Efek Rumah Kaca dalam album Sinestesia, membawa saya dalam lagu pertama yang membuat saya menangis, tersetel secara acak, dan kemudian saya terdiam cukup lama, meresapi apa yang Cholil lantunkan.
"Hah, lagu tentang kematian?"
Saya mencoba terus khusyuk mendengarkan.
Liriknya mulai satu persatu masuk kedalam kepala saya melalui telinga, saya putuskan untuk membesarkan volumenya.
Memasuki menit ke 8, air mata saya tumpah begitu saja, tanpa sama sekali saya buat-buat.
"Laa ilaa ha ilallah...."
Samar-samar itulah yang saya dengar dibeberapa bait, dan setelah saya caritau, memang begitulah liriknya.
Apa yang Cholil tuliskan, dan lantunkan, mengubah perspektif saya melihat kematian.
Terlepas dari Cholil adalah lulusan S2 sastra Indonesia, di UI, dan S3 di Amerika, ia pastinya pandai merangkai kata yang indah dan sirat makna.
Namun, yang ada dalam Putih, benar-benar hal yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan.
"Kematian adalah awal kehidupan tanpa kematian"
Saya selalu lupa bahwa memang hidup ini hanya titipan, begitu yang dikatakan orang tua saya, dan guru ngaji saya.
Saya selalu mengutuk kehidupan yang saya miliki, apa yang dititipkan pada saya? Saya memilih tidak hidup sama sekali, saya pikir Tuhan begitu keji.
Namun saya menyesali apa yang pernah saya pikirkan, saya, dan seluruh makhluk di dunia ini, sama, Tuhan tidak memilah milih, kami berangkat dari awal yang sama, dan dengan akhir yang sama, yang membedakan hanyalah tenggat waktunya.
Isi kehidupan ini, sepenuhnya saya yang atur, saya yang jalani, saya berjalan dan mengumpulkan bekal untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Kemudian saya selalu berpikir bahwa kematian adalah kesengsaraan, saya takut mati, sungguh saya takut mati, atau saya pikir saya lebih baik mati sekalian, saya ingin mati, saya ingin mati saja, pikiran itu datang silih berganti.
Kata mereka kematian itu sakit, sakit sekali, tidak ada enak-enaknya, dan semua akan berakhir, mulai dari situ, penderitaanmu akan dimulai.
Saya pikir kematian menyakitkan, saya akan meninggalkan dunia dengan seisinya, saya akan meninggalkan orang-orang yang saya sayangi, saya akan berakhir sendirian, dan kesepian.
Saya lupa pada hakikatnya memang kita diciptakan dengan kesendirian, lahir, hidup, dan mati sendiri, dan mereka yang hadir hanya terjebak dalam tempat, waktu, dan memori yang sama dengan saya, namun dengan kepentingan pribadi, menjadikan mereka rupakan bagian dari hidup saya, secara tidak langsung.
Apa yang harus saya takutkan dari kematian? apa saya takut disiksa, atas dosa yang saya lakukan selama saya hidup?
Saya takut disiksa.
Saya bukan hanya takut mati, saya juga takut disiksa.
Kata semua orang yang mengajari saya tentang kematian adalah bayangan mengerikan tentang suatu penyiksaan atas hal buruk yang kita lakukan sekecil apapun.
Jelas saya berpikir, untuk tidak takut disiksa, saya harus melakukan kebaikan, dan menjalankan apa yang saya yakini.
Namun, tetap saja, saya takut mati.
Saya orang yang ingin mati, namun takut mati.
Dan hari itu, melalui Putih...
Saya tidak takut lagi, mungkin masih ada rasa itu jauh dalam diri saya.
Saya meyakini kematian adalah proses yang menjadikan kita manusia sesungguhnya, yang hidup pasti akan mati.
Kematian menyempurnakan kita sebagai manusia.
"Akhirnya aku usai juga..."
Kelak usai semua ketakutan saya akan kematian. Saya akan hidup dalam kematian, saya akan mati dan tidak akan mati lagi.
Kelak saya menjadi abadi, dalam kematian. Saya akan hidup, dalam kematian.
Dan selama mati, apa yang akan saya kenang?
Akankah saya harus hidup abadi dengan memori mengerikan? Memori buruk yang saya lakukan?
Saya ingin selama mati, saya mengenang memori indah penuh kebaikan. Karena keburukan yang saya kenang, tidak akan bisa di remedial, sedangkan kebaikan yang saya kenang, akan teruslah menjadi indah.
Putih,
Mengubah saya.
Bertahun-tahun saya mendengarkan ceramah, nasihat, atau bahkan lagu religi, saya hanya mendapatkan ketakutan.
Motivasi yang dilandasi oleh ketakutan.
Entah, justru saya malah terbiasa, sehingga tidak lagi takut, iya, saya takut, tapi motivasinya tidak masuk kedalam akal saya.
Saya merasakan keindahan dari kematian yang tidak perlu saya nantikan, karena nanti juga akan terjadi, semua hanya tentang tenggat waktu tiap orang berbeda-beda.
Dan sedikit-sedikit, saya ingin hidup dengan baik, agar memori yang akan saya kenang ketika mati kelak, adalah tentang kebaikan.
Namun satu harapan saya, tentang kehidupan setelah kematian.
Saya ingin berkumpul kembali dengan mereka yang telah mati lebih dulu.
Membayar waktu yang pernah terlewatkan bersamanya, karena kematian menjemput mereka lebih dulu. Sehingga semua akan impas.
Dan ketika dunia berakhir, saya masih bisa berkumpul dengan semua yang pernah hidup bersama saya, kemudian kami hidup bersama-sama salam kematian, mengenang memori yang pernah kita jalani di dunia.
Apakah definisi kesendirian dalam hidup, akan berlaku juga dalam kehidupan setelah kematian?
Saya harap tidak.
Terima kasih, Allah Subhanahu Wa Ta'ala..
Sudah menciptakan saya, menciptakan umat manusia lainnya, menciptakan Cholil, menghendaki terciptanya Efek Rumah Kaca, menghendaki terciptanya Putih.
Saya akan menjalani hidup saya dengan lebih tenang, lebih baik, hingga kematian akan datang tanpa saya nanti. Saya harap saya mati dengan baik, dan hidup dalam kematian mengenang kebaikan.
Aamiinn..
0 komentar