Gelisah
Itulah yang aku rasakan jelang detik aku akan bertemu dia. Bahkan dipagi jelang bertemu, sampai bangun 4x, kukira siang sudah datang.
Dan menjelang sore depan Kampus Tercinta, akhirnya sosok lelaki yang membuat pikiranku sibuk beberapa hari inipun, datang.
Dengan senyum dan sapaan, aku lega akhirnya bertemu dia.
Kami menghabiskan sore hingga malam, bertukar cerita dan saling bercanda.
Selebihnya kami sibuk bertatapan satu sama lain. Mungkin saling tak menyangka hari ini, hal yang tak terduga telah terjadi..
Aku masih ingat betul bagaimana matanya mengedip, bagaimana ia menarik nafasnya, bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia tertawa, bagaimana raut wajahnya saat ia bercerita hal yang menyakitkan baginya, bahkan bagaimana ia tersipu malu, dan terlebih bagaimana mimik bibirnya saat mengucapkan pengakuan bahwa ia menyukaiku.
Sungguh detak jantungku seakan dipicu untuk lebih cepat memompa darah ke otak, sehingga aku berpikir lama dalam memproses perkataannya sembari tak percaya dengan apa yang ia katakan.
Ia menyukaiku.
Begitupun, aku.
Biasanya aku sangat menghargai proses untuk memutuskan apakah aku akan memilih untuk memulai hubungan atau tidak.
Dan kini, proses yang kami lalui sungguh kilat, aku menerimanya sebagai orang yang akan aku bagi cerita tentang diriku, keseharianku, kesenanganku, juga kesedihanku. Aku menerimanya sebagai orang yang nantinya akan aku rindukan pada malam-malam kosong, yang akan penuh dengan dirinya.
Aku rasa keterkaitan kami tidak terjadi sesingkat baru tadi aku bertemunya, tapi jauh sebelum itu, dimana kami menghabiskan waktu kami, untuk saling bertukar pesan, tawa, canda, dan cerita melalu media dalam genggaman.
Maka pertemuan hanya menjadi pelengkap dan pemasti perasaan ini.
Itulah yang membuat aku tak berpikir panjang untuk menerimanya. Memulai dari 0 bersamanya.
Aku percaya padanya, percaya pada apa yang aku rasa, percaya pada prinsipnya, percaya pada kepribadiannya yang mulai terbuka kepadaku.
Jawaban untuk tulisan kemarin malam:
Aku akan menempatkan namanya, secara rapih dihatiku? Adalah, iya.
Dan kini aku mulai berani menaruh harapan untuk aku, dia, kami, dan kebahagiaan.
Sambil berkenalan, dan menebarkan cinta tiap harinya, agar harapan itu dapat tercapai.
Dan bila esok akan datang masa dimana aku merasa jenuh aku harap aku dapat membaca kembali tulisan ini, bahwa aku pernah merasa sebahagia ini bersamanya..
Selamat pagi,
Sayangku.