Sahabat bagiku,
Ia yang akan mendukung tiap langkahku, dan bila aku terjatuh, ia akan tetap membangunkan aku, memberikan aku semangat, bahwa hari esok akan lebih baik jadinya.
Sahabat bagiku,
Kau habiskan tak terhitung hari bersamanya, tertawa seperti semua hal buruk adalah lelucon, ia membuat semua menjadi begitu menyenangkan.
Aku menjalani beberapa jalinan persahabatan, dengan banyak orang, banyak sifat, dan banyak keunikan.
Aku bersyukur memiliki orang-orang seperti mereka dalam hidupku, bahkan ketika aku sedang terpuruk, mereka tetap sedia merangkulku.
Dan kini, lagi, tentang persahabatan baru, orang yang masih ingin kupelajari karakternya, kami melingkarkan kelingking kami tanda persahabatan. Aku menyayanginya seperti sahabatku yang lain.
Namun suatu ketika sama sekali aku merasa bukan diperlakukan seperti sahabat olehnya, aku justru merasa, ini lebih dari itu.
"kalo gue sayang, gue yang akan menjauh"
Itulah yang aku katakan kepadanya, sungguh aku ingin persahabatan ini tetap terjaga, namun apa bisa aku menakdirkan kemana hatiku akan bernaung?
Dihari aku akan menyatakan padanya, perasaan ku untuk tetap menjadi sahabatnya, aku ingin ia tau bahwa aku menyayanginya, sebagai sahabat, maka kita harus menyeimbangkan setiap kegiatan kita layaknya sahabat pada umumnya, tidak lebih, tidak kurang. Agar kami dapat sama-sama menahan perasaan, atau jika memang kami lebih dari sekedar sahabat, maka namailah kedekatan kami dengan sebuah kata "pendekatan" dan lupakanlah hal-hal yang berbau pertemanan, agar perasaan kami akan lebih terbebas.
Namun waktu tidak menempatkan kami dalam posisi yang baik. Maka aku urungkan niatku, sampai waktu yang tepat.
Keesokan harinya, diluar dugaan, aku melihatnya bersama orang yang ia sebut terus namanya sebagai orang yang ia sayangi, dan saat itu, hatiku meringis, ada rasa tidak terima dan kesedihan yang tak bisa aku ungkapkan. Bahkan ia seakan pura-pura tidak menyadari kehadiranku disana, seakan kami tidak kenal, sungguh itu menyakitkan, bila memang aku sahabatnya, bersikaplah biasa, selayaknya sahabat.
Perasaan itu sungguh membuatku terus berpikir, mengapa aku harus bersedih, toh wanita itu adalah orang yang ia sayangi. Dan saat itu juga, aku sadar, bahwa aku harus menghindari perasaan ini, dan aku mulai melangkah menjauh darinya. Aku sungguh tak mau kehilangan ia..
Aku menahan diriku, menciptakan jarak aman yang tidak mendekatkan lagi diriku kepadanya. Namun tadi, kulihat ia, matanya sendu memerah, gerakannya lemas tak bersemangat, kemudian ada rasa dimana aku ingin memeluknya, dan menjadi tempat ia menumpahkan segala keluhnya, aku khawatir.
Dan harus aku namai apa kekhawatiran ini?
Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku terus dibayangi saat saat aku habiskan waktu indah bersamanya.. Aku merindukannya..
Sahabatku, apa yang terjadi? bagilah ceritamu padaku, mari keluar dan ciptakan kesenangan, aku ingin lebih mendalami dirimu, aku ingin jadi orang yang meneduhkan hatimu, dan menggariskan senyuman di bibirmu..
Sahabatku, apa aku benar menganggap dirimu adalah sahabat? Aku tak tau lagi bagaimana cara memperbaiki keadaan ini, aku rindu saat dimana waktu jadi musuh terberat kita ketika kita melalui hal yang menyenangkan, seakan tak ingin itu berakhir.
Aku mengkhawatirkanmu, bagilah lagi senyum mu padaku. Aku rindu kamu, sahabatku..
0 komentar