Dalam hidup tentu ada masa lalu dan masa depan. Kita biasa menyebut bagian dari masa lalu sebagai kenangan.
Banyak cara orang menanggapi kenangan yang mereka miliki, ada yang mati-matian melupakannya, ada yang tidak peduli dengan kenangan karna terlalu terobsesi dengan masa depan, ada juga yang hidup selamanya dalam kenangan.
Dan mungkin aku akan menjadi orang yang hidup selamanya dalam kenangan, namun juga mati-matian melupakannya.
Sebenernya aku belum sepenuhnya mencoba melupakannya, bahkan kupikir, setiap sudut dalam hidupku ini penuh dengan kenangan. Bagaimana bisa begitu saja aku melupakannya, bahkan nyaris mati aku dibunuh kenangan.
Yang lalu, aku bilang, sepenuhnya aku sudah ikhlas. Demi Tuhan aku ikhlas, dan aku berjanji tidak akan sedikitpun masuk lagi kedalam segala sesuatu apapun yang bebau tentang kenangan dengan dia.
Namun apa yang sesungguhnya terjadi, keikhlasanku tidak melepaskan aku sepenuhnya dari bayangannya.
Aku bingung, entah apalagi yang harus aku lakukan. Aku ingin minggat dari ini semua!
Demi Tuhan aku ikhlas, kami pun sama-sama bahagia sekarang. Namun kenangan itu kenapa harus berkunjung lagi kedalam hidupku...
Akupun penasaran, apa dia yang disana pernah merasakan hal yang sama denganku meskipun dia telah menjalani cintanya yang baru?
Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk aku?
Aku ingin bernafas lega tanpa namanya di dadaku. Dia memenuhinya!
Aku ingin tidur nyenyak tanpa suaranya di kepalaku. Dia mengganggu!!
Aku ingin hidup sebahagia dirinya, dengan cinta yang baru dengan lembar kehidupan yang baru, dan membakar lembaran lama tentang kita. Dia Brengsek!!!
Dan apalagi perasaan ini, membuat nafasku sesak, tidak bisa berpikir hal yang lain, semua karna siapa?
Aku ini sekarat,
.....dan dia tak peduli.
Sama sekali.
Betapa Tuhan menciptakan dirinya sebagai sang antagonis yang sangat egois!
Ibarat laron, dia datang saat aku sedang menyala-menyalanya. Mengerubungi cahaya yang terpancar biar dia tutupi semua. Belum lagi sampah-sampah sayap yang dia tinggalkan. Ini menjijikan!
Tolong, pergi saja.
Aku mau tidur.
Besok aku mau pergi, mencari lokasi yang tidak ada dianya.
Doakan aku,
Semoga aku berhasil.
Banyak cara orang menanggapi kenangan yang mereka miliki, ada yang mati-matian melupakannya, ada yang tidak peduli dengan kenangan karna terlalu terobsesi dengan masa depan, ada juga yang hidup selamanya dalam kenangan.
Dan mungkin aku akan menjadi orang yang hidup selamanya dalam kenangan, namun juga mati-matian melupakannya.
Sebenernya aku belum sepenuhnya mencoba melupakannya, bahkan kupikir, setiap sudut dalam hidupku ini penuh dengan kenangan. Bagaimana bisa begitu saja aku melupakannya, bahkan nyaris mati aku dibunuh kenangan.
Yang lalu, aku bilang, sepenuhnya aku sudah ikhlas. Demi Tuhan aku ikhlas, dan aku berjanji tidak akan sedikitpun masuk lagi kedalam segala sesuatu apapun yang bebau tentang kenangan dengan dia.
Namun apa yang sesungguhnya terjadi, keikhlasanku tidak melepaskan aku sepenuhnya dari bayangannya.
Aku bingung, entah apalagi yang harus aku lakukan. Aku ingin minggat dari ini semua!
Demi Tuhan aku ikhlas, kami pun sama-sama bahagia sekarang. Namun kenangan itu kenapa harus berkunjung lagi kedalam hidupku...
Akupun penasaran, apa dia yang disana pernah merasakan hal yang sama denganku meskipun dia telah menjalani cintanya yang baru?
Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk aku?
Aku ingin bernafas lega tanpa namanya di dadaku. Dia memenuhinya!
Aku ingin tidur nyenyak tanpa suaranya di kepalaku. Dia mengganggu!!
Aku ingin hidup sebahagia dirinya, dengan cinta yang baru dengan lembar kehidupan yang baru, dan membakar lembaran lama tentang kita. Dia Brengsek!!!
Dan apalagi perasaan ini, membuat nafasku sesak, tidak bisa berpikir hal yang lain, semua karna siapa?
Aku ini sekarat,
.....dan dia tak peduli.
Sama sekali.
Betapa Tuhan menciptakan dirinya sebagai sang antagonis yang sangat egois!
Ibarat laron, dia datang saat aku sedang menyala-menyalanya. Mengerubungi cahaya yang terpancar biar dia tutupi semua. Belum lagi sampah-sampah sayap yang dia tinggalkan. Ini menjijikan!
Tolong, pergi saja.
Aku mau tidur.
Besok aku mau pergi, mencari lokasi yang tidak ada dianya.
Doakan aku,
Semoga aku berhasil.
0 komentar