Malam telah mengajarkan banyak hal, bagaimana kita bisa hidup dalam kegelapan, namun Tuhan berbaik hati pada kita, membuat benda langit diatas sana menyala begitu indahnya.
Malam memberikan saat yang tepat untuk kita merenungkan, bahwa tidak selamanya kegelapan membawa duka dan kesedihan.
Karna malam membuatmu bisa memberikan waktu untuk dirimu beristirahat atas apa yang terjadi bersama matahari, kita bisa merebahkan kelelahan bersama malam.
Tentang penyakit malam yang selama ini kuderita, ternyata karna aku kurang mensyukuri nikmatNya. Bahwa Tuhan sesungguhnya memberikan waktu kita untuk merenungi hal apa saja yang menurut kita tidak adil untuk terjadi pada kita, dengan melihat dari sudut pandang lain, sesungguhnya Tuhan hanya memberikan yang terbaik untuk kita.
Ini masih tentang dia, terbayangi bertahun-tahun oleh nama yang sama, namun kali ini aku akan berkata bahwa aku ikhlas atas apa yang terjadi hingga saat ini.
Aku pernah menyesali tiap malam datang membawa namamu di balik bantalku, hingga kau terus-terusan berada di kepalaku. Sungguh pernah aku membenci malam, hingga kusebut ini 'penyakit' malam.
Namun kini aku sadar, sepenuhnya sadar bahwa Tuhan bukan tanpa alasan menghadirkan dan terus menerus membuat namamu hadir kembali walau sekeras apapun usahaku melupakan.
Sungguh, lelah fikiran dan tubuh ini, selayak aku mendapat penolakan dari dalam diriku untuk jauh dari dia.
Kini aku sadar, alasan itu adalah agar aku belajar. Tentang apa yang pernah ada dalam genggamanku kemudian terhempas begitu saja agar aku mengerti arti dari kata 'ikhlas'.
Aku sepenuhnya ikhlas, dan kalah atau menang aku tidak peduli. Tapi aku melepas dalam titik penghabisan usahaku, hingga kini aku mengerti bahwa ini bukan salah siapa-siapa tapi murni karna Tuhan telah menakdirkan bahwa kata pertemuan memiliki lawan, perpisahan, meski kaitan diantara kedua kata tersebut tidak bisa dipisahkan. Iya, pertemuan, dan, perpisahan.
Cepat atau lambat dan bahkan tak akan bisa kita tebak dengan cara apa perpisahan itu telah ditakdirkan, namun perpisahan akan tetap ada.
Dan aku yang menangis di malam hingga pagi berhari-hari kemarin, hanyalah aku yang belum familiar dengan kata perpisahan.
Meski sesungguhnya kata perpisahan telah melekat dalam kehidupanku sejak aku umur 18 bulan, dengan kepergian Papa yang sesungguhnya itu adalah jalan dari perpisahan aku dengan Papa. Juga seperti dengan oran-orang yang aku temui di suatu tempat, dan aku tak lagi bertemu dengannya, itulah jalan perpisahanku dengan orang-orang itu.
Lantas mengapa aku pernah merasa bahwa perpisahan belum menyentuh aku dan dia, bahwa aku masih memegang teguh janji yang hanya diucapkan antara kedua manusia penuh dosa tanpa disaksikan Tuhan. Tentu saja janji itu hanya omong kosong, bahkan Tuhan pun hanya tau, tidak menjadi saksinya.
Kini aku melihat diriku, lambat laun aku merasa bahwa aku bahagia. Bahkan perkiraan tentang kebahagiaan yang hilang jika dia pergi, ternyata tidak benar adanya.
Akupun juga melihat dia, yang kini dapat selalu tersenyum dengan cintanya yang baru, aku sama seperti dia. Sama-sama bahagia dengan jalan kita sendiri. Dan sekali lagi terbuktilah bahwa kata 'pabila kita berpisah aku akan sangat sedih' ternyata hanyalah omong kosong.
Kami bahagia.
Sepenuhnya kami bahagia.
Mungkin mereka mengira aku hanya yang tidak bisa melupakan dia. Hidup teguh sendirian dan hati belum jelas mengarah pada siapa. Kadang aku bercerita tentang banyak orang yang sempat mengisi hari-hariku, namun tak ada satupun yang bisa menggantikan kebahagiaan ku saat aku merasa sangat bebas.
Mungkin Tuhan belum menentukan saat yang tepat, mungkin Tuhan ingin mempertemukan kepadaku yang lebih baik, hingga aku diberikan rasa yang betul-betul mendatar, namun tetap bahagia.
Kadang aku menuntut, mengapa aku tidak bisa seperti dia, yang dapat mendapatkan cinta yang baru dengan waktu singkat?
Ternyata jawabannya sangatlah sederhana, yaitu, belum saatnya.
Mungkin Tuhan ingin aku menikmati masa ini, bebas dan bahagia dengan siapa saja.
Namun aku tetap yakin bahwa cinta itu akan hadir lagi dalam diriku,entah menunjuk salah satu yang disekitarku, atau bertemu dengan orang baru. Dan aku sangat amat menikmati proses dan masa ini.
Banyak yang bilang aku menampik urusan cinta, dengan berpura-pura terkubur kesibukan dengan hal yang kusenangi. Sungguh aku menantinya, namun aku sadar orang yang memanti akan bosan bila tidak melakukan apa-apa. Maka aku melakukan apa yang aku suka.
Sekarang ingatlah satu hal, Tuhan tidak pernah memberikan rencana yang tidak seru. Sungguh nikmatilah rencana itu, dan biarkan dirimu sendiri mencari tau ada apa dibalik rencananya, bahkan aku yakin rencanaNya pasti akan selalu indah.
"Kita hanyalah bintang yang tersesat, mencoba bersinar di kegelapan" -Adam Levine.
Malam memberikan saat yang tepat untuk kita merenungkan, bahwa tidak selamanya kegelapan membawa duka dan kesedihan.
Karna malam membuatmu bisa memberikan waktu untuk dirimu beristirahat atas apa yang terjadi bersama matahari, kita bisa merebahkan kelelahan bersama malam.
Tentang penyakit malam yang selama ini kuderita, ternyata karna aku kurang mensyukuri nikmatNya. Bahwa Tuhan sesungguhnya memberikan waktu kita untuk merenungi hal apa saja yang menurut kita tidak adil untuk terjadi pada kita, dengan melihat dari sudut pandang lain, sesungguhnya Tuhan hanya memberikan yang terbaik untuk kita.
Ini masih tentang dia, terbayangi bertahun-tahun oleh nama yang sama, namun kali ini aku akan berkata bahwa aku ikhlas atas apa yang terjadi hingga saat ini.
Aku pernah menyesali tiap malam datang membawa namamu di balik bantalku, hingga kau terus-terusan berada di kepalaku. Sungguh pernah aku membenci malam, hingga kusebut ini 'penyakit' malam.
Namun kini aku sadar, sepenuhnya sadar bahwa Tuhan bukan tanpa alasan menghadirkan dan terus menerus membuat namamu hadir kembali walau sekeras apapun usahaku melupakan.
Sungguh, lelah fikiran dan tubuh ini, selayak aku mendapat penolakan dari dalam diriku untuk jauh dari dia.
Kini aku sadar, alasan itu adalah agar aku belajar. Tentang apa yang pernah ada dalam genggamanku kemudian terhempas begitu saja agar aku mengerti arti dari kata 'ikhlas'.
Aku sepenuhnya ikhlas, dan kalah atau menang aku tidak peduli. Tapi aku melepas dalam titik penghabisan usahaku, hingga kini aku mengerti bahwa ini bukan salah siapa-siapa tapi murni karna Tuhan telah menakdirkan bahwa kata pertemuan memiliki lawan, perpisahan, meski kaitan diantara kedua kata tersebut tidak bisa dipisahkan. Iya, pertemuan, dan, perpisahan.
Cepat atau lambat dan bahkan tak akan bisa kita tebak dengan cara apa perpisahan itu telah ditakdirkan, namun perpisahan akan tetap ada.
Dan aku yang menangis di malam hingga pagi berhari-hari kemarin, hanyalah aku yang belum familiar dengan kata perpisahan.
Meski sesungguhnya kata perpisahan telah melekat dalam kehidupanku sejak aku umur 18 bulan, dengan kepergian Papa yang sesungguhnya itu adalah jalan dari perpisahan aku dengan Papa. Juga seperti dengan oran-orang yang aku temui di suatu tempat, dan aku tak lagi bertemu dengannya, itulah jalan perpisahanku dengan orang-orang itu.
Lantas mengapa aku pernah merasa bahwa perpisahan belum menyentuh aku dan dia, bahwa aku masih memegang teguh janji yang hanya diucapkan antara kedua manusia penuh dosa tanpa disaksikan Tuhan. Tentu saja janji itu hanya omong kosong, bahkan Tuhan pun hanya tau, tidak menjadi saksinya.
Kini aku melihat diriku, lambat laun aku merasa bahwa aku bahagia. Bahkan perkiraan tentang kebahagiaan yang hilang jika dia pergi, ternyata tidak benar adanya.
Akupun juga melihat dia, yang kini dapat selalu tersenyum dengan cintanya yang baru, aku sama seperti dia. Sama-sama bahagia dengan jalan kita sendiri. Dan sekali lagi terbuktilah bahwa kata 'pabila kita berpisah aku akan sangat sedih' ternyata hanyalah omong kosong.
Kami bahagia.
Sepenuhnya kami bahagia.
Mungkin mereka mengira aku hanya yang tidak bisa melupakan dia. Hidup teguh sendirian dan hati belum jelas mengarah pada siapa. Kadang aku bercerita tentang banyak orang yang sempat mengisi hari-hariku, namun tak ada satupun yang bisa menggantikan kebahagiaan ku saat aku merasa sangat bebas.
Mungkin Tuhan belum menentukan saat yang tepat, mungkin Tuhan ingin mempertemukan kepadaku yang lebih baik, hingga aku diberikan rasa yang betul-betul mendatar, namun tetap bahagia.
Kadang aku menuntut, mengapa aku tidak bisa seperti dia, yang dapat mendapatkan cinta yang baru dengan waktu singkat?
Ternyata jawabannya sangatlah sederhana, yaitu, belum saatnya.
Mungkin Tuhan ingin aku menikmati masa ini, bebas dan bahagia dengan siapa saja.
Namun aku tetap yakin bahwa cinta itu akan hadir lagi dalam diriku,entah menunjuk salah satu yang disekitarku, atau bertemu dengan orang baru. Dan aku sangat amat menikmati proses dan masa ini.
Banyak yang bilang aku menampik urusan cinta, dengan berpura-pura terkubur kesibukan dengan hal yang kusenangi. Sungguh aku menantinya, namun aku sadar orang yang memanti akan bosan bila tidak melakukan apa-apa. Maka aku melakukan apa yang aku suka.
Sekarang ingatlah satu hal, Tuhan tidak pernah memberikan rencana yang tidak seru. Sungguh nikmatilah rencana itu, dan biarkan dirimu sendiri mencari tau ada apa dibalik rencananya, bahkan aku yakin rencanaNya pasti akan selalu indah.
"Kita hanyalah bintang yang tersesat, mencoba bersinar di kegelapan" -Adam Levine.