Malam ini aku berduka
Atas kepercayaan diriku yang telah mati
Aku berduka, bahwa kenyataan menyadarkan aku lagi, membangunkan aku yang dulu dan merasa egois lagi.
Aku merasa tidak layak lagi, tidak untuk sedikitpun, mendapat kepercayaan untuk menjaga hati seseorang, karna akan berakhir ku patahkan.
Aku dengan segala kekacauan yang telah kuperbuat.
Tidak lebih dari seorang wanita yang tidak memiliki perasaan memikirkan orang lain, kecuali kesenangan ku sendiri.
Tuan misterius memutuskan untuk menjauhi ku. Tentu ada rasa dimana aku menjadi begitu sangat rapuh tanpanya, yang semakin aku rasakan, ketika ia dengan bola matanya yang tidak ingin melihatku. Atau berpura-pura tidak mengetahui kehadiranku. Aku tau ia sangat sadar dengan siapa dia berada di jarak yang tidak lebih dari semeter denganku. Tapi lagi-lagi dengan dada yang sakit aku juga berpura-pura bahwa aku biasa saja.
Dan seiring langkahnya pergi, ada rasa perih yang tidak mengenakan.
aku yakin dia juga merasakan perih itu, meskipun sedikit, pasti ada.
Dia dengan langkahnya yang pergi, seharusnya tidak perlu kembali menengok kearahku, yang pasti semua tau bahwa mataku juga tidak bisa lepas darinya.
Dan saat mata kami bertemu, aku merasakan bahwa walau sedikit, dia masih peduli, masih ingin tau, masih ingin memelukku. Begitupun aku.
Kuhabiskan malam-malam sunyi dengan penyakit yang sama seperti dahulu. Kali ini untuk mengenangnya.
Tak banyak kenangan yang kami ciptakan, namun aku merasa tidak perlu banyak kenangan untuk mengenang seseorang yang berharga menurutmu.
Kepalaku berputar-putar. Banyak hal lain menyusup, terutama tentang dia yang sudah punya cintanya yang baru, juga tentang tuan misterius yang memilih menjaga persahabatannya untuk tidak dekat lagi denganku.
Sehari-hari di kampus tercinta, aku menghindari beberapa titik dimana aku biasa melihatnya. Aku memilih berjalan cepat, dan tidak menoleh sama sekali di titik-titik itu.
Aku merasa menjadi pecundang. Tapi itu masih lebih baik daripada aku harus melihatnya lagi, kemudian menangis lagi.
Namun anehnya di tempat-tempat yang sudah aku tandai akan berpotensi lebih tinggi untuk bertemu dengannya, justru dia yang lebih sering lewat ditempat biasa aku berada dikampus.
Takdir yang menyakitkan, saat menghindari namun justru dihampiri.
Aku akan bercerita tentang seorang yang sesungguhnya hanya mengisi hari-hariku selama kurang lebih 5 hari ini. Sebelum aku memutuskan untuk berhenti berhubungan dengannya, karna rasa bersalah menghantui diriku.
Semoga aku tidak dibenci oleh karma.
Aku sudah menyadarinya, sungguh, sebelum semua terlanjur berlarut. Aku tak ingin menyakiti siapapun, dan semua orang yang menaruh niat baik kepadaku, sungguh.
Namun saat ini biarkan aku mendedikasikan tulisan ini untuk tuan misterius.
Aku ingin mengenangnya, walau sekali lagi, tidak banyak kenangan yang kami ciptakan.
Namun, aku merasa bahwa aku sudah memilikinya.
Ya, tuan misterius.
Atas kepercayaan diriku yang telah mati
Aku berduka, bahwa kenyataan menyadarkan aku lagi, membangunkan aku yang dulu dan merasa egois lagi.
Aku merasa tidak layak lagi, tidak untuk sedikitpun, mendapat kepercayaan untuk menjaga hati seseorang, karna akan berakhir ku patahkan.
Aku dengan segala kekacauan yang telah kuperbuat.
Tidak lebih dari seorang wanita yang tidak memiliki perasaan memikirkan orang lain, kecuali kesenangan ku sendiri.
Tuan misterius memutuskan untuk menjauhi ku. Tentu ada rasa dimana aku menjadi begitu sangat rapuh tanpanya, yang semakin aku rasakan, ketika ia dengan bola matanya yang tidak ingin melihatku. Atau berpura-pura tidak mengetahui kehadiranku. Aku tau ia sangat sadar dengan siapa dia berada di jarak yang tidak lebih dari semeter denganku. Tapi lagi-lagi dengan dada yang sakit aku juga berpura-pura bahwa aku biasa saja.
Dan seiring langkahnya pergi, ada rasa perih yang tidak mengenakan.
aku yakin dia juga merasakan perih itu, meskipun sedikit, pasti ada.
Dia dengan langkahnya yang pergi, seharusnya tidak perlu kembali menengok kearahku, yang pasti semua tau bahwa mataku juga tidak bisa lepas darinya.
Dan saat mata kami bertemu, aku merasakan bahwa walau sedikit, dia masih peduli, masih ingin tau, masih ingin memelukku. Begitupun aku.
Kuhabiskan malam-malam sunyi dengan penyakit yang sama seperti dahulu. Kali ini untuk mengenangnya.
Tak banyak kenangan yang kami ciptakan, namun aku merasa tidak perlu banyak kenangan untuk mengenang seseorang yang berharga menurutmu.
Kepalaku berputar-putar. Banyak hal lain menyusup, terutama tentang dia yang sudah punya cintanya yang baru, juga tentang tuan misterius yang memilih menjaga persahabatannya untuk tidak dekat lagi denganku.
Sehari-hari di kampus tercinta, aku menghindari beberapa titik dimana aku biasa melihatnya. Aku memilih berjalan cepat, dan tidak menoleh sama sekali di titik-titik itu.
Aku merasa menjadi pecundang. Tapi itu masih lebih baik daripada aku harus melihatnya lagi, kemudian menangis lagi.
Namun anehnya di tempat-tempat yang sudah aku tandai akan berpotensi lebih tinggi untuk bertemu dengannya, justru dia yang lebih sering lewat ditempat biasa aku berada dikampus.
Takdir yang menyakitkan, saat menghindari namun justru dihampiri.
Aku akan bercerita tentang seorang yang sesungguhnya hanya mengisi hari-hariku selama kurang lebih 5 hari ini. Sebelum aku memutuskan untuk berhenti berhubungan dengannya, karna rasa bersalah menghantui diriku.
Semoga aku tidak dibenci oleh karma.
Aku sudah menyadarinya, sungguh, sebelum semua terlanjur berlarut. Aku tak ingin menyakiti siapapun, dan semua orang yang menaruh niat baik kepadaku, sungguh.
Namun saat ini biarkan aku mendedikasikan tulisan ini untuk tuan misterius.
Aku ingin mengenangnya, walau sekali lagi, tidak banyak kenangan yang kami ciptakan.
Namun, aku merasa bahwa aku sudah memilikinya.
Ya, tuan misterius.