Terakhir yang aku tulis, aku bimbang dan menyerahkan Kuasa Tuhan untuk masalahku, mungkin bila ada taraf kesabaran, aku berada di paling atas.
Sungguh sudah sangat sabar, disakiti dan disakiti lagi, namun manusia pada dasarnya tak lepas dari rasa emosi yang pada akhirnya dapat kutumpahkan seada-adanya pada dia si brengsek pengumbar sumpah dan janji.
Aku putuskan untuk memerdekakan diriku sendiri dari penjajahan kebodohan yang dia tanamkan.
Entah lagi-lagi atau bagaimana, Tuhan memberikan jalan padaku, makanya aku sangat percaya bahwa Tuhan adil dan aku selalu merasakan keadilan itu.
Tuhan mendatangkan obat ditengah kesakitan yang kurasa memang karna kebodohan dari aku sendiri yang selalu dan terus menerus menjadi tokoh yang sabar, hingga kadang aku tidak menyadari bahwa aku selalu diinjak.
Obat itu datang begitu saja, dan sungguh beberapa hari ini aku merasa bahwa obat ini bekerja dengan baik, dan membangkitkan rasa percaya diriku lagi.
Tautan ku tentang lelaki yang kebanyakan hanya mau menang sendiri dan bertindak semaunya, terpaksa aku hilangkan, sejak aku mengenalnya, sejak aku mengenalnya lebih dalam lagi.
"Sedikit cemas, banyak rindunya"
Aku mungkin cemas dengan apa yang aku hadapi sekarang, terkait aku bahkan belum bertemu dengan lelaki yang menyita pikiranku ini. Tapi terlepas dari kecemasan dalam hati, aku sungguh merindukannya seolah kami sudah pernah bertemu dan berpadu sebelumnya.
Atau memang alasan aku rindu bahwa sesungguhnya aku memang butuh sosok sepertinya dari dulu, dan dia baru datang sekarang, menyadarkanku bahwa aku juga berhak dipelakukan istimewa tanpa paksaan dan dengan kesederhanaan dirinya yang dapat buat aku tersenyum lagi..
Bila Tuhan mengizinkan, aku akan bertemu dia besok.
Rasanya tak sabar menunggu detik agar cepat berlalu.
Bila memang yang aku rasakan tulus, seperti apapun dirinya yang akan aku temui besok, aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana rupa dirinya kelak, aku hanya ingin tau, sosok sebenarnya orang yang sampai ku samakan dengan definisi obat untuk menyembuhkan.
Aku tak akan cepat menyimpulkan apa yang aku rasa padanya, namun biarlah waktu akan menjawab semuanya bagaimana nantinya ini akan berakhir, atau dimulai.
Tak juga aku menaruh banyak harapan, takut bila dia yang akan kecewa setelah bertemu denganku, namun tak bisa aku bohongi bila memang benar, harapan itu ada, meski tidak besar, namun aku berharap.
Dan semoga, bila besok aku sudah bisa menyimpulkan bagaimana perasaanku, aku bisa berubah menjadi wanita yang lebih baik untuk diriku sendiri dan untuknya, dan menempatkan namanya secara rapih di hatiku.
Aku tak sabar!
Matahari, cepatlah datang!
0 komentar