Diberdayakan oleh Blogger.

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

CATEGORY >

Gelisah

Itulah yang aku rasakan jelang detik aku akan bertemu dia. Bahkan dipagi jelang bertemu, sampai bangun 4x, kukira siang sudah datang.

Dan menjelang sore depan Kampus Tercinta, akhirnya sosok lelaki yang membuat pikiranku sibuk beberapa hari inipun, datang.

Dengan senyum dan sapaan, aku lega akhirnya bertemu dia.

Kami menghabiskan sore hingga malam, bertukar cerita dan saling bercanda.
Selebihnya kami sibuk bertatapan satu sama lain. Mungkin saling tak menyangka hari ini, hal yang tak terduga telah terjadi..

Aku masih ingat betul bagaimana matanya mengedip, bagaimana ia menarik nafasnya, bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia tertawa, bagaimana raut wajahnya saat ia bercerita hal yang menyakitkan baginya, bahkan bagaimana ia tersipu malu, dan terlebih bagaimana mimik bibirnya saat mengucapkan pengakuan bahwa ia menyukaiku.

Sungguh detak jantungku seakan dipicu untuk lebih cepat memompa darah ke otak, sehingga aku berpikir lama dalam memproses perkataannya sembari tak percaya dengan apa yang ia katakan.

Ia menyukaiku.

Begitupun, aku.

Biasanya aku sangat menghargai proses untuk memutuskan apakah aku akan memilih untuk memulai hubungan atau tidak.
Dan kini, proses yang kami lalui sungguh kilat, aku menerimanya sebagai orang yang akan aku bagi cerita tentang diriku, keseharianku, kesenanganku, juga kesedihanku. Aku menerimanya sebagai orang yang nantinya akan aku rindukan pada malam-malam kosong, yang akan penuh dengan dirinya.

Aku rasa keterkaitan kami tidak terjadi sesingkat baru tadi aku bertemunya, tapi jauh sebelum itu, dimana kami menghabiskan waktu kami, untuk saling bertukar pesan, tawa, canda, dan cerita melalu media dalam genggaman.
Maka pertemuan hanya menjadi pelengkap dan pemasti perasaan ini.

Itulah yang membuat aku tak berpikir panjang untuk menerimanya. Memulai dari 0 bersamanya.
Aku percaya padanya, percaya pada apa yang aku rasa, percaya pada prinsipnya, percaya pada kepribadiannya yang mulai terbuka kepadaku.

Jawaban untuk tulisan kemarin malam:
Aku akan menempatkan namanya, secara rapih dihatiku? Adalah, iya.

Dan kini aku mulai berani menaruh harapan untuk aku, dia, kami, dan kebahagiaan.
Sambil berkenalan, dan menebarkan cinta tiap harinya, agar harapan itu dapat tercapai.

Dan bila esok akan datang masa dimana aku merasa jenuh aku harap aku dapat membaca kembali tulisan ini, bahwa aku pernah merasa sebahagia ini bersamanya..




Selamat pagi,
Sayangku.

Share on:

Terakhir yang aku tulis, aku bimbang dan menyerahkan Kuasa Tuhan untuk masalahku, mungkin bila ada taraf kesabaran, aku berada di paling atas.

Sungguh sudah sangat sabar, disakiti dan disakiti lagi, namun manusia pada dasarnya tak lepas dari rasa emosi yang pada akhirnya dapat kutumpahkan seada-adanya pada dia si brengsek pengumbar sumpah dan janji.

Aku putuskan untuk memerdekakan diriku sendiri dari penjajahan kebodohan yang dia tanamkan.

Entah lagi-lagi atau bagaimana, Tuhan memberikan jalan padaku, makanya aku sangat percaya bahwa Tuhan adil dan aku selalu merasakan keadilan itu.

Tuhan mendatangkan obat ditengah kesakitan yang kurasa memang karna kebodohan dari aku sendiri yang selalu dan terus menerus menjadi tokoh yang sabar, hingga kadang aku tidak menyadari bahwa aku selalu diinjak.

Obat itu datang begitu saja, dan sungguh beberapa hari ini aku merasa bahwa obat ini bekerja dengan baik, dan membangkitkan rasa percaya diriku lagi.

Tautan ku tentang lelaki yang kebanyakan hanya mau menang sendiri dan bertindak semaunya, terpaksa aku hilangkan, sejak aku mengenalnya, sejak aku mengenalnya lebih dalam lagi.

"Sedikit cemas, banyak rindunya"

Aku mungkin cemas dengan apa yang aku hadapi sekarang, terkait aku bahkan belum bertemu dengan lelaki yang menyita pikiranku ini. Tapi terlepas dari kecemasan dalam hati, aku sungguh merindukannya seolah kami sudah pernah bertemu dan berpadu sebelumnya.

Atau memang alasan aku rindu bahwa sesungguhnya aku memang butuh sosok sepertinya dari dulu, dan dia baru datang sekarang, menyadarkanku bahwa aku juga berhak dipelakukan istimewa tanpa paksaan dan dengan kesederhanaan dirinya yang dapat buat aku tersenyum lagi..

Bila Tuhan mengizinkan, aku akan bertemu dia besok.
Rasanya tak sabar menunggu detik agar cepat berlalu.
Bila memang yang aku rasakan tulus, seperti apapun dirinya yang akan aku temui besok, aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana rupa dirinya kelak, aku hanya ingin tau, sosok sebenarnya orang yang sampai ku samakan dengan definisi obat untuk menyembuhkan.

Aku tak akan cepat menyimpulkan apa yang aku rasa padanya, namun biarlah waktu akan menjawab semuanya bagaimana nantinya ini akan berakhir, atau dimulai.

Tak juga aku menaruh banyak harapan, takut bila dia yang akan kecewa setelah bertemu denganku, namun tak bisa aku bohongi bila memang benar, harapan itu ada, meski tidak besar, namun aku berharap.

Dan semoga, bila besok aku sudah bisa menyimpulkan bagaimana perasaanku, aku bisa berubah menjadi wanita yang lebih baik untuk diriku sendiri dan untuknya, dan menempatkan namanya secara rapih di hatiku.

Aku tak sabar!
Matahari, cepatlah datang!

Share on:

3 bulan.
3 kali kecewa.
3 kali sehari menangis dalam 3 hari.

Harusnya angka 3 jadi angka keberuntungan, menurut orang tanggal lahir kita menyematkan keberuntungan untuk kita sendiri.

Tapi diantara 3 yang tak enak, mungkin aku sudah punya sekitar 300 kenangan bahwa aku pernah tersenyum karnanya.

3 yang terakhir itu fatal, katanya kalo sampai ke 4 terulang, aku lebih bodoh, dari orang bodoh, entah harus kunamai apa.

Ada keinginan yang sangat bodoh, yaitu mempercayainya lagi. Entah dengan didasari apa. Dengan indikator apa. Dengan kebijakan macam apa. Aku memaafkannya.

Harusnya, dan jadi suatu yang lumrah bila aku menyupahinya dengan sumpah serapah super mengerikan misalnya impotensi atau tak bisa ereksi.
Pasalnya yang dia lakukan, sungguh, sangat, amat, fatal, dan bodoh.
Naasnya lebih bodohnya lagi kini aku memilih kembali lagi padanya.

Seminggu ini kuputuskan kembali padanya, dan ingin menempatkan diri seolah tak ada apa-apa tak pernah terjadi apapun. Seolah kita masih bisa tertawa bahagia seperti sedia kala, saat aku tak tau bahwa aku sedang di khianati dari belakang.
Dan proses itu sungguh aneh. Proses menjadi biasa saja seperti sedia kala.
Proses terakhir yang aku inginkan sepertinya bukan ini, aku pernah bilang "melupakannya butuh proses, proses yang tak perlu dinikmati dan harus dilakukan secepat mungkin".

Kini aku merasa mengambang. Antara meyakinkan diri sendiri bahwa aku sayang atau benci pun tak bisa aku lakukan.

Baru saja aku bilang, selama ini aku merasa aku berjuang sendirian. Dia tidak terima pernyataanku. Dia pikir dengan dia yang sudah masuk ke duniaku, dia sudah berjuang, karna menyayangiku.

Tapi taukah?
Siapa yang meyakinkan keluargaku bahwa dia adalah orang baik?
Siapa yang mengenalkan pada temanku, bahwa akhirnya dia lah yang aku pilih, karna dia terbaik?
Siapa yang memperbolehkan dia datang ke keseharianku, agar semua orang tau, aku sudah punya dia?
Siapa yang mengizinkan dia mendatangi rumah dan tempat-tempat yang aku suka?
Siapa kalau bukan aku sendiri orangnya?  Lantas, dimana perjuangan yang dia lakukan?

Selain..
Bilang pada orang lain bahwa aku adalah teman atau adiknya?
Saat bersamaku, dia berusaha mengumpatkan kehidupan pribadinya dari wanita lain yang dia kejar?
Saat ingin menjemputku, dia bilang pada wanita lain bahwa dia akan menjemput ayahnya?
Saat wanita lain ingin meminta dia menjemput, dan saat itu dia sedang bersamaku, maka dia akan bilang bahwa dia sedang ada urusan dengan saudaranya?
Atau mencari kesenangan lain dibelakangku?
Mengobral janji pada wanita lain bahwa dia akan selalu ada disampingnya?
Meminta maaf berkali-kali kepadaku, dan mengucap janji-janji lagi kepadaku?
Kurasa, itu perjuangannya.

Pasti lebih sulit yang ia jalani, harus berpura-pura dengan beberapa peran, sedangkan aku dengan mudahnya tanpa berbohong menjadi apa adanya dimatanya.
Ah... Harusnya aku mengerti, sungguh lelah berada di posisinya untuk selalu menjadi aktor yang berharap dapat penghargaan atas aktingnya yang memukau.

Tuhan.. Dari reruntuhan yang tersisa, apa yang bisa aku bangun?

Apa aku harusnya membiarkan reruntuhan itu, atau berusaha membangunnya kembali?

Tuhan.. Apa bukan dia orangnya, pengganti mereka yang pergi dari sisiku, atau aku meninggalkannya karna alasan tertentu?

Tunjukilah jalan..
Apakah dia orangnya?
Dia yang bilang menyesali perbuatannya?
Dia yang bilang takkan mengulanginya?
Dia yang bilang menyayangiku?
Dan
Dia yang 3 kali menyakitiku?

Share on:

Kadang suka ngerasa gak sih, kita persiapin sesuatu, tapi kita suka lupa justru waktu yg kebuang buat persiapan bikin kita jadi keteteran?

Contohnya pagi ini..
Semalaman gue ngapalin presentasi sampe bener-bener pembahasan di luar kepala semua, gue tidur jam 2 pagi.
Bangun subuh, terus sholat.
Abis sholat main game niat biar ga ngantuk tapi apalah daya mata ga kuat dan akhirnya ketiduran.
Tetiba nyokap teriak buat gue matiin lampu kamar dan kamar mandi dikamar gue yang lupa gue matiin, pas abis matiin niatnya mau tidur lagi, tapi pas liat jam 07.19, seketika langsung loncat dari kasur dan langsung mandi.
Dan kuliah gue jam 08.00

Jam 07.30 gue langsung pesen Uber, gue sih tau kalo dosen hari ini suka ngaret tapi gimanapun kan gue mau maju presentasi. Akhirnya gue kebirit-birit siap-siap.
3 menit kemudian gue dapet driver, dan saat itu gue mulai tenangan.
Sambil nunggu uber dan pake kerudung, gak lupa gue masih ngasah ingatan gue buat presentasi.

15 menit berlalu gue pun sms si driver nanya keberadaannya, tp gak dibls.
Yaudah akhirnya dgn sisa-sisa pulsa sambil keringet dingin gue nelpon si driver:
"halo, saya yang pesen uber, bapak dimana ya?"
Dia jawab dgn latar yg berisik bgt menandakan dia lagi di jalan
"aba aku aba aba aba tugu tar" jawabnya.
Karna pas gue liat fotonya masih muda gue putusin buat manggil mas aja.
"mas ngomong apa?  Posisi dimana mas?  Biar saya arahin"
"aba ata uta tugu uta tata" jawabnya.
Keringet gue makin ngucur, emosi mulai tumbuh "mas ngomong apaa? Mas dimanaa?  Duh saya nih buru-buru jgn becanda!"
"aba ta sa ja kha ho" jawabnya. (ngetik ngasal saking gatau dia ngomong apa)
AH!
Gue langsung matiin telpon dan pindah ke depan rumah karna gue pikir signal bermasalah.
Gue kembali sms, tapi balesannya gitu. Ngeselin.
Gue sms lagi dan dia akhirnya jawab dia bilang "aku kalibata raya"
Pengen nangis sih asli.
Gue mulai kesel dan buka aplikasi ojek lain, naasnya, karna itu senin pagi, jam sibuk, gada yg ambil order gue.
Gue kembali nelpon si abang uber.
"mas dimana sumpah kalo nyasar kasitau, saya buru-buru banget"
"aba baga baga baga tugu tugu haba"
AMIIIIIITTTTAAAAAAbacan.....
Emosi sampe ubun-ubun, sedangkan harapan gue untuk sampe ke kampus cuma dia..
Gue matiin telponnya, bahkan itu udh jam 8 lewat.
Yang ketiga gue telpon gue mulai sewot terus pas gue baru ngomong langsung keputus, pulsa gue abis.
Di sms dia bales dan malah nanya "kamu dimana?"
Gue yang nunggu depan pager saat itu beneran emosi, gabut dsb.. Sampe beli susu kotak 2x dan naasnya susunya tumpah ke kertas pegangan point presentasi gue, akibat gue marah-marah.
Gue pun menjalani smsan lolot dengan si driver. Sambil pengen nangis garuk-garuk aspal.
Dan dia 2x bales "aku udah disini" sedangkan gue nunggu dia geleprak di depan pager dan gak ada siapa-siapa.

Akhirnya gue bete dan pasrah, sambil terus nyoba cari transportasi lain, namun nihil.
Gue pun make headset sambil menyedihi nasib gue pagi itu.
Pas lagi denger lagu, tetiba ada suara masuk di sela-sela lagu "TA TA TA TA"
spontan gue lepas headset dan nengok ke sumber suara.
Terlihatlah, sosok driver uber lengkap dengan atribut uber menggunakan motor Honda Revo.
Dia teriak teriak nengok kanan kiri sambil teriakin nama gue
"ITAN ITAN ITAN ITAN ITAN!"
Itu terjadi di sepanjang gang rumah gue, diiringi para tetangga yang ngeliat keheranan.

gue bengong. Gatau harus apa.

Akhirnya gue bangun dan berentiin dia "saya intan mas"
"Itan? Hah hemu ga" jawabnya
Dan ternyata dia tuna wicara tp masih dibilang cuma gagap....
Yang tadinya mau marah, akhirnya gak jadi.

"Itan mo mana" tanya dia
"IISIP mas, lenteng agung. Buru mas saya udh telat bgt"
"mau huhiah? Mahahiwa? Hahi mahahiwa haus habah, hahi mahet" kira-kira gini translatenya "mau kuliah? Mahasiswa? Jadi mahasiswa harus sabar, tadi macet"
Gue senyum dan gue bilang
"duh iya iya mas. Sekarang jalan ya sumpah ga boong saya buru-buru"
"yauda aik!" jawab dia sambil setengah ketawa.

Di daerah Pasar Minggu dia nanya
"mauk ham heraha?"
karna gue budek gue ngulang pertanyaan dia, "mau apaan mas?"
"hamu mauk ham heraha?!" katanya setengah teriak. Translatenya "kamu masuk jam berapa?"
"jam 8 mas! Sekarang jam 08.40 telatnya pake banget!" jawab gue.
"ohe hegang gan!" translatenya "oke pegangan!" tapi nada dia masih bersahabat bikin gaenak gue udh marah-marah ke dia.

Dijalan dia bener-bener ngebut dan gue berhasil sampe kampus jam 08.50.
Abis ngasih ongkos, gue langung lari secepat mungkin.
Dia teriak "HA I HA I ITAN" maksunya bilang hati-hati......
Gue jawab "oke makasih mas!" sambil teriak dan lari.

Sampe kelas dosen belum dateng

Ternyata kelompok gue maju ke 2

Pas mau maju ternyata waktu gak cukup

Terus presentasinya minggu depan

Dan

Hari itu kuliah gue cuma itu doang.....
.
.
.
.
Seketika pengen nangis, sambil tiduran, dikipasin sama Alex Turner.
.
.
.
Makasih mas uber, udah sabar.
Dengan segala kekurangan, masih mau bekerja.
Maafin saya nyolot ke masnya.
Sehat dan sukses selalu mas.
:)

Jam 18.30 - 19.15 ada nomer yang sama telponin gue sampe 15x. Nomer mas itu.

Jam 20.15 dia nelpon lagi gue angkat telponnya
Di telpon dia ngomong gak jelas lagi.
Gue sms "kenapa?"

Jawabnya,
"Aku karet bivak"
Sms selanjutnya
"kamu dimana?"

Bodo amat ah mas :)

Share on:
Malam ini aku berduka
Atas kepercayaan diriku yang telah mati
Aku berduka, bahwa kenyataan menyadarkan aku lagi, membangunkan aku yang dulu dan merasa egois lagi.

Aku merasa tidak layak lagi, tidak untuk sedikitpun, mendapat kepercayaan untuk menjaga hati seseorang, karna akan berakhir ku patahkan.

Aku dengan segala kekacauan yang telah kuperbuat.
Tidak lebih dari seorang wanita yang tidak memiliki perasaan memikirkan orang lain, kecuali kesenangan ku sendiri.

Tuan misterius memutuskan untuk menjauhi ku. Tentu ada rasa dimana aku menjadi begitu sangat rapuh tanpanya, yang semakin aku rasakan, ketika ia dengan bola matanya yang tidak ingin melihatku. Atau berpura-pura tidak mengetahui kehadiranku. Aku tau ia sangat sadar dengan siapa dia berada di jarak yang tidak lebih dari semeter denganku. Tapi lagi-lagi dengan dada yang sakit aku juga berpura-pura bahwa aku biasa saja.
Dan seiring langkahnya pergi, ada rasa perih yang tidak mengenakan.
aku yakin dia juga merasakan perih itu, meskipun sedikit, pasti ada.

Dia dengan langkahnya yang pergi, seharusnya tidak perlu kembali menengok kearahku, yang pasti semua tau bahwa mataku juga tidak bisa lepas darinya.
Dan saat mata kami bertemu, aku merasakan bahwa walau sedikit, dia masih peduli, masih ingin tau, masih ingin memelukku. Begitupun aku.

Kuhabiskan malam-malam sunyi dengan penyakit yang sama seperti dahulu. Kali ini untuk mengenangnya.
Tak banyak kenangan yang kami ciptakan, namun aku merasa tidak perlu banyak kenangan untuk mengenang seseorang yang berharga menurutmu.

Kepalaku berputar-putar. Banyak hal lain menyusup, terutama tentang dia yang sudah punya cintanya yang baru, juga tentang tuan misterius yang memilih menjaga persahabatannya untuk tidak dekat lagi denganku.

Sehari-hari di kampus tercinta, aku menghindari beberapa titik dimana aku biasa melihatnya. Aku memilih berjalan cepat, dan tidak menoleh sama sekali di titik-titik itu.
Aku merasa menjadi pecundang. Tapi itu masih lebih baik daripada aku harus melihatnya lagi, kemudian menangis lagi.
Namun anehnya di tempat-tempat yang sudah aku tandai akan berpotensi lebih tinggi untuk bertemu dengannya, justru dia yang lebih sering lewat ditempat biasa aku berada dikampus.
Takdir yang menyakitkan, saat menghindari namun justru dihampiri.

Aku akan bercerita tentang seorang yang sesungguhnya hanya mengisi hari-hariku selama kurang lebih 5 hari ini. Sebelum aku memutuskan untuk berhenti berhubungan dengannya, karna rasa bersalah menghantui diriku.
Semoga aku tidak dibenci oleh karma.
Aku sudah menyadarinya, sungguh, sebelum semua terlanjur berlarut. Aku tak ingin menyakiti siapapun, dan semua orang yang menaruh niat baik kepadaku, sungguh.
Namun saat ini biarkan aku mendedikasikan tulisan ini untuk tuan misterius.
Aku ingin mengenangnya, walau sekali lagi, tidak banyak kenangan yang kami ciptakan.
Namun, aku merasa bahwa aku sudah memilikinya.
Ya, tuan misterius.
Share on:
Aku pernah marah, jangankan aku, semua orang pernah marah.
Kadang ada alasan, kadang tidak. Yang jelas emosi negatif ini pernah hidup dalam diri seseorang, lama, atau sebentar.

Aku pernah marah,
Pada keadaan yang membuat aku tidak menjadi diriku, saat aku berpura-pura baik-baik saja, saat aku bilang "aku tidak papa", saat aku bilang "aku setuju" nyatanya tidak.

Aku pernah marah,
Pada kehidupan seseorang, yang kupikir meski tinggal di bawah matahari dan planet yang sama, aku merasa berbeda dengan mereka.

Aku pernah marah,
Pada kamu yang sudah pergi, hilang tanpa arti, kadang pula luka menyayat hati yang kamu pernah tinggali. Dan pergi, bersama dia yang katanya mencintaimu setengah mati.

Aku pernah marah,
Pada diriku sendiri
Pada aku yang tidak bisa menentukan sikap dan atas beberapa hal yang aku perbuat diluar kendali. Sungguh aku sesali, namun tetap saja tak bisa terobati, patahan-patahan hati yang katanya ku sakiti, entah apa lagi yang harus aku perbaiki.

Aku pernah marah,
Pada cinta yang entah sengaja atau tidak, telah memilihmu, dan kau adalah orang yang salah. Dan suatu ketika kau kembali dengan dirimu yang lain, lebih baik, tapi aku tak lagi bisa mencintai. Percayalah, bahkan kadang cinta salah alamat.

Aku pernah marah,
Tapi apalah arti kemarahan, marah tak bisa hidup lama, marah tak bisa bertahan lama, marah tak bisa memilih, namun kadang marah datang karna dibuat-buat.

Aku marah.
Aku pernah marah.
Percayalah, marah akan diusir oleh senyuman.
Maka apa saat ini aku bahagia setelah marah?

Tidak.
Karna saat aku menulis ini, pikiran ku kemabli lagi, menyusul marah.
Dan aku, sedang marah.
Share on:
Senin di Pagi Agustus, Tanggal 1 tahun 2016.
Kalibata, Jakarta Selatan.
Pukul, 01.00
Malam ini aku tidur berdua dengan juniorku dikampus, dan di sebuah UKM Fotografi Kaphac 32, Ajeng namanya. Karna rumahnya jauh di Citayam, maka ia menginap malam ini, kami menghabiskan malam dengan mengobrol, tapi perbincangan malam ini seperti bukan sebuah perbincangan senior dengan junior, namun sebagai seorang sahabat.
Setelah bongkar ulang packingan beberapa kali sambil asyik mengobrol, akhirnya packing selesai, dan kami tidak langsung tidur. Entah karna mungkin terlalu bahagia, penasaran atau apa, yang pasti mata ini lelah namun tak ada rasa mengantuk.
Kami beragi cerita apa saja. Termasuk tebak-tebakan kami tentang tempat yang akan kami kunjungi selama 5 hari kedepan, Baduy.


“Kak, kayaknya kita telat..”
Seketika mataku langsung terbuka selebar-lebarnya, termasuk kaget karna cahaya matahari sudah begitu terang dari jendela. Ku ambil handphone sudah ­­­menunjukkan pukul 06.30 kulihat banyak pesan di handphone ku, dari Jody, teman yang juga akan berangkat bersama ku pagi itu. Namun panik tak terelakkan, aku langsung lari ke kamar mandi, dan lansung mandi sekilat mungkin.
Setalah memesan ojek online kamipun lanjut bersiap-siap. Dan hanya kepanikan yang ada di wajah kami, teringat kereta kami akan berangkat pukul 08.00.
Susudah bersiap, ojek online yang akan mengantar kami, telah sampai di depan rumah, dan kami langsung bergegas berangkat dengan membawa tas carrier masing-masing.
Ditengah jalan di daerah Kuningan, aku sempat panik lagi karna polisi memberhentikan motor yang aku tumpangi. Polisi itu menyuruh kami berhenti di tengah jalan, dan ternyata dia hanya bertanya tentang barang bawaanku, “itu apa ya?” lalu dengan sewot aku dan driver ojek menjawab “ini tas carrier pak!” lalu dia hanya menjawab “ooh yaudah sana lanjut lagi”. Rasanya bila ada kesempatan, ingin aku tabrak saja polisi itu.
Sampai di daerah Karet Bivak, motor yang aku tumpangi oleng, bannya pecah, robek terkena paku beton yang entah dari mana asalnya. Aku tambah panik, driver ojekpun bilang ia akan segera mencari tukang tambal ban. Namun aku memikirkan berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menunggunya, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 07.30.
Akhirnya aku meminta jalan duluan ke driver itu, sesegera mungkin aku pesan ojek lagi namun tak ada yang mau mengambil orderanku, karena jam sibuk di pagi hari,, dan aku berada di derah erkantoran. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu taksi dan 10 menit kemudian akhirnya aku mendapatkan taksi.


Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Pukul 07.45
Akhirnya aku sampai di stasiun dengan meminta sang supir taksi mengebut, 5 menit saja aku sudah sampai, kulihat ke 10 rekan yang akan berangkat bersamaku telah menungguku, dan Ajeng sudah sampai duluan. 3 menit setelah aku sampai, kami berangkat menuju peron kereta Rangkas Jaya. Namun ketar-ketir kembali terulang, karna masih ada 2 teman kami belum datang, sedangkan kami sudah berada di dalam kereta. 2 menit sebelum kereta berangkat salah satu teman kami Alfian yang akrab dipanggil Jancuk, datang. Kami bernafas lega sekaligus berat juga karna dengan terpaksa kami meninggalkan salah seorang teman kami, yang seangkatan denganku, Surya, karna dia tidak ada kabar.

Pukul 08.00
Kereta berangkat, dari Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung.
Kini jumlah kami menjadi ber 11. Dengan 2 orang senior, yaitu bang Lito dari angkatan 1, dan bang Evan dari angkatan 9. 4 orang dari angkatan 18, aku, Jody, Jancuk, Fikhri yang akrab dipanggil Ote. 4 orang lagi dari angkatan 19, Ajeng, Izzat, Edi, dan Agung yang akrab disapa Gaung. Tidak lupa juga seorang Guide kami sekaligus fotografer, bertahun-tahun sudah ia mempelajari suku Baduy, kampung halaman kedua katanya, namanya bang Bagol.
Canda tawa di kereta pun tak terelakkan, saling mengejek satu sama lain, dan 30 menit kemudian semua sudah terlelap di bangkunya masing-masing.
Rangkas
Pukul 09.30
Kami tiba di stasiun Rangkas Bitung, dan langsung menuju tempat dimana elf akan menjemput kami, sembari menunggu kamipun menyantap sarapan di sekitar sana, dan seusainya kami langsung melakukan pembagian untuk 2 kelompok yang akan menyisir 2 jalur berbeda, agar kami lebih bisa mengeksplore keseluruhan budaya disana, juga agar frame yang akan kami bidik, bervariasi.
Kelompok 1, ada bang Lito, Jody, Jancuk, Edi, dan Ote, ditambah seorang guide orang asli Kanekes, bernama kang Herman.
Kelompok 2, ada bang Evan, aku, Ajeng, Izzat, Gaung, dan bang Bagol.
Kamipun berpisah dan berangkat dengan elf masing-masing kelompok. Kelompok 1 akan menempuh perjalanan selama 1,5 jam menuju Ciboleger, dan kelompok 2 akan menempuh perjalanan selama 2,5 jam menuju Cijahe. Dan kedua kelompok ini akan bertemu di akhir hari ke 3.

Pukul 13.40
Kami sampai di Cijahe, terlihat beberapa orang dari suku Kanekes atau lebih dikenal dengan suku Baduy, mereka berpakaian berwarna putih hitam berikat kepala putih yang artinya suci, yang menandakan mereka orang Baduy Dalam, dan terlihat beberapa belas orang dari rombongan yang akan menjelajahi Baduy Dalam.
Disini kami juga menemui porter yang akan turut menemani kami hingga akhir perjalanan, seorang anak kecil yang kuat dan tangguh, Jamir, bersama dengan ayahnya, kang Suherman, dan uwaknya.
Dan perjalanan kamipun dimulai, 20 menit kemudian kami pun sampai di kampung pertama


Kampung Cibungur
Pukul 14.00
Kokolotan dalam pemerintahan orang Baduy adalah pemerintahan terbawah, kokolotan adalah seorang yang dituakan di kampung, bila di wilayah biasa mungkin Kokolotan akan setara dengan seorang ketua RT, di rumah kokolotan inilah, kami akan menginap selama 1 malam.
Dan disini kami banyak bertemu dengan orang-orang yang memakai baju berwarna hitam-hitam, berikat kepala batik berwarna biru, sedangkan yang perempuan memakai baju hitam dan rok batik berwarna biru. Ini menandakan mereka adalah orang Baduy Luar. Namun seiring perkembangan zaman, di kampung-kampung Baduy luar, juga bisa didapati orang-orang yang sudah memakai pakaian modern seperti kaos dan celana jeans.
Sore hari di Kampung Cibungur kami habiskan dengan memotret kegiatan warga disana juga mengunjungi Kali Cibungur, sambil menyaksikan anak-anak kecil sedang mandi dan berenang beramai-ramai dengan teman-temannya.
Malam tiba dan kami harus membiasakan diri untuk bermalam tanpa pencahayaan lampu, karna tidak adanya pasokan listrik. Sebuah lilin kecil pun menemani kami bersantap malam
Seusai santap malam, kami tak tau harus melakukan apa, karna signal handphone sudah mulai hilang-hilangan, sebagian memilih tidur, namun aku dan Ajeng memilih mengobrol saja.
Dan ini lah hal yang membuat aku takjub dengan masyarakat suku Baduy, menolak pasokan tenaga Listrik untuk pencahayaan agar dapat tetap melihat keindahan langit malam yang benar-benar memukau, kalau di Jakarta mungkin langit seperti itu hanya ada di studio pertunjukan Planetarium saja. Tapi disana kita bisa melihatnya dengan mata telanjang. Tapi karna dingin malam yang begitu menusuk, aku memilih untuk berada di dalam rumah.
Sejujurnya perlu adaptasi yang cukup lama agar aku tahan terhadap udara dingin malam, ini menyebabkan aku sulit tidur, bahkan hingga hari-hari berikutnya. Jadi jika memang kalian yang tidak kuat dingin seperti aku, lebih baik kalian siap sedia membawa sleeping bag dan sebagainya agar dapat tidur nyenyak.


Selasa di Pagi Agustus, Tanggal 2 tahun 2016.
Baduy Luar – Baduy Dalam – Baduy Luar
Pukul 05.30
Kami semua sudah dibangunkan oleh bang Evan, kami akan berburu foto kabut dari atas pemukiman warga, dan benar saja, kabut begitu banyak masih menyelimuti kampung, bahkan nafas kami juga mengeluarkan asap.
Pukul 10.30
Usai sarapan dan berbenah kami melanjutkan perjalanan kami menuju Cibeo disanalah tempatnya warga Baduy Dalam. Tas dan barang bawaan kami yang berat pun beralih ke tangan para porter yang orang Baduy Dalam asli, dalam satu pikulan, satu porter kuat membawa 5 buah tas, yang dapat aku pastikan, pasti beratnya setara dengan 2 karung beras besar.
Namun tidak ada pilihan lain, karna sebagian dari kami juga belum terbiasa membawa barang bawaan yang berat, termasuk aku. Dan tujuan utama kami kesini adalah untuk memotret, agar kami bisa lebih fokus memotret maka kami memakai jasa porter, dan kami berjalan hanya membawa tas kamera yang berisikan lensa dan lain sebagainya.
Track yang kami lalui dari Cibungur menuju Cibeo tidaklah mudah, dan untuk orang yang berberat badan lumayan besar seperti aku, jadi sering istirahat kelelahan lantaran tidak bisa bernafas, belum lagi, aku pernah terkena asma. Jalur yang kami lewati ini, hampir setara dengan naik gunung, tanjakan dan turunan yang lumayan curam dan kontur tanah yang tidak rata juga menyulitkan perjalanan, hingga aku memutuskan untuk mencari kayu agar bisa jadi penopang dan membantuku berjalan, namun ku lihat, porter-porter ku ini sungguh tangguh, berjalan tanpa alas kaki, di track seperti ini, matahari pun begitu menyengat diatas kepala kami, belum lagi beban panggulan di bahu mereka, namun mereka masih lebih kuat berjalan daripada kami semua.


Baduy Dalam
Kampung Cibeo
Pukul 13.00
Maklumi saja bila tak ada dokumentasi di bagian ini, sebab kami mematuhi aturan adat yang melarang kami untuk memotret disini. Baduy Dalam masih benar-benar asri, terisolasi dari kemajuan teknologi, namun masih tetap teguh memegang prinsip-prinsip dan aturan dari para leluhur, semua untuk kebaikan bersama, dan untuk menjaga alam. Mungkin bagi para turis atau pendatang, sulit hidup seperti itu di era yang serba canggih, namun bukan kesulitan bagi mereka, Baduy Dalam, untuk meneguhkan prinsip tersebut, mereka masih bisa tetap berdiri, mandiri berpangku pada alam, dan menjaganya sebagaimana seharusnya manusia menjaga rumah mereka, yaitu alam yang ada di Bumi.
Degan, atau sebutan lain dari Kelapa muda, menyambut kami, sebagai pelepas dahaga, entahlah mungkin itu adalah kelapa-kelapa terbaik yang pernah aku coba, dan kami juga membeli bala-bala (sejenis gorengan bakwan) yang di jajakan oleh ibu-ibu disana.
Seusainya kami memilih untuk tidur sebentar untuk meluruskan lagi otot kaki yang lelah berjalan. Dan pukul 14.00 kami bangun untuk makan siang bersama.
Pukul 15.00 kami memutuskan untuk kembali berjalan menuju kampung Baduy Luar, kami tidak memutuskan untuk menginap di Cibeo lantaran disana kami tidak bisa memotret, karna kami ingin memotret langit di malamnya.
Perjalanan menuju Kampung Gajebo membutuhkan waktu selama kurang lebih 2,5 jam. Dan entah dapat tenaga darimana, aku kuat sekali berjalan sore itu, mungkin karna matahari tidak lagi menyengat seperti siang tadi, kini udara sudah lebih sejuk. Bahkan saking cepatnya aku berjalan, aku kuat mendului porter, dan ketika aku memutuskan untuk menunggu teman-temanku agar bisa jalan bersama lagi, aku menunggu hampir 30 menit. Entah apa yang membuatku dari barisan paling belakang, menjadi paling depan seperti itu, akupun masih bingung.


Kampung Cibungur
Pukul 17.30
Kami sampai di rumah yang akan kami singgahi malam ini, namun aku lupa, rumah siapa, yang jelas tuan rumahnya juga seorang kokolotan.
Usai makan malam kami ngeteh dan ngopi terlebih dahulu, setelah itu, pukul 20.30 kami mulai perburuan langit malam kami, ‘jalur susu’ kata bang Bagol.
Yap, Milky Way, Bima Sakti, galaksi favorit warga Bumi.
Tidak perlu alat yang canggih, akupun hanya menggunakan lensa di fl 18mm tanpa filter, dapat membidik Bima Sakti, mungkin akan lebih ‘oke’ dengan lensa wide dan kamera yang noise reductionnya bagus.
Dengan sekitar 30” detik, bukaan terbesar, iso tertinggi, Bima Sakti sudah bisa diabadikan, untuk mencari fokus, tinggal matikan mode auto pada lensa ke manual, lalu putar pada infinity, kemudian tinggal kita gonta-ganti saja White Balance nya, menyesuaikan warna apa yang kita suka.
Usai berburu foto si primadona langit, lukisan Tuhan yang indah, Bima Sakti. Kami memutuskan untuk kembali tidur, dan aku lagi-lagi mengalami susah tidur karna terlalu dingin, hingga aku harus beberapa kali terbangun.
Pagi menjelang, dan bang Evan kembali mengajak kami untuk mengejar kabut di kampung itu, namun karna aku juga kurang tidur, maka aku putuskan untuk tetap tidur karna mata ini tak kuat untuk bangun, jadilah aku, Ajeng, dan Izzat tidak ikut.


Rabu bersama matahari Agustus, Tanggal 3 tahun 2016.
Pukul 11.00
Kami memulai kembali perjalanan kami menuju Kampung Gajebo, di kampung inilah, sore nanti kami akan bertemu dengan teman-teman kami yang berada di jalur 1.

Pukul 14.00
Kami tiba di Kampung yang lumayan tinggi datarannya, disana kami bersinggah untuk makan siang, sayangnya aku lupa nama kampung itu, kami kembali singgah di rumah seorang kokolotan yang rumahnya juga menjadi sebuah warung.


Kampung Gajebo
Pukul 14.40
Kami sampai di Kampung Gajebo, namun teman-teman dari jalur 1 belum tiba. Maka kami memutuskan untuk kembali memotret, seusainya kami istirahat, akku dan Ajeng memilih untuk berenang dan main air di kali Ciujung, yang airnya paling jernih diantara kali yang kami kunjungi dari kemarin.

Pukul 16.00
Teman-teman dari jalur 1 sampai, kami melepas lelah bersama dengan mengobrol di bebatuan pinggir kali, dari cerita mereka yang lebih banyak berjalan, aku bersyukur mendapatkan jalur 2 yang tracknya tidak sesulit mereka, bahkan bang Lito, sampai kakinya lecet juga sepatunya jebol. Tak terbayang bagaimana bila aku yang berada di jalur 1, di jalur 2 saja aku sudah mati-matian.
Pukul 19.00
Usai makan malam, kami yang tadinya berniat mau motret langit lagi, jadi tertunda karna memang langit sejak sore sudah mendung, tidak banyak bintang yang bermunculan, akhirnya kami menghabiskan malam dengan ngopi dan ngeteh bersama sambil mengobrol, berbagi cerita suka-duka selama perjalanan, karna ini adalah malam terakhir kami di Baduy, lusa pagi buta kami sudah harus melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Pukul 05.30
Kami membagi 2 team untuk menyisir kampung Gajebo, aku, Ajeng, bang Lito akan memotret di jembatan dekat lumbung padi, sisanya akan jalan menanjak keatas untuk mendapkan lansdcape dengan kabut

Kamis di siang Agustus, Tanggal 4 tahun 2016.
Kampung Kaduketug
Pukul 12.00
Dengan melalui track yang lumayan banyak tanjakan, akhirnya dengan berjalan kami naik-turun, kami tiba di Kampung Kaduketug dengan memakan waktu sekitar 1,5 jam, agak lama karna di jalan juga kami sambil motret, juga banyak istirahat.
Kami singgah di rumah salah satu porter dari jalur 1, kang Herman namanya. Kang Herman juga merupakan warga baru di kampung Kaduketug, ia tadinya orang Baduy Dalam, namun karna melanggar beberapa aturan adat, dia dipindah ke Baduy Luar bersama dengan istri dan kedua anaknya, sedangkan masih ada 1 anaknya lagi yang masih ada di Baduy Dalam, tinggal dengan salah satu sanak saudara disana. Menurutnya, masih lebih mudah hidup di Baduy Dalam etimbang Baduy Luar, karna dari mulai persediaan pasokan pangan hingga air, di Baduy Dalam lebih berlimpah, mungkin itulah yang menjadi alasan baginya untuk membiarkan salah satu anaknya tetap berada disana.

Usai makan siang, kami semua istirahat sambil berbincang bersama di depan rumah, sorenya aku keliling kampung sendirian untuk mencari moment yang menarik sembari beli beberapa oleh-oleh.
Oleh-oleh khas Baduy ada lumayan banyak rupanya, ada batik Sunda berwarna biru yang biasa digunakan orang Baduy Luar, ada madu hutan asli, ada gelang-gelangan, gantungan kunci, pernak-pernik lainnya, dan yang paling menarik adalah kain tenunnya, kain tenun di Baduy sangat menarik karna warnanya yang cerah dan motifnya yang menarik, tidak terlalu ramai, justru ke simple-an itulah yang membuat menarik. Kain tenun Baduy biasa dibuat untuk kain rok, selendang atau syal, ataupun ikat kepala. Harga oleh-oleh disini bervariasi, menurutku harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas barang yang dibeli.
Malam menjelang, seusai kami semua makan malam, sebagian dari kami memutuskan untuk berjalan-jalan, ada yang tidur, ada yang memotret langit, karna meskipun ini desa terluar, pemandangan langitnya masih sama seperti kampung-kampung lainnya.
Jangan kaget kalo di desa ini sudah mulai terkena arus modern, karna desa ini paling dekat dengan dunia luar, yaitu terminal Ciboleger, disini kita masih bisa menemui rumah yang ada listriknya dan menyediakan jasa charger, sekali charger 2000 rupiah, dan tak jauh, ada musholla juga toilet umum, dan jika mau jalan sedikit lebih jauh, kita masih bisa jajan di Minimarket terminal. Banyak rumah di kampung ini memakai tenaga matahari untuk listrik, oleh karnanya diatas rumah mereka terdapat beberapa solar panel.

Jumat bersama dingin malam Agustus, Tanggal 5 tahun 2016.


Ciboleger
Pukul 01.30
Usai berbincang malam, kami lekas packing kembali dan bersiap-siap kembali ke Jakarta, hanya 10 menit saja kami sudah sampai di terminal Ciboleger kemudian langsung naik elf menuju Stasiun Rangkas Bitung.
Anehnya ketika aku memandangi langit di Ciboleger, langitnya tidak secerah di Kaduketug tadi, padahal jaraknya tidaklah jauh, dan meski rumah di Ciboleger sudah memakai lampu, tapi kan jumlahnya tidaklah banyak, entahlah.

Rangkas Bitung
Pukul 02.30
Kami sampai di Stasiun KA Rangkas Bitung, karna kereta berangkat pukul 06.00 maka kami menunggu sambil tidur-tiduran di pinggiran stasiun, sebagian memilih menyantap nasi uduk disana.

KA Rangkas Jaya
06.00
Kami semua sudah berada di kereta lagi, ada perasaan sedih meninggalkan Baduy, yang awalnya ku kira 5 hari itu lama, namun sesungguhnya tidak terasa, aku butuh waktu lebih lama lagi untuk mengenal Baduy, dan aku memutuskan untuk suatu hari nanti, kembali kesana.


Tanah Abang
Pukul 07.30
Kaki kami kembali menginjakkan Jakarta, kami langsung disambut oleh ratusan orang lalu-lalang di stasiun untuk berangkat kerja.
Kelelahan sudah kembali mewarnai wajah kami, pikiran untuk kembali melanjutkan aktivitas di ibu kota, belum lagi, masih ada PR untuk kita semua, PR untuk merealisasikan Pameran Fotografi tentang Baduy.

Aku mengerti alasan mengapa Baduy menjadi salah satu suku pedalaman yang menarik untuk diteliti, bukan hanya oleh orang biasa sepertiku, namun juga oleh para peneliti yang sudah kesohor dibidangnya.
Masih banyak hal-hal misterius disana- dari mulai seluk beluk Baduy yang hingga kini belum bisa dipastikan, hingga tentang kepercayaan mereka terhadap roh-roh alam (animisme). Tidak percuma jika mereka menjaga Alam dan hasilnya adalah hanya kata-kata keindahan yang tiada berujung, untuk sanjungan terhadap alam yang mereka jaga.
Well, sampai jumpa lagi, Baduy!

Share on:
Sekali-kali boleh lah aku bercerita tentang dia yang sok misterius.
Hubungan kami rumit, tidak jelas lebih tepatnya.
Ibarat main layangan mungkin, kerjanya tarik ulur saja. Tak tau mau mengarah kemana, terserah angin aja.

Tapi bukan suatu hal yg kupungkiri, dia benar-benar sudah menyita pikiranku.
Sungguh, sumpah, demi. Aku gak tau mau namain perasaan ini apa, kadang aku rindu, kalo aku bilang, aku dibecandain doang, dia yang ngira aku becanda. Padahal serius! Susah deh.
Kadang gak ada angin gak ada ujan, dia sok asik ke aku. Ntar akunya jaim. Jadinya gitu, gak jelas terus!

Apa iya, yang aku tunggu sebuah pernyataan? Meskipun aku tak yakin apakah benar aku siap untuk memulai lagi..
Sampai kapan?!
Gak tau, sumpah. Aku aja bingung. Suka sih sama dia, keingetan terus sih, tapi kayak masih ada rasa enggan, gatau kenapa, kayak bingung, mesti gimana. Sampe pernah mikir, apa aku udah ga suka sama lawan jenis ya?
Ah! Ngaco! Orang kadang-kadang masih rindu!

Jadi malam itu, aku ketemu dia, di gerbang kampus tercinta.
Langsung dia jegat aku. Dan bilang, "tunggu sebentar, gue anter pulang"
Padahal gak minta. Ih.
Tapi karna aku juga rindu, yaudah kutunggu.
Keseeeel banget!
Gimana enggak. Dijalan diem aja.
Ngomong kek, apa kek, tanya sesuatu kek, ngomong rindu kek. Ini nggaak, cuma diem aja.
Yaudah aku sibuk chat an sama temenku aja jadinya.

Gak tau rasanya jarak Lenteng - Kalibata mendadak deket banget, tiba-tiba sampe aja. Gak berasa sih.
Pas mau aku turun motor, dia manggil.
Mukanya gitu, kayak nahan buang air.
Kemudian dia senyum, tapi gak tau sih, senyumnya sedih ngeliat aku.
"Tan, jawab jujur ya? Lo deket juga ya sama (sahabat gue)?"
Rasanya kayak disamber petir.
Soalnya yang dia tanya itu, benar...

"Iya.. Tapi itu udah lama kok.. Sekarang udah ngga.." Jawabku, lemas.
"Kenapa gak bilang? Kenapa harus gue tau sendiri? Lamanya tuh semana?"
"Udah lama banget, hampir setahunan yang lalu.."
"Harusnya lo bilang, intan"
Aku diem, gatau mau jawab apa.

"Intan..
.. Sabar itu, batasnya semana?"
"Sabar itu, gak ada batasnya"
Sambil ku sentuh tanganny di atas motor.
"Kalo gitu, kita sama-sama sabar. Sama-sama berjuang"
Kali ini dia bilang sambil senyum. Senyum ngenes gitu.
"Maksudnya apa?"
"Jadiin peer dirumah. Udah, gue balik dulu ke kampus, takut rapatnya udah mulai, buruan masuk, terus bersih-bersih" senyum lagi, senyum terus.
"Jelasin dulu. Baru boleh pergi"
"Itu udah jelas banget. Itu ajakan, bukan pertanyaan yang harus dijawab"
Aku diem. Membatu lebih tepatnya.
"Iya, ngerti." Kata ku, biar cepat. Sebab dia harus kembali ke Lenteng Agung.
"Masuk dulu, lo masuk, gue baru jalan"
Aku cuma senyum, kugenggam tangannya, dia genggam balik. Kita senyum-senyuman.

"Assalamuaikum, tan."
"Waalaikumsalam, makasih, hati-hati."
Dijawabnya pake senyuman.

Jadi gini. aku sebenernya pernah dekat denga sahabatnya dia. Udah lama banget. Jauh sebelum aku deket sama dia. Bahkan ga ada orang yang tau! Jangan sampe!
aku gatau gimana caranya dia bisa tau, aku pernah deket sama sahabatnya. Apa sahabatnya sendiri ya, yang kasih tau. Gak tau juga sih.
Yang jelas, persahabatan cowok tuh rumit! Kadang pertemanan diatas segalanya..
Apa...
Dia juga begitu ya..

Alasan dia gak enak sama sahabatnya, lantas aku gimana?

"Sama-sama sabar, sama-sama berjuang."

"Iya, gue coba"

:)
Share on:
Aku sedang tertawa saat ini, menertawakan diriku sendiri.
Kuingat beberapa hal dalam perjalananku mengeri cinta.
Aku tertawa mengingat semuanya, betapa cinta benar-benar menjadi suatu hal yang mengasyikkan ketika aku kecil dulu.

Dimulai saat aku SD, aku pernah menangis karna ada adik kelasku yang menyukaiku, kepalanya lonjong seperti semangka. Dia mengikutiku saat pulang sekolah, dan aku selalu bergidik melihatnya.
Kemudian pernah dia berikan padaku 1 set perhiasan mainan, ada kalung, gelang, cincin, dan anting-anting. "Nanti kalo udah gede aku beliin yang bagus tan", sambil diberikannya kemasan itu padaku. Aku hanya terdiam kemudian lari sekencang mungkin menuju rumah, dia tetap mengikuti. Esoknya kutemukan ia depan pagar rumah, sambil pegang bantal berbentuk hati berwarna merah muda "intan cinta pertamaku, ini untuk kamu!" Lalu aku panik, dan pembantuku keluar untuk menyuruhnya pulang, lalu pembantuku kembali membawakan bantal itu untuk aku.
Pernah juga dia minta teman-temannya menyuruhku ke sekolah saat sore dan semua guru sudah pulang, ternyata dia mau bacakan puisi cinta untukku. Gila pikirku.
Pernah juga aku coba-coba pacaran, dengan teman sekelasku, dia senang berikan aku hadiah, biasanya boneka dan coklat. Sekarang aku masih sering bertemu dia di stasiun ketika mau berangkat kuliah, dia jadi security stasiun dan kadang dia suka malu melihatku, aku sih biasa saja, tapi lucu juga kalau diingat.

SMP pun tiba, lagi centil-centilnya katanya. Pertama kali aku pacaran sampai pegangan tangan. Geli rasanya kalau ingat.
Di SMP juga aku bertemu cinta pertama, pacaran sampai setahun lebih. Untuk ukuran anak SMP itu sudah lama sekali. Namun, tentu saja cinta pertama tak pernah mulus, dan jadilah ia hanya kenangan cinta monyet ku. Akupun menjalani masa itu penuh debaran, apalagi sering pulang belakangan biar bisa berduaan di lorong sekolah, sampai akhirnya aku merasakan ciuman pertama, sama sepertinya yang pertama juga. Rasanya jantungku mau lari, aku lemas dan sangat bahagia. Namun sekali lagi cinta pertama tak pernah mulus adanya.
Meski belum terlalu lama ini aku sempat pergi berdua dengan si cinta pertama, namun kita saling tertawa, berubah sekali, dia makin kurus, akunya subur, dan kita sibuk bernostalgia zaman itu.

Masih di SMP, aku pernah berpacaran dengan anak sahabat orang tuaku, bahkan pernah memacari anak wali kelasku. Gila juga aku.

Lulus dari SMP tentu aku merasa lebih dewasa lagi.
Kini orang dari zaman SMP ku hadir, mantan teman sebangku waktu kelas 7 dulu. Katanya dia pendam perasaan suka padaku dari kelas 7 hingga aku kelas 10 SMK. Dan aku adalah cinta pertamanya. Karna dia suka makanya dia sering mengerjaiku dulu, pantas saja. Tapi karna tersanjung atas pernyataannya, kuterima dia jadi pacar. Sayangnya sejak usai kelas 8, dia pindah ke Kalimantan, jadilah pertama kalinya aku LDR, gitu kata anak jaman sekarang. Naasnya putus juga, tidak mungkin aku yang masih bocah bisa LDR'an. Tapi kami masih berteman hingga sekarang meski jarak kita berjauhan.

Masih di jaman SMK, aku kenalan dengan yang lebih dewasa dari aku. Dia sudah kerja, namun umurnya hanya beda 3 tahun dari aku. senang sekali rasanya, pacaran sama yang sudah dewasa. Tapi lama-lama aku pusing juga, aku belum siap bergabung dengan dunianya yang rumit, aku masih ingin menikmati masa remajaku. akhirnya usai juga hubungan itu.

Di sekolah SMK ku dulu, ada praktik kerja di sekolah, aku jurusan Administrasi Perkantoran, aku yang bergaya seperti sekretaris dapat giliran jaga lobby, jaga perpus, dan jaga meja piket, tentu saja bebas mata pelajaran selama seminggu.
Tugasku waktu itu jaga meja piket, dipaginya aku harus berkeliling semua kelas untuk menghitung total kehadiran tiap kelas. Aku gak sadar kalo saat itu ada yang memerhatikanku dari kelas lain.
Besoknya aku gak masuk karna sakit, kemudian kata temanku yang praktik juga, ada yang mencariku lalu titip salam, dan disampaikan pas aku masuk lagi.
Aku gak tau orangnya yang mana, katanya anak Pemasaran dan anak Basket.
Kemudian ketika sedang istirahat ke 2, anak-anak basket sedang latihan di lapangan, temanku menunjuk salah seorang yang sedang berdiri di pinggir lapangan, kemudian dia menyapaku, aku malu, lalu lari. Katanya dia kapten basket, ah bodo amat.
Tapi teman-temanku malah nyomblangi aku, dan berikan akses padanya biar bisa dekat denganku.
Sampai pada akhirnya kuladeni juga, dan kami janjian pergi atletik bareng di daerah Rawamangun, Velodrome namanya.
Pulangnya aku main kerumah temannya, bersama teman-temanku juga.
Tak kusangka dia menembak aku depan teman-temanku. Dan karna senang juga, aku terima.
Pacarannya lucu, dan terlalu di umbar, hanya bikin orang lain iri saja. Dan dia sering sekali mengunjungi rumahku malam-malam dari depan doang tapinya, cuma buat dadah-dadah dari jauh.
Aku lupa karna apa, yang pasti kita putus juga.

Dan akhirnya aku dekat dengan salah satu teman di twitter ku, hubungan kami rumit, dia punya pacar, dan rumah kami sangat jauh. Aku di Kalibata, dia di pertengahan antara Bekasi, dan Gunung Putri. Kalau naik motor kesana butuh 2 Jam, kayak mau ke Bandung lewat tol tapinya.
Yang jelas setelah dia dan pacarnya putus, kami ketemuan. Mana pertama kali ketemuan aku juga langsung ketemu keluarganya juga.
3 hari setelah ketemuan, dia nembak, aku terima.
Aku kira kita LDR antar kota, gataunya kita justru sering ketemu karna dia kuliah di salah satu kampus swasta ternama di pal merah. Akhirnya kita jadi sering ketemu.
Dan aku menjalani ratusan hari bersamanya.
Dari mulai berantem, bahagia, senang, sedih, sinetron, drama korea, semua kita lewati bersama.
Dan selalu ada dia di samping ku apapun keadaannya, termasuk pegangin tanganku waktu aku kecelakaan masuk UGD.
Pokoknya banyak moment gak bisa aku lupa, dan dia masih jadi objek dadi beberapa tulisanku di blog ini.

Setelah 3,5 tahun aku bersamanya, aku berpacaran dengan orang yang sudah bekerja lagi. Tapi tidak lama, karna aku masih suka keingetan sama yang ngejajahku 3,5 tahun itu.

Dan tumbuhlah aku seperti sekarang ini, semakin aku dewasa dan berbagai macam cerita cinta aku alami. Itu baru sebagian saja, masih ada yang lain cuma aku capek tulisnya.

Yang kutau sekarang ini aku jadi banyak belajar bahwa butuh perjalanan mengerti cinta, dan makin dewasa aku sekarang, sejak umurku beranjak dewasa ke 20an, aku mulai banyak berpikir-pikir untuk kembali memulai sebuah hubungan, entah trauma atau apa, yang jelas aku ingin lebih menghargai cinta dan lebih menikmati bagaimana prosesnya, terlebih hanya bahagianya saja yang aku cari. Aku belum mau mengambil resiko untuk mengalami bumbu pedas atau pahit dalam hubungan, karna aku sudah dewasa, aku harus lebih pandai pilah pilih sekarang.
Walau gak aku pungkiri, selalu banyak yang mencoba memulai hubungan bersamaku, meski buruknya rupaku sekarang, aku masih banyak pertimbangan dan alasan, akhirnya mereka hanya datang silih berganti.
Sungguh terserah mau bilang aku egois  hanya mau enaknya saja. Terserah. Aku hanya lelah. Apa salahnya manusia ingin enaknya saja.

Tapi suatu hari nanti, pasti aku coba lagi, dan menikmati rasa tidak enak bahkan sakit itu lagi, tapi aku yakin, selalu ada pelangi setelah badai. Yakan?
Aku percaya kok.
Share on:
Malam tadi ku akhiri dengan namamu, hampir sama dengan malam-malam yang lainnya.
Dan hingga menjelang pagi, kau pun masih menemaniku dari jauh sana.
Entah bagaimana aku harus kembali menamainya, apa aku jatuh cinta?

Dan namamu yang selalu hadir selalu memberiku sebuah harapan bahwa aku akan merasakan hal itu kembali, dengan cerita bersamamu.

Hari demi hari berlalu, mataku selalu mencari kehadiranmu, pahit bila ingin kuucap aku rindu, tapi kurasa memang iya, aku rindu kamu.

Banyak hal sederhana yang membuat dirimu begitu istimewa dimataku yang belum lama selalu menangisi masa lalu. Kau merubahnya menjadi senyuman.

Aku suka bagaimana caramu memperlakukanku, tidak terlalu tinggi tidak terlalu rendah, tidak terlalu berlebihan dan begitu sederhana. Namun sekali lagi aku suka.

Belum lama aku bilang kepada salah satu sahabatku, menurutku ada beda antara cinta dan hasrat ingin memiliki. Dan apakah ini hanyalah sekedar ketakutan karna bertepuk sebelah tangan?
Tentu tidak.
Jika kita tetap berfokus pada hakikat cinta sesungguhnya, yaitu untuk saling berbagi rasa dan menciptakan bahagia.
Dan hasrat untuk memiliki, hanyalah bagaimana cinta diuji dengan kesabaran.

Banyak yang bilang, cinta harus diucap, agar ia tidak lari lagi.
Namun entah aku hanya ingin menikmati rasa ini, aku bahagia, dan tidak ingin merasakan yang lainnya selain kebahagiaan ini.

Aku tidak ingin dia tau, entah karna aku takut justru dijauhi, atau rasa penasaran dengan apa yang dia rasakan padaku, apakah sama dengan ku?

Aku kebabisan kata,
Yang jelas saat ini aku bahagia.
Aku rindu kamu.
Dan membiarkan mata ini dimanjakan dengan senyummu kepadaku.

Share on:
Kali ini gue gak puitis ya atau sok pake bahasa indah, karna menurut gue tulisan inipun bakalan indah kok hehe

Ini tentang UKM yang selama ini gue ikuti, lebih tepat organisasi pertama yang gue ikuti dengan baik dari awal sampe akhir (gatau kapan)
UKM ini pernah gue ceritain sebelumnya, tapi sekarang dgn feel yg beda sih hehe

Awalnya emang gue sangat bersusah-susah ngejalanin kehidupan berorganisasi di Kaphac 32, dimana bukan cuma sebagai penyalur hobby tapi juga keorganisasian yang sangat aktif dan banyak nyerap waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.
Waktu itu adalah masa-masa caang atau calon anggota.
Pokoknya 1 hal yang gue rasain capek-tapi-nagih!
Awalnya emang gue bersusah-susah banget di kaphac, dan juga gue ga begitu deket sama temen2 gue disana. Tapi setelah masuk ke masa persiapan pameran, gue pun jadi makin deket sama yang lain juga. Akhirnya pameran terlaksana tanggal 24 Maret 2015 dengan 9 orang pameris, dengan judul SURYAKANTA.
Tapi sayang banget, pas pelantikan, tinggal tersisa 6 orang termasuk gue, dan gue cuma cewek sendirian. Tapi disitu gue merasa kalo walaupun gue jadi sosok yang paling lemah, justru gue kuat karna ada 5 lelaki hebat di belakang gue. Emang sih kita gak harmonis kayak persahabatan se angkatan gitu, tapi kita saling ngerti satu sama lain, saling backup, dan walaupun mulut kadang saling caci, tapi sebenernya tangan kita selalu pegangan kok. Gue yakin meski pait banget diucapin, gue sayang sama ke 5 lelaki hebat gue ini.
Singat cerita lahirlah angkatan kaphac yang baru, generasi ke XVIII (18).

Semakin berat menjalani kehidupan organisasi, kita jadi retak, keluarga kecil gue ini kehilangan 2 anggota. Bukan hilang, gue yakin suatu hari nanti gue kumpul sama mereka lagi!
Biarpun Surya dan Fariz ninggalin kita karna alasan tertentu, tapi Jancuk dan Ote tetep jadi penopang kita semua, terlebih, sahabat terbaik gue di kampus, yang udah gue anggap kayak sodara gue sendiri, Jody, juga ga pernah berhenti saling menguatkan kita semua.

Dan akhirnya gue jalanin kehidupan gue di kaphac dengan angkatan 17 dan 4 orang dari angkatan 18 termasuk gue.
Jumah pengurus aktif hanya 7 orang. Dan mau ga mau kita harus tetep aktif untuk saling backup satu sama lain.
Biar sedikit, tapi kita gaboleh mati terbunuh keadaan!

Gue yang tadinya ga begitu aktif pun jadi paling aktif diantara yang lain, terlebih dengan kehadiran caang 19 waktu itu.. Gue jadi lebih peduli dengan nasib ukm gue ini dan mendekatkan diri gue sama caang 19.

Tapi memang apa mau dikata, peminatan fotografi memang sangat melesat di zaman serba canggih ini, namun justru mematikan kami sebagai organisasi fotografi, kebanyakan orang cuma suka fotografinya aja, dan gamau dibebani dengan tanggung jawab organisasi.
Memang kami harus berbenah diri, gak boleh terpaku, dan harus berubah dari kebiasaan lama atau kami bakalan mati.
SDM kian menipis, tapi semangat gaboleh!

Bogor, 5 Juni 2016, lahirlah anggota keluarga baru, dengan nama angkatan ELORA, dengan jumlah 6 orang, mereka hadir menaruh harapan untuk kita semua di generasi ke XIX (19).

Dan gue seneng banget, gue punya adik2 baru, yang gue sayang seperti adik gue sendiri walau kenyataannya banyak yang lebih tua mereka daripada gue-_-
Gue punya 2 adik cewek, Melati dan Ajeng. Hehe Akhirnyaaaa😆
Dan yang gak gue sangka temen seangkatan gue di kampus, Gema, yang gue pikir ga serius masuk kaphac karna ikut pendidikan paling terakhir justru berkomitmen dan dia bisa jadi anggota kaphac.
Dan Izzat, Edi, Agung, menjadi pelengkap kita semua. Dengan karakter yang beda-beda tapi kita satu kok hehe.

Orang bilang apa yang gue jalani di Kaphac dan capek2 di kaphac itu useless, mereka salah besar.
Gue nemuin keluarga di kaphac, gue nemuin tempat yang selalu gue caci tapi gue rindu kalo ga disana.
Gue dapet banyak pengalaman, bisa ketemu orang2 hebat melalui kapahac, dan gue dapet banyak ilmu disini, yang alhamdulillah ada manfaatnya untuk gue yang sekarang bisa jadi freelance photographer.
Orang cuma bisa ngejudge gue ngelakuin hal yang sia2 di kaphac, termasuk orang tua gue sendiri. Mereka berpikir loyalitas gue berlebihan untuk sebuah ukm dari kampus kecil ini.
Tapi gue yakin apa yang gue lakukan di kaphac ga pernah sia2, dan semua bakalan jadi pengalaman berharga buat gue.

Dan gue selalu ga sabar dengan apa yang sudah direncanakan kedepannya untuk kemajuan diri kita sendiri terlebih untuk kemajuan kaphac.
Kesulitan pasti bakalan kita temuin, tapi kesulitan itu pasti bakalan bikin kita semakin kuat.

Dan di detik terakhir pengurusan angkatan 17 ini, yang artinya, sebentar lagi angkatan gue bakalan naik, dengan partner dari angkatan 19. Gue yakin meski cuma ber 10, kita pasti bisa wujudin mimpi kaphac dan kembali eksis lagi di dunia fotografi.

Kehadiran 19 sangat memberikan gue harapan bahwa tujuan kita untuk saling maju ga akan sia-sia. Gue yakin meski sedikit, kita kuat!

SURYAKANTA - ELORA!
Share on:
Lembaran foto usang tertata rapih, sebagian tidak teratur.
Beberapa kala aku melihat bagaimana ajaibnya benda itu...

Dimulai dari Mama ku, aku melihatnya malam itu, usai menuntunku doa sebelum tidur dan mengucapkan salam "Selamat tidur, mama. Selamat tidur papa." Mama pun menjawabnya dengan dua nada, satu, nada suaranya..
"Selamat tidur anak mama"
Dan satu lagi, nada suara yang diberatkan biar seperti suara laki-laki...
"Selamat tidur anak papa, katanya".

Aku pura-pura memejamkan mata, tak lama mama beranjak dari tempat tidur.
Mama kembali membuka lemari, mencari tas koper kerja kecil berkulit hitam, ia memutar kodenya, dan membuka isinya.
Ditemukannya beberapa lembar foto, dan tak lama berlinang kembali air matanya.
Begitu berulang dimalam-malam tertentu.

Lain waktu lagi, aku melihatnya, membuka beberapa album foto ukuran 17R. Dibolak baliknya lembaran demi lembaran, kali ini ia tersenyum. Beberapa kali ia mengusap-usap fotonya.
Kadang pula ia malah tertawa, seraya mengulang kembali cerita yang terekam dalam lembaran itu.

Pernah juga ia membuka album kecil 4R. Dibuatnya marah dengan album itu, lembaran demi lembaran dirobeknya menjadi tak beraturan. Kemudian tangis meledak dari wajahnya yang memerah.


Sungguh ajaibnya lembaran ini, ada sihir yang membuat mata yang melihat mengeluarkan banyak ekspresi.
Lambat laun akupun mencoba kebiasaan mama, seraya umurku makin bertambah, makin banyak juga lembaran foto baru, dan makin usang lembaran fofo lama. Tapi semua aku suka. Mereka bisa bercerita.

Dan dari lembaran foto juga, aku dapat mengetahui rupa Papa, yang sekuat apapun aku mencoba mengingat, tak akan bisa.
Mungkin ingatan anak umur 18 bulan tak bisa diharapkan.
Namun lembaran itu memberitahu rupa Papa ku.
Aku senang melihatnya, terlebih ia mengekalkan senyum Papa, aku yang melihatpun merasa bahwa Papa tersenyum juga melihatku.

Sungguh ajaib lembaran foto ini. Meski sosok asli dalam gambarnya sudah tiada, namun lembaran ini tetap menghidupkan mereka, juga membekukan kejadian didalamnya.

Makin dewasa aku banyak melihat lembaran foto.
Ada yang menarik, ada yang biasa saja, ada juga yang tidak mau kulihat sama sekali.
Tapi ada perasaan senang bila melihat yang menarik. Seolah mereka hidup dikepalaku.
Dari situlah aku mau jadi orang yang bisa membuat lembaran foto.

Awalnya mungkin, aku tak peduli dengan pendapat orang atas hasil fotoku. Lambat laun aku ingin membuat mereka terkesan dan turut merekam dalam pikiran mereka tentang kejadian atau sosok yang aku rekam dalam fotoku.

Diumurku yang baru memasuki 21 tahun ini, aku masih ingin terus menghasilkan rekaman dalam foto yang bisa orang lain nikmati kala melihatnya.

Tidak hanya itu, aku bisa memberitahukan apa yang ingin aku sampaikan kepada mereka yang melihat fotoku. Karna, aku lumayan susah terus terang, namun, ingin selalu didengar.

Dan aku ingin, ketika aku sudah tiada nanti, diriku, dan karyaku, tetap hidup dalam lembaran itu.
Sambil berharap suatu hari nanti ada yang sudi mengenangku, seperti aku yang selalu mengenang Papa.

Dan semoga lembaran foto atau dokumennya, akan selalu dapat menggantikan kehadiranku, kelak.
Share on:
Aku mungkin mengenalnya bukan sebagai sosok yang baru
Aku juga tidak peduli dengannya dahulu
Tapi waktu memutar segala keadaannya dan racun ini memasuki tubuhku

Terlalu dini bila ku bilang ada benih cinta
Terlalu gegabah bila ku bilang aku menyayanginya
Tapi tak bisa ku elak bahwa aku memikirkannya

Namanya belakangan ini selalu hadir
Dan aku tak mengerti apa sebabnya karna disudut kampuspun mataku selalu mencarinya
Dan dekat dengannya adalah hal yang aku inginkan

Sumpah aku tak ingin membuat puisi cinta, belakangan, aku mulai tak pandai mengekspresikan perasaan cinta. Bahkan rasa itupun aku tak lagi punya, untuk siapapun itu.

Seolah kosong namun hati ini terasa penuh. Ibarat makan angin orang bilang.
Dan aku merasakan namamu meluap-luap disini. Ingin ku muntahkan namun tak ada rasa mual yang kurasa.
Atau mungkin aku bahagia karnanya, entah.
Karna ku lihat dia biasa saja. Sikapnya gak bisa tertebak. Bisa iya, bisa tidak.
Misterius katanya.

Jadilah dirimu tuan misterius.
Entah aku yang berlebihan atau memang kau yang ingin terlihat seperti itu.
Walau hari ke hari aku selalu dapat cerita baru dari halaman demi halaman yang kau buka.
Dan kubilang apa, sejujurnya aku tidak ingin menuliskan tulisan bertema cinta.
Aku tak handal, sungguh.
Tapi sekali lagi, perasaan ini meluap-luap dan aku tak tau ini apa.

Tuan misterius sering mengisi malam hariku, mungkin penyakit malam juga menyerangnya. Dan kami membunuhnya bersama.
Namun entah hanya bersama ku, atau yang lain juga.

Ini mungkin yang membuatku tak yakin ingin menamai apa perasaan ini, karna menjunjung ketinggianku sebagai wanita. Takut dibilang menyedihkan bila tepuk tangan sebelah saja.
Bukan.
Tentu kau pikir aku berharap, namun tidak.
Mungkin juga, belum.
Karna akupun tidak yakin dengan apa yang kurasa. Apakah angin benar membawaku pada rumah si tuan misterius? Atau hanya sekedar mampir kemudian berpaling ke rumah lain?

Dan dengan tidak jadinya tulisan ini bertema cinta, maka aku putuskan untuk berpasrah bagaimana nantinya dan kemananya angin akan membawaku pergi.

Aku pamit, tak tau mau kemana, dan bisa saja kerumah si tuan misterius.
Asal, jangan ke lembar sebelumnya.
Sebab mungkin saja masalalu sudah mati ku bunuh.
Biar saja, nanti juga aku tau.
Share on:
Dalam hidup tentu ada masa lalu dan masa depan. Kita biasa menyebut bagian dari masa lalu sebagai kenangan.
Banyak cara orang menanggapi kenangan yang mereka miliki, ada yang mati-matian melupakannya, ada yang tidak peduli dengan kenangan karna terlalu terobsesi dengan masa depan, ada juga yang hidup selamanya dalam kenangan.

Dan mungkin aku akan menjadi orang yang hidup selamanya dalam kenangan, namun juga mati-matian melupakannya.
Sebenernya aku belum sepenuhnya mencoba melupakannya, bahkan kupikir, setiap sudut dalam hidupku ini penuh dengan kenangan. Bagaimana bisa begitu saja aku melupakannya, bahkan nyaris mati aku dibunuh kenangan.

Yang lalu, aku bilang, sepenuhnya aku sudah ikhlas. Demi Tuhan aku ikhlas, dan aku berjanji tidak akan sedikitpun masuk lagi kedalam segala sesuatu apapun yang bebau tentang kenangan dengan dia.
Namun apa yang sesungguhnya terjadi, keikhlasanku tidak melepaskan aku sepenuhnya dari bayangannya.
Aku bingung, entah apalagi yang harus aku lakukan. Aku ingin minggat dari ini semua!

Demi Tuhan aku ikhlas, kami pun sama-sama bahagia sekarang. Namun kenangan itu kenapa harus berkunjung lagi kedalam hidupku...

Akupun penasaran, apa dia yang disana pernah merasakan hal yang sama denganku meskipun dia telah menjalani cintanya yang baru?

Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk aku?

Aku ingin bernafas lega tanpa namanya di dadaku. Dia memenuhinya!

Aku ingin tidur nyenyak tanpa suaranya di kepalaku. Dia mengganggu!!

Aku ingin hidup sebahagia dirinya, dengan cinta yang baru dengan lembar kehidupan yang baru, dan membakar lembaran lama tentang kita. Dia Brengsek!!!

Dan apalagi perasaan ini, membuat nafasku sesak, tidak bisa berpikir hal yang lain, semua karna siapa?

Aku ini sekarat,

.....dan dia tak peduli.

Sama sekali.



Betapa Tuhan menciptakan dirinya sebagai sang antagonis yang sangat egois!


Ibarat laron, dia datang saat aku sedang menyala-menyalanya. Mengerubungi cahaya yang terpancar biar dia tutupi semua. Belum lagi sampah-sampah sayap yang dia tinggalkan. Ini menjijikan!

Tolong, pergi saja.
Aku mau tidur.
Besok aku mau pergi, mencari lokasi yang tidak ada dianya.
Doakan aku,
Semoga aku berhasil.
Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • INSTAGRAM : PETUNIAINTAN.
  • Perangkai kata, dibalik lensa.
140x140

INTAN CHARISMA

penjagalaxy

Cari Aku!

Instagram: Petuniantan
Instagram Portfolio: jepretanintan & Photolicious.Jakarta

facebook.com/pettuniaintan

Twitter: IntnKD

Lineid: Intnkd

Snapchat: Pettuniantan

Path: IntanKharisma

Mail: pettuniaintan@yahoo.com
pettuniaintan@gmail.com


Facebook Twitter Gplus RSS
latest posts
latest comments

Search

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ▼  2016 (27)
    • ▼  Desember (2)
      • Dua Tiga
      • Merindu Lagi
    • ►  November (2)
      • Tiga
      • Mas Nguber
    • ►  September (2)
      • Tuan Misterius Pergi
      • Marah
    • ►  Agustus (1)
      • Senin di Pagi Agustus, Tanggal 1 tahun 2016. Ka...
    • ►  Juli (1)
      • Sabar, dan berjuang!
    • ►  Juni (3)
      • Perjalanan Cinta
      • Rindu
      • Kaphac 32
    • ►  Mei (3)
      • Lembaran
      • Tuan Misterius
      • Tentang Kenangan
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (9)

Popular Posts

  • Sudut yang Temaram
    Sudut gelap kamar itu adalah aku Yang panjang menjuntai kedepan, dan lebar kebelakang, ia ada ditengah, berdebu tebal, bersiku kokoh namun t...
  • Raya Ketiga Tanpa Mama
    Saya berdiri lagi, sendiri, menepi. Sebentar lagi raya ketiga, tanpa Mama. Hari ini mendung disertai hujan, saya lihat sekeliling, merasa ad...
  • Mas Nguber
    Kadang suka ngerasa gak sih, kita persiapin sesuatu, tapi kita suka lupa justru waktu yg kebuang buat persiapan bikin kita jadi keteteran? ...
  • Memo Kematian Diri
    Jelaga, ceria, aurora, mega, kelabu, biru. Kau ajari aku. Terbata aku mengeja Bagaimana kau tuntun aku membaca "Ini adalah warna.. ...
  • Pembunuh Senin
    Ini cerita tentang wanita yang ingin membunuh senin. Aku tau betul wajahnya yang selalu terlihat muram. Ia berkata ia juga tau betul banya...
  • Ber
    September Oktober November Desember Ber. Belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, mereka menandai bulan-bulan Ber, dengan langit teduh, ...
  • 24 Mei 2023
    Saya merasa saat orang lain dengan sadar dan sengaja menyakiti saya, umumnya mereka enggan mengucap maaf yang tulus. Tiada gestur menyesal, ...
  • Tentang Kampus Tercinta
    Kampus Tercinta. Kampus kecil di Jakarta Selatan tepatnya di Lenteng Agung. Gue mulai kisah awal gue disini. Tepat September 2014 gue mula...
  • Besok Punyaku
    Matahari pagi membawa lagi namamu Tak ada air mata keluar, lambat laun kenyataan telah menyadarkanku, sesungguhnya hingga hari ini aku dapa...

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku
Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style. This is a super clean and elegant WordPress theme for every bloggers. Theme is perfect for sharing all sorts of media online. Photos, videos, quotes, links... etc.

Facebook Twitter Flickr Linkedin Gplus Youtube

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

  • Home
Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates