Aku pernah marah, jangankan aku, semua orang pernah marah.
Kadang ada alasan, kadang tidak. Yang jelas emosi negatif ini pernah hidup dalam diri seseorang, lama, atau sebentar.
Aku pernah marah,
Pada keadaan yang membuat aku tidak menjadi diriku, saat aku berpura-pura baik-baik saja, saat aku bilang "aku tidak papa", saat aku bilang "aku setuju" nyatanya tidak.
Aku pernah marah,
Pada kehidupan seseorang, yang kupikir meski tinggal di bawah matahari dan planet yang sama, aku merasa berbeda dengan mereka.
Aku pernah marah,
Pada kamu yang sudah pergi, hilang tanpa arti, kadang pula luka menyayat hati yang kamu pernah tinggali. Dan pergi, bersama dia yang katanya mencintaimu setengah mati.
Aku pernah marah,
Pada diriku sendiri
Pada aku yang tidak bisa menentukan sikap dan atas beberapa hal yang aku perbuat diluar kendali. Sungguh aku sesali, namun tetap saja tak bisa terobati, patahan-patahan hati yang katanya ku sakiti, entah apa lagi yang harus aku perbaiki.
Aku pernah marah,
Pada cinta yang entah sengaja atau tidak, telah memilihmu, dan kau adalah orang yang salah. Dan suatu ketika kau kembali dengan dirimu yang lain, lebih baik, tapi aku tak lagi bisa mencintai. Percayalah, bahkan kadang cinta salah alamat.
Aku pernah marah,
Tapi apalah arti kemarahan, marah tak bisa hidup lama, marah tak bisa bertahan lama, marah tak bisa memilih, namun kadang marah datang karna dibuat-buat.
Aku marah.
Aku pernah marah.
Percayalah, marah akan diusir oleh senyuman.
Maka apa saat ini aku bahagia setelah marah?
Tidak.
Karna saat aku menulis ini, pikiran ku kemabli lagi, menyusul marah.
Dan aku, sedang marah.
Kadang ada alasan, kadang tidak. Yang jelas emosi negatif ini pernah hidup dalam diri seseorang, lama, atau sebentar.
Aku pernah marah,
Pada keadaan yang membuat aku tidak menjadi diriku, saat aku berpura-pura baik-baik saja, saat aku bilang "aku tidak papa", saat aku bilang "aku setuju" nyatanya tidak.
Aku pernah marah,
Pada kehidupan seseorang, yang kupikir meski tinggal di bawah matahari dan planet yang sama, aku merasa berbeda dengan mereka.
Aku pernah marah,
Pada kamu yang sudah pergi, hilang tanpa arti, kadang pula luka menyayat hati yang kamu pernah tinggali. Dan pergi, bersama dia yang katanya mencintaimu setengah mati.
Aku pernah marah,
Pada diriku sendiri
Pada aku yang tidak bisa menentukan sikap dan atas beberapa hal yang aku perbuat diluar kendali. Sungguh aku sesali, namun tetap saja tak bisa terobati, patahan-patahan hati yang katanya ku sakiti, entah apa lagi yang harus aku perbaiki.
Aku pernah marah,
Pada cinta yang entah sengaja atau tidak, telah memilihmu, dan kau adalah orang yang salah. Dan suatu ketika kau kembali dengan dirimu yang lain, lebih baik, tapi aku tak lagi bisa mencintai. Percayalah, bahkan kadang cinta salah alamat.
Aku pernah marah,
Tapi apalah arti kemarahan, marah tak bisa hidup lama, marah tak bisa bertahan lama, marah tak bisa memilih, namun kadang marah datang karna dibuat-buat.
Aku marah.
Aku pernah marah.
Percayalah, marah akan diusir oleh senyuman.
Maka apa saat ini aku bahagia setelah marah?
Tidak.
Karna saat aku menulis ini, pikiran ku kemabli lagi, menyusul marah.
Dan aku, sedang marah.
0 komentar