Jelaga, ceria, aurora, mega, kelabu, biru.
Kau ajari aku.
Terbata aku mengeja
Bagaimana kau tuntun aku membaca
"Ini adalah warna..
... Dan sedikit ku bumbui dengan rasa."
Satu hari kau datang bersama langit kelabu
Kita membisu
Aku sibuk membacamu
Kau sibuk membacaku
Mulai aku rekam visual tentang dirimu
Mataku menelanjangi tubuh mu
Ah, haruskah aku namai kamu candu?
Zat adiktif kah yang kau pakai itu?
Yang aku lakukan hanya bunuh diri
Semakin dekat semakin mati
Semakin lama semakin tersakiti
Aku rindu (lagi) sendiri.
Masih jelas terasa bagaimana detak jantungmu bernyanyi
Hentakannnya buat aku hidup lagi
Namun sejak saat itu, aku hidup bukan dengan jantungku sendiri
Aku lupa diri.
Karena semakin kencang genggaman mu
Semakin menyelinap keluar, dari sela jemarimu
Kau genggam apa yang bukan milikmu
Kau hidup dalam semu.
Aku mengalah
Manusia hidup makan salah
Minum dengan ego tak terarah
Aku kenyang, ingin muntah.
Dan sewaktu-waktu
Kau sendiri akan ziarah makam mu
Berduka atas kematian mu
Kemudian tertawa karna jadikan semu, seolah nyata untuk mu.
Nyata
Sampai sampai
Aku lupa
Bahwa
Harus alam sadarku
Yang pilih bahagiaku
Agar sewaktu waktu
Aku tidak mati
Dalam kenyataan yang kurancang sendiri
Dengan halusinasi.