai kedepan, dan lebar kebelakang, ia ada ditengah, berdebu tebal, bersiku kokoh namun tak ada yang pernah bertanya, "apakah sulit menahan pondasinya sendirian?" Karna mereka menempatkannya dalam sudut, mungkin dengan rasa percaya atau hanya asal ada.
Ia dingin tak tersentuh, jarang juga terlihat karena mata kadang tak menarik padanya.
Dan kamu datang sebagai temaram.
Satu pagi kamu datang berbuai angin lembut, dan hangat memeluk, menyapa sudut tanpa malu, menjamah yang biasanya tak tersentuh.
Satu sore kamu datang berbalut keteduhan, memberi semangat setelah diterpa terik, dan beri warna jingga keemasan untuk si sudut yang gelap dan dingin itu.
Temaram banyak berbagi pada sudut, begitupun sudut yang menyediakan ruang, bidang untuknya bersandar.
Mereka bercerita bagaimana waktu berjalan tanpa tempat, tanpa pasti, namun penuh arti.
Yang tanpa disadari, semua terjadi begitu saja, seolah sebuah kebetulan yang menyamar jadi takdir.
Hingga sudut menyadari satu hal, bahwa selalu ada jarak diantara mereka. Kadang terasa jauh, kadang teramat dekat. Namun ia percaya temaram selalu datang, meski hari ini hujan lebat, besok mentari membawanya kembali.
Meski awan menutupi, besok angin menghempasnya pergi.
Semesta seolah beri jalan bagaimanapun cara.
Temaram akan hadir tanpa diminta, sudut siap menyambutnya dari hilir ke hulu.
Lalu ia mengerti, bahwa jarak itu, ternyata adalah sebuah rindu.