Apa yang lebih buruk dari disapa sepi?
Karna bisa saja sepi mengundang kau hadir lagi.
Aku coba melupakan susah payah, tiba-tiba sekelibat saja namamu ada, hari-hari itu seakan datang lagi.
Hari dimana selalu kunantikan untuk bertukar kalimat denganmu.
Hari dimana aku menghabiskan malamku untuk mempersiapkan diriku sedemikian rupa, karna esoknya jumpa denganmu.
Hari dimana pagi datang membawamu dengan sapaan hangat dan senyuman terlukis di wajahmu.
Hari dimana kamu membawa sesuatu yang biasa menjadi berharga.
Dan hari dimana kamu pergi tanpa pesan dan kembali lagi seenakmu.
Sepertinya sudah susah payah kututup semua celah untuk menghadirkanmu lagi,
Lalu tanpa dosa kamu datang mengacak-acak semuanya.
Dan sudah susah payah kubangun pagar-pagar agar jangan kamu datang,
Lalu dengan mudahnya kamu masuk dan meruntuhkannya dalam satu sentuhan, kusebut maha dahsyat.
Begitulah caramu memporak-porandakan perasaan, meski dengan tenang kamu masih menggengam tangannya namun tetap mencariku.
Aku tidak meminta agar kamu tau rasa jadi aku, tapi jangan sampai nanti ketika kamu lepas genggamanmu dengannya, kamu mencariku, seperti biasanya.
Lalu kamu anggap aku hanya pertolongan pertama pengisi kesepianmu?
Atau hanya anggap aku lilin penerang saat mati lampumu?
Lagi-lagi kuputuskan untuk membentengi lagi diriku, meski aku tau ini akan terus gagal, sebab bisa saja kamu menerobos lagi sesukamu.
Tapi ingatlah satu hal, siapa yang akan kamu cari kala ia menyakitimu.
Dan siapa yang akan tetap sabar meladeni tingkah konyol mu itu.
Mungkin aku akan tetap berdiri disini, terus mencoba membangun puing-puing semangat untuk cerita baru, dan akan tetap berdiri meski kutau kamu akan datang lagi.. Dan lagi..
Kemudian, jangan lagi kau anggap aku salah satu ikan mu, yang kau bilang masih banyak dilautan. Jika ikan lain pergi masih ada penggantinya, jangan.
Karna aku hanya akan menjadi tanah, memopang keluh kesah tempat kau berpijak, dan menjadi dasar dari lautanmu.
Ketahuilah..
Aku, tidak akan pernah menjadi milikmu, karna aku sudah menjadi bagian dari dirimu.
Karna bisa saja sepi mengundang kau hadir lagi.
Aku coba melupakan susah payah, tiba-tiba sekelibat saja namamu ada, hari-hari itu seakan datang lagi.
Hari dimana selalu kunantikan untuk bertukar kalimat denganmu.
Hari dimana aku menghabiskan malamku untuk mempersiapkan diriku sedemikian rupa, karna esoknya jumpa denganmu.
Hari dimana pagi datang membawamu dengan sapaan hangat dan senyuman terlukis di wajahmu.
Hari dimana kamu membawa sesuatu yang biasa menjadi berharga.
Dan hari dimana kamu pergi tanpa pesan dan kembali lagi seenakmu.
Sepertinya sudah susah payah kututup semua celah untuk menghadirkanmu lagi,
Lalu tanpa dosa kamu datang mengacak-acak semuanya.
Dan sudah susah payah kubangun pagar-pagar agar jangan kamu datang,
Lalu dengan mudahnya kamu masuk dan meruntuhkannya dalam satu sentuhan, kusebut maha dahsyat.
Begitulah caramu memporak-porandakan perasaan, meski dengan tenang kamu masih menggengam tangannya namun tetap mencariku.
Aku tidak meminta agar kamu tau rasa jadi aku, tapi jangan sampai nanti ketika kamu lepas genggamanmu dengannya, kamu mencariku, seperti biasanya.
Lalu kamu anggap aku hanya pertolongan pertama pengisi kesepianmu?
Atau hanya anggap aku lilin penerang saat mati lampumu?
Lagi-lagi kuputuskan untuk membentengi lagi diriku, meski aku tau ini akan terus gagal, sebab bisa saja kamu menerobos lagi sesukamu.
Tapi ingatlah satu hal, siapa yang akan kamu cari kala ia menyakitimu.
Dan siapa yang akan tetap sabar meladeni tingkah konyol mu itu.
Mungkin aku akan tetap berdiri disini, terus mencoba membangun puing-puing semangat untuk cerita baru, dan akan tetap berdiri meski kutau kamu akan datang lagi.. Dan lagi..
Kemudian, jangan lagi kau anggap aku salah satu ikan mu, yang kau bilang masih banyak dilautan. Jika ikan lain pergi masih ada penggantinya, jangan.
Karna aku hanya akan menjadi tanah, memopang keluh kesah tempat kau berpijak, dan menjadi dasar dari lautanmu.
Ketahuilah..
Aku, tidak akan pernah menjadi milikmu, karna aku sudah menjadi bagian dari dirimu.
0 komentar