Aku mungkin mengenalnya bukan sebagai sosok yang baru
Aku juga tidak peduli dengannya dahulu
Tapi waktu memutar segala keadaannya dan racun ini memasuki tubuhku
Terlalu dini bila ku bilang ada benih cinta
Terlalu gegabah bila ku bilang aku menyayanginya
Tapi tak bisa ku elak bahwa aku memikirkannya
Namanya belakangan ini selalu hadir
Dan aku tak mengerti apa sebabnya karna disudut kampuspun mataku selalu mencarinya
Dan dekat dengannya adalah hal yang aku inginkan
Sumpah aku tak ingin membuat puisi cinta, belakangan, aku mulai tak pandai mengekspresikan perasaan cinta. Bahkan rasa itupun aku tak lagi punya, untuk siapapun itu.
Seolah kosong namun hati ini terasa penuh. Ibarat makan angin orang bilang.
Dan aku merasakan namamu meluap-luap disini. Ingin ku muntahkan namun tak ada rasa mual yang kurasa.
Atau mungkin aku bahagia karnanya, entah.
Karna ku lihat dia biasa saja. Sikapnya gak bisa tertebak. Bisa iya, bisa tidak.
Misterius katanya.
Jadilah dirimu tuan misterius.
Entah aku yang berlebihan atau memang kau yang ingin terlihat seperti itu.
Walau hari ke hari aku selalu dapat cerita baru dari halaman demi halaman yang kau buka.
Dan kubilang apa, sejujurnya aku tidak ingin menuliskan tulisan bertema cinta.
Aku tak handal, sungguh.
Tapi sekali lagi, perasaan ini meluap-luap dan aku tak tau ini apa.
Tuan misterius sering mengisi malam hariku, mungkin penyakit malam juga menyerangnya. Dan kami membunuhnya bersama.
Namun entah hanya bersama ku, atau yang lain juga.
Ini mungkin yang membuatku tak yakin ingin menamai apa perasaan ini, karna menjunjung ketinggianku sebagai wanita. Takut dibilang menyedihkan bila tepuk tangan sebelah saja.
Bukan.
Tentu kau pikir aku berharap, namun tidak.
Mungkin juga, belum.
Karna akupun tidak yakin dengan apa yang kurasa. Apakah angin benar membawaku pada rumah si tuan misterius? Atau hanya sekedar mampir kemudian berpaling ke rumah lain?
Dan dengan tidak jadinya tulisan ini bertema cinta, maka aku putuskan untuk berpasrah bagaimana nantinya dan kemananya angin akan membawaku pergi.
Aku pamit, tak tau mau kemana, dan bisa saja kerumah si tuan misterius.
Asal, jangan ke lembar sebelumnya.
Sebab mungkin saja masalalu sudah mati ku bunuh.
Biar saja, nanti juga aku tau.
Aku juga tidak peduli dengannya dahulu
Tapi waktu memutar segala keadaannya dan racun ini memasuki tubuhku
Terlalu dini bila ku bilang ada benih cinta
Terlalu gegabah bila ku bilang aku menyayanginya
Tapi tak bisa ku elak bahwa aku memikirkannya
Namanya belakangan ini selalu hadir
Dan aku tak mengerti apa sebabnya karna disudut kampuspun mataku selalu mencarinya
Dan dekat dengannya adalah hal yang aku inginkan
Sumpah aku tak ingin membuat puisi cinta, belakangan, aku mulai tak pandai mengekspresikan perasaan cinta. Bahkan rasa itupun aku tak lagi punya, untuk siapapun itu.
Seolah kosong namun hati ini terasa penuh. Ibarat makan angin orang bilang.
Dan aku merasakan namamu meluap-luap disini. Ingin ku muntahkan namun tak ada rasa mual yang kurasa.
Atau mungkin aku bahagia karnanya, entah.
Karna ku lihat dia biasa saja. Sikapnya gak bisa tertebak. Bisa iya, bisa tidak.
Misterius katanya.
Jadilah dirimu tuan misterius.
Entah aku yang berlebihan atau memang kau yang ingin terlihat seperti itu.
Walau hari ke hari aku selalu dapat cerita baru dari halaman demi halaman yang kau buka.
Dan kubilang apa, sejujurnya aku tidak ingin menuliskan tulisan bertema cinta.
Aku tak handal, sungguh.
Tapi sekali lagi, perasaan ini meluap-luap dan aku tak tau ini apa.
Tuan misterius sering mengisi malam hariku, mungkin penyakit malam juga menyerangnya. Dan kami membunuhnya bersama.
Namun entah hanya bersama ku, atau yang lain juga.
Ini mungkin yang membuatku tak yakin ingin menamai apa perasaan ini, karna menjunjung ketinggianku sebagai wanita. Takut dibilang menyedihkan bila tepuk tangan sebelah saja.
Bukan.
Tentu kau pikir aku berharap, namun tidak.
Mungkin juga, belum.
Karna akupun tidak yakin dengan apa yang kurasa. Apakah angin benar membawaku pada rumah si tuan misterius? Atau hanya sekedar mampir kemudian berpaling ke rumah lain?
Dan dengan tidak jadinya tulisan ini bertema cinta, maka aku putuskan untuk berpasrah bagaimana nantinya dan kemananya angin akan membawaku pergi.
Aku pamit, tak tau mau kemana, dan bisa saja kerumah si tuan misterius.
Asal, jangan ke lembar sebelumnya.
Sebab mungkin saja masalalu sudah mati ku bunuh.
Biar saja, nanti juga aku tau.
0 komentar