Lembaran foto usang tertata rapih, sebagian tidak teratur.
Beberapa kala aku melihat bagaimana ajaibnya benda itu...
Dimulai dari Mama ku, aku melihatnya malam itu, usai menuntunku doa sebelum tidur dan mengucapkan salam "Selamat tidur, mama. Selamat tidur papa." Mama pun menjawabnya dengan dua nada, satu, nada suaranya..
"Selamat tidur anak mama"
Dan satu lagi, nada suara yang diberatkan biar seperti suara laki-laki...
"Selamat tidur anak papa, katanya".
Aku pura-pura memejamkan mata, tak lama mama beranjak dari tempat tidur.
Mama kembali membuka lemari, mencari tas koper kerja kecil berkulit hitam, ia memutar kodenya, dan membuka isinya.
Ditemukannya beberapa lembar foto, dan tak lama berlinang kembali air matanya.
Begitu berulang dimalam-malam tertentu.
Lain waktu lagi, aku melihatnya, membuka beberapa album foto ukuran 17R. Dibolak baliknya lembaran demi lembaran, kali ini ia tersenyum. Beberapa kali ia mengusap-usap fotonya.
Kadang pula ia malah tertawa, seraya mengulang kembali cerita yang terekam dalam lembaran itu.
Pernah juga ia membuka album kecil 4R. Dibuatnya marah dengan album itu, lembaran demi lembaran dirobeknya menjadi tak beraturan. Kemudian tangis meledak dari wajahnya yang memerah.
Sungguh ajaibnya lembaran ini, ada sihir yang membuat mata yang melihat mengeluarkan banyak ekspresi.
Lambat laun akupun mencoba kebiasaan mama, seraya umurku makin bertambah, makin banyak juga lembaran foto baru, dan makin usang lembaran fofo lama. Tapi semua aku suka. Mereka bisa bercerita.
Dan dari lembaran foto juga, aku dapat mengetahui rupa Papa, yang sekuat apapun aku mencoba mengingat, tak akan bisa.
Mungkin ingatan anak umur 18 bulan tak bisa diharapkan.
Namun lembaran itu memberitahu rupa Papa ku.
Aku senang melihatnya, terlebih ia mengekalkan senyum Papa, aku yang melihatpun merasa bahwa Papa tersenyum juga melihatku.
Sungguh ajaib lembaran foto ini. Meski sosok asli dalam gambarnya sudah tiada, namun lembaran ini tetap menghidupkan mereka, juga membekukan kejadian didalamnya.
Makin dewasa aku banyak melihat lembaran foto.
Ada yang menarik, ada yang biasa saja, ada juga yang tidak mau kulihat sama sekali.
Tapi ada perasaan senang bila melihat yang menarik. Seolah mereka hidup dikepalaku.
Dari situlah aku mau jadi orang yang bisa membuat lembaran foto.
Awalnya mungkin, aku tak peduli dengan pendapat orang atas hasil fotoku. Lambat laun aku ingin membuat mereka terkesan dan turut merekam dalam pikiran mereka tentang kejadian atau sosok yang aku rekam dalam fotoku.
Diumurku yang baru memasuki 21 tahun ini, aku masih ingin terus menghasilkan rekaman dalam foto yang bisa orang lain nikmati kala melihatnya.
Tidak hanya itu, aku bisa memberitahukan apa yang ingin aku sampaikan kepada mereka yang melihat fotoku. Karna, aku lumayan susah terus terang, namun, ingin selalu didengar.
Dan aku ingin, ketika aku sudah tiada nanti, diriku, dan karyaku, tetap hidup dalam lembaran itu.
Sambil berharap suatu hari nanti ada yang sudi mengenangku, seperti aku yang selalu mengenang Papa.
Dan semoga lembaran foto atau dokumennya, akan selalu dapat menggantikan kehadiranku, kelak.
Beberapa kala aku melihat bagaimana ajaibnya benda itu...
Dimulai dari Mama ku, aku melihatnya malam itu, usai menuntunku doa sebelum tidur dan mengucapkan salam "Selamat tidur, mama. Selamat tidur papa." Mama pun menjawabnya dengan dua nada, satu, nada suaranya..
"Selamat tidur anak mama"
Dan satu lagi, nada suara yang diberatkan biar seperti suara laki-laki...
"Selamat tidur anak papa, katanya".
Aku pura-pura memejamkan mata, tak lama mama beranjak dari tempat tidur.
Mama kembali membuka lemari, mencari tas koper kerja kecil berkulit hitam, ia memutar kodenya, dan membuka isinya.
Ditemukannya beberapa lembar foto, dan tak lama berlinang kembali air matanya.
Begitu berulang dimalam-malam tertentu.
Lain waktu lagi, aku melihatnya, membuka beberapa album foto ukuran 17R. Dibolak baliknya lembaran demi lembaran, kali ini ia tersenyum. Beberapa kali ia mengusap-usap fotonya.
Kadang pula ia malah tertawa, seraya mengulang kembali cerita yang terekam dalam lembaran itu.
Pernah juga ia membuka album kecil 4R. Dibuatnya marah dengan album itu, lembaran demi lembaran dirobeknya menjadi tak beraturan. Kemudian tangis meledak dari wajahnya yang memerah.
Sungguh ajaibnya lembaran ini, ada sihir yang membuat mata yang melihat mengeluarkan banyak ekspresi.
Lambat laun akupun mencoba kebiasaan mama, seraya umurku makin bertambah, makin banyak juga lembaran foto baru, dan makin usang lembaran fofo lama. Tapi semua aku suka. Mereka bisa bercerita.
Dan dari lembaran foto juga, aku dapat mengetahui rupa Papa, yang sekuat apapun aku mencoba mengingat, tak akan bisa.
Mungkin ingatan anak umur 18 bulan tak bisa diharapkan.
Namun lembaran itu memberitahu rupa Papa ku.
Aku senang melihatnya, terlebih ia mengekalkan senyum Papa, aku yang melihatpun merasa bahwa Papa tersenyum juga melihatku.
Sungguh ajaib lembaran foto ini. Meski sosok asli dalam gambarnya sudah tiada, namun lembaran ini tetap menghidupkan mereka, juga membekukan kejadian didalamnya.
Makin dewasa aku banyak melihat lembaran foto.
Ada yang menarik, ada yang biasa saja, ada juga yang tidak mau kulihat sama sekali.
Tapi ada perasaan senang bila melihat yang menarik. Seolah mereka hidup dikepalaku.
Dari situlah aku mau jadi orang yang bisa membuat lembaran foto.
Awalnya mungkin, aku tak peduli dengan pendapat orang atas hasil fotoku. Lambat laun aku ingin membuat mereka terkesan dan turut merekam dalam pikiran mereka tentang kejadian atau sosok yang aku rekam dalam fotoku.
Diumurku yang baru memasuki 21 tahun ini, aku masih ingin terus menghasilkan rekaman dalam foto yang bisa orang lain nikmati kala melihatnya.
Tidak hanya itu, aku bisa memberitahukan apa yang ingin aku sampaikan kepada mereka yang melihat fotoku. Karna, aku lumayan susah terus terang, namun, ingin selalu didengar.
Dan aku ingin, ketika aku sudah tiada nanti, diriku, dan karyaku, tetap hidup dalam lembaran itu.
Sambil berharap suatu hari nanti ada yang sudi mengenangku, seperti aku yang selalu mengenang Papa.
Dan semoga lembaran foto atau dokumennya, akan selalu dapat menggantikan kehadiranku, kelak.
0 komentar