Senin di Pagi Agustus, Tanggal 1 tahun 2016.
Kalibata, Jakarta Selatan.
Pukul, 01.00
Malam ini aku tidur berdua dengan juniorku
dikampus, dan di sebuah UKM Fotografi Kaphac 32, Ajeng namanya. Karna rumahnya
jauh di Citayam, maka ia menginap malam ini, kami menghabiskan malam dengan
mengobrol, tapi perbincangan malam ini seperti bukan sebuah perbincangan senior
dengan junior, namun sebagai seorang sahabat.
Setelah bongkar ulang packingan beberapa kali
sambil asyik mengobrol, akhirnya packing selesai, dan kami tidak langsung
tidur. Entah karna mungkin terlalu bahagia, penasaran atau apa, yang pasti mata
ini lelah namun tak ada rasa mengantuk.
Kami beragi cerita
apa saja. Termasuk tebak-tebakan kami tentang tempat yang akan kami kunjungi
selama 5 hari kedepan, Baduy.
“Kak, kayaknya kita telat..”
Seketika mataku langsung terbuka
selebar-lebarnya, termasuk kaget karna cahaya matahari sudah begitu terang dari
jendela. Ku ambil handphone sudah menunjukkan pukul 06.30 kulihat banyak
pesan di handphone ku, dari Jody, teman yang juga akan berangkat bersama ku
pagi itu. Namun panik tak terelakkan, aku langsung lari ke kamar mandi, dan
lansung mandi sekilat mungkin.
Setalah memesan ojek online kamipun lanjut
bersiap-siap. Dan hanya kepanikan yang ada di wajah kami, teringat kereta kami
akan berangkat pukul 08.00.
Susudah bersiap, ojek online yang akan mengantar
kami, telah sampai di depan rumah, dan kami langsung bergegas berangkat dengan
membawa tas carrier masing-masing.
Ditengah jalan di daerah Kuningan, aku sempat
panik lagi karna polisi memberhentikan motor yang aku tumpangi. Polisi itu
menyuruh kami berhenti di tengah jalan, dan ternyata dia hanya bertanya tentang
barang bawaanku, “itu apa ya?” lalu dengan sewot aku dan driver ojek menjawab
“ini tas carrier pak!” lalu dia hanya menjawab “ooh yaudah sana lanjut lagi”.
Rasanya bila ada kesempatan, ingin aku tabrak saja polisi itu.
Sampai di daerah Karet Bivak, motor yang aku
tumpangi oleng, bannya pecah, robek terkena paku beton yang entah dari mana
asalnya. Aku tambah panik, driver ojekpun bilang ia akan segera mencari tukang
tambal ban. Namun aku memikirkan berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk
menunggunya, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 07.30.
Akhirnya aku meminta
jalan duluan ke driver itu, sesegera mungkin aku pesan ojek lagi namun tak ada
yang mau mengambil orderanku, karena jam sibuk di pagi hari,, dan aku berada di
derah erkantoran. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu taksi dan 10 menit
kemudian akhirnya aku mendapatkan taksi.
Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Pukul 07.45
Akhirnya aku sampai di stasiun dengan meminta
sang supir taksi mengebut, 5 menit saja aku sudah sampai, kulihat ke 10 rekan
yang akan berangkat bersamaku telah menungguku, dan Ajeng sudah sampai duluan.
3 menit setelah aku sampai, kami berangkat menuju peron kereta Rangkas Jaya.
Namun ketar-ketir kembali terulang, karna masih ada 2 teman kami belum datang,
sedangkan kami sudah berada di dalam kereta. 2 menit sebelum kereta berangkat
salah satu teman kami Alfian yang akrab dipanggil Jancuk, datang. Kami bernafas
lega sekaligus berat juga karna dengan terpaksa kami meninggalkan salah seorang
teman kami, yang seangkatan denganku, Surya, karna dia tidak ada kabar.
Pukul 08.00
Kereta berangkat, dari Tanah Abang menuju Stasiun
Rangkas Bitung.
Kini jumlah kami menjadi ber 11. Dengan 2 orang
senior, yaitu bang Lito dari angkatan 1, dan bang Evan dari angkatan 9. 4 orang
dari angkatan 18, aku, Jody, Jancuk, Fikhri yang akrab dipanggil Ote. 4 orang
lagi dari angkatan 19, Ajeng, Izzat, Edi, dan Agung yang akrab disapa Gaung.
Tidak lupa juga seorang Guide kami sekaligus fotografer, bertahun-tahun sudah ia
mempelajari suku Baduy, kampung halaman kedua katanya, namanya bang Bagol.
Canda tawa di kereta pun tak terelakkan, saling
mengejek satu sama lain, dan 30 menit kemudian semua sudah terlelap di
bangkunya masing-masing.
Rangkas
Pukul 09.30
Kami tiba di stasiun Rangkas Bitung, dan langsung
menuju tempat dimana elf akan menjemput kami, sembari menunggu kamipun
menyantap sarapan di sekitar sana, dan seusainya kami langsung melakukan
pembagian untuk 2 kelompok yang akan menyisir 2 jalur berbeda, agar kami lebih
bisa mengeksplore keseluruhan budaya disana, juga agar frame yang akan kami
bidik, bervariasi.
Kelompok 1, ada bang Lito, Jody, Jancuk, Edi, dan
Ote, ditambah seorang guide orang asli Kanekes, bernama kang Herman.
Kelompok 2, ada bang Evan, aku, Ajeng, Izzat, Gaung,
dan bang Bagol.
Kamipun berpisah dan berangkat dengan elf
masing-masing kelompok. Kelompok 1 akan menempuh perjalanan selama 1,5 jam
menuju Ciboleger, dan kelompok 2 akan menempuh perjalanan selama 2,5 jam menuju
Cijahe. Dan kedua kelompok ini akan bertemu di akhir hari ke 3.
Pukul 13.40
Kami sampai di Cijahe, terlihat beberapa orang
dari suku Kanekes atau lebih dikenal dengan suku Baduy, mereka berpakaian
berwarna putih hitam berikat kepala putih yang artinya suci, yang menandakan
mereka orang Baduy Dalam, dan terlihat beberapa belas orang dari rombongan yang
akan menjelajahi Baduy Dalam.
Disini kami juga menemui porter yang akan turut
menemani kami hingga akhir perjalanan, seorang anak kecil yang kuat dan
tangguh, Jamir, bersama dengan ayahnya, kang Suherman, dan uwaknya.
Dan perjalanan
kamipun dimulai, 20 menit kemudian kami pun sampai di kampung pertama
Kampung Cibungur
Pukul 14.00
Kokolotan dalam pemerintahan orang Baduy adalah
pemerintahan terbawah, kokolotan adalah seorang yang dituakan di kampung, bila
di wilayah biasa mungkin Kokolotan akan setara dengan seorang ketua RT, di
rumah kokolotan inilah, kami akan menginap selama 1 malam.
Dan disini kami banyak bertemu dengan orang-orang
yang memakai baju berwarna hitam-hitam, berikat kepala batik berwarna biru,
sedangkan yang perempuan memakai baju hitam dan rok batik berwarna biru. Ini
menandakan mereka adalah orang Baduy Luar. Namun seiring perkembangan zaman, di
kampung-kampung Baduy luar, juga bisa didapati orang-orang yang sudah memakai
pakaian modern seperti kaos dan celana jeans.
Sore hari di Kampung Cibungur kami habiskan
dengan memotret kegiatan warga disana juga mengunjungi Kali Cibungur, sambil
menyaksikan anak-anak kecil sedang mandi dan berenang beramai-ramai dengan
teman-temannya.
Malam tiba dan kami harus membiasakan diri untuk
bermalam tanpa pencahayaan lampu, karna tidak adanya pasokan listrik. Sebuah
lilin kecil pun menemani kami bersantap malam
Seusai santap malam, kami tak tau harus melakukan
apa, karna signal handphone sudah mulai hilang-hilangan, sebagian memilih
tidur, namun aku dan Ajeng memilih mengobrol saja.
Dan ini lah hal yang membuat aku takjub dengan
masyarakat suku Baduy, menolak pasokan tenaga Listrik untuk pencahayaan agar
dapat tetap melihat keindahan langit malam yang benar-benar memukau, kalau di
Jakarta mungkin langit seperti itu hanya ada di studio pertunjukan Planetarium
saja. Tapi disana kita bisa melihatnya dengan mata telanjang. Tapi karna dingin
malam yang begitu menusuk, aku memilih untuk berada di dalam rumah.
Sejujurnya perlu
adaptasi yang cukup lama agar aku tahan terhadap udara dingin malam, ini
menyebabkan aku sulit tidur, bahkan hingga hari-hari berikutnya. Jadi jika memang
kalian yang tidak kuat dingin seperti aku, lebih baik kalian siap sedia membawa
sleeping bag dan sebagainya agar dapat tidur nyenyak.
Selasa di Pagi Agustus, Tanggal 2 tahun 2016.
Baduy Luar – Baduy Dalam – Baduy Luar
Pukul 05.30
Kami semua sudah dibangunkan oleh bang Evan, kami
akan berburu foto kabut dari atas pemukiman warga, dan benar saja, kabut begitu
banyak masih menyelimuti kampung, bahkan nafas kami juga mengeluarkan asap.
Pukul 10.30
Usai sarapan dan berbenah kami melanjutkan
perjalanan kami menuju Cibeo disanalah tempatnya warga Baduy Dalam. Tas dan
barang bawaan kami yang berat pun beralih ke tangan para porter yang orang
Baduy Dalam asli, dalam satu pikulan, satu porter kuat membawa 5 buah tas, yang
dapat aku pastikan, pasti beratnya setara dengan 2 karung beras besar.
Namun tidak ada pilihan lain, karna sebagian dari
kami juga belum terbiasa membawa barang bawaan yang berat, termasuk aku. Dan
tujuan utama kami kesini adalah untuk memotret, agar kami bisa lebih fokus
memotret maka kami memakai jasa porter, dan kami berjalan hanya membawa tas
kamera yang berisikan lensa dan lain sebagainya.
Track yang kami
lalui dari Cibungur menuju Cibeo tidaklah mudah, dan untuk orang yang berberat
badan lumayan besar seperti aku, jadi sering istirahat kelelahan lantaran tidak
bisa bernafas, belum lagi, aku pernah terkena asma. Jalur yang kami lewati ini,
hampir setara dengan naik gunung, tanjakan dan turunan yang lumayan curam dan
kontur tanah yang tidak rata juga menyulitkan perjalanan, hingga aku memutuskan
untuk mencari kayu agar bisa jadi penopang dan membantuku berjalan, namun ku
lihat, porter-porter ku ini sungguh tangguh, berjalan tanpa alas kaki, di track
seperti ini, matahari pun begitu menyengat diatas kepala kami, belum lagi beban
panggulan di bahu mereka, namun mereka masih lebih kuat berjalan daripada kami
semua.
Baduy Dalam
Kampung Cibeo
Pukul 13.00
Maklumi saja bila tak ada dokumentasi di bagian
ini, sebab kami mematuhi aturan adat yang melarang kami untuk memotret disini.
Baduy Dalam masih benar-benar asri, terisolasi dari kemajuan teknologi, namun
masih tetap teguh memegang prinsip-prinsip dan aturan dari para leluhur, semua
untuk kebaikan bersama, dan untuk menjaga alam. Mungkin bagi para turis atau
pendatang, sulit hidup seperti itu di era yang serba canggih, namun bukan
kesulitan bagi mereka, Baduy Dalam, untuk meneguhkan prinsip tersebut, mereka
masih bisa tetap berdiri, mandiri berpangku pada alam, dan menjaganya
sebagaimana seharusnya manusia menjaga rumah mereka, yaitu alam yang ada di
Bumi.
Degan, atau sebutan lain dari Kelapa muda,
menyambut kami, sebagai pelepas dahaga, entahlah mungkin itu adalah
kelapa-kelapa terbaik yang pernah aku coba, dan kami juga membeli bala-bala
(sejenis gorengan bakwan) yang di jajakan oleh ibu-ibu disana.
Seusainya kami memilih untuk tidur sebentar untuk
meluruskan lagi otot kaki yang lelah berjalan. Dan pukul 14.00 kami bangun
untuk makan siang bersama.
Pukul 15.00 kami memutuskan untuk kembali
berjalan menuju kampung Baduy Luar, kami tidak memutuskan untuk menginap di
Cibeo lantaran disana kami tidak bisa memotret, karna kami ingin memotret
langit di malamnya.
Perjalanan menuju
Kampung Gajebo membutuhkan waktu selama kurang lebih 2,5 jam. Dan entah dapat
tenaga darimana, aku kuat sekali berjalan sore itu, mungkin karna matahari
tidak lagi menyengat seperti siang tadi, kini udara sudah lebih sejuk. Bahkan
saking cepatnya aku berjalan, aku kuat mendului porter, dan ketika aku
memutuskan untuk menunggu teman-temanku agar bisa jalan bersama lagi, aku
menunggu hampir 30 menit. Entah apa yang membuatku dari barisan paling
belakang, menjadi paling depan seperti itu, akupun masih bingung.
Kampung Cibungur
Pukul 17.30
Kami sampai di rumah yang akan kami singgahi
malam ini, namun aku lupa, rumah siapa, yang jelas tuan rumahnya juga seorang
kokolotan.
Usai makan malam kami ngeteh dan ngopi terlebih
dahulu, setelah itu, pukul 20.30 kami mulai perburuan langit malam kami, ‘jalur
susu’ kata bang Bagol.
Yap, Milky Way, Bima Sakti, galaksi favorit warga
Bumi.
Tidak perlu alat yang canggih, akupun hanya
menggunakan lensa di fl 18mm tanpa filter, dapat membidik Bima Sakti, mungkin
akan lebih ‘oke’ dengan lensa wide dan kamera yang noise reductionnya bagus.
Dengan sekitar 30” detik, bukaan terbesar, iso
tertinggi, Bima Sakti sudah bisa diabadikan, untuk mencari fokus, tinggal
matikan mode auto pada lensa ke manual, lalu putar pada infinity, kemudian
tinggal kita gonta-ganti saja White Balance nya, menyesuaikan warna apa yang
kita suka.
Usai berburu foto si primadona langit, lukisan
Tuhan yang indah, Bima Sakti. Kami memutuskan untuk kembali tidur, dan aku
lagi-lagi mengalami susah tidur karna terlalu dingin, hingga aku harus beberapa
kali terbangun.
Pagi menjelang, dan
bang Evan kembali mengajak kami untuk mengejar kabut di kampung itu, namun karna
aku juga kurang tidur, maka aku putuskan untuk tetap tidur karna mata ini tak
kuat untuk bangun, jadilah aku, Ajeng, dan Izzat tidak ikut.
Rabu bersama matahari Agustus, Tanggal 3 tahun
2016.
Pukul 11.00
Kami memulai kembali perjalanan kami menuju
Kampung Gajebo, di kampung inilah, sore nanti kami akan bertemu dengan
teman-teman kami yang berada di jalur 1.
Pukul 14.00
Kami tiba di Kampung
yang lumayan tinggi datarannya, disana kami bersinggah untuk makan siang,
sayangnya aku lupa nama kampung itu, kami kembali singgah di rumah seorang
kokolotan yang rumahnya juga menjadi sebuah warung.
Kampung Gajebo
Pukul 14.40
Kami sampai di Kampung Gajebo, namun teman-teman
dari jalur 1 belum tiba. Maka kami memutuskan untuk kembali memotret, seusainya
kami istirahat, akku dan Ajeng memilih untuk berenang dan main air di kali
Ciujung, yang airnya paling jernih diantara kali yang kami kunjungi dari
kemarin.
Pukul 16.00
Teman-teman dari jalur 1 sampai, kami melepas
lelah bersama dengan mengobrol di bebatuan pinggir kali, dari cerita mereka
yang lebih banyak berjalan, aku bersyukur mendapatkan jalur 2 yang tracknya
tidak sesulit mereka, bahkan bang Lito, sampai kakinya lecet juga sepatunya
jebol. Tak terbayang bagaimana bila aku yang berada di jalur 1, di jalur 2 saja
aku sudah mati-matian.
Pukul 19.00
Usai makan malam,
kami yang tadinya berniat mau motret langit lagi, jadi tertunda karna memang
langit sejak sore sudah mendung, tidak banyak bintang yang bermunculan,
akhirnya kami menghabiskan malam dengan ngopi dan ngeteh bersama sambil
mengobrol, berbagi cerita suka-duka selama perjalanan, karna ini adalah malam
terakhir kami di Baduy, lusa pagi buta kami sudah harus melanjutkan perjalanan
menuju Jakarta.
Pukul 05.30
Kami membagi 2 team
untuk menyisir kampung Gajebo, aku, Ajeng, bang Lito akan memotret di jembatan
dekat lumbung padi, sisanya akan jalan menanjak keatas untuk mendapkan
lansdcape dengan kabut
Kamis di siang Agustus, Tanggal 4 tahun 2016.
Kampung Kaduketug
Pukul 12.00
Dengan melalui track yang lumayan banyak
tanjakan, akhirnya dengan berjalan kami naik-turun, kami tiba di Kampung
Kaduketug dengan memakan waktu sekitar 1,5 jam, agak lama karna di jalan juga
kami sambil motret, juga banyak istirahat.
Kami singgah di rumah salah satu porter dari
jalur 1, kang Herman namanya. Kang Herman juga merupakan warga baru di kampung
Kaduketug, ia tadinya orang Baduy Dalam, namun karna melanggar beberapa aturan
adat, dia dipindah ke Baduy Luar bersama dengan istri dan kedua anaknya,
sedangkan masih ada 1 anaknya lagi yang masih ada di Baduy Dalam, tinggal
dengan salah satu sanak saudara disana. Menurutnya, masih lebih mudah hidup di
Baduy Dalam etimbang Baduy Luar, karna dari mulai persediaan pasokan pangan hingga
air, di Baduy Dalam lebih berlimpah, mungkin itulah yang menjadi alasan baginya
untuk membiarkan salah satu anaknya tetap berada disana.
Usai makan siang, kami semua istirahat sambil
berbincang bersama di depan rumah, sorenya aku keliling kampung sendirian untuk
mencari moment yang menarik sembari beli beberapa oleh-oleh.
Oleh-oleh khas Baduy ada lumayan banyak rupanya,
ada batik Sunda berwarna biru yang biasa digunakan orang Baduy Luar, ada madu
hutan asli, ada gelang-gelangan, gantungan kunci, pernak-pernik lainnya, dan
yang paling menarik adalah kain tenunnya, kain tenun di Baduy sangat menarik
karna warnanya yang cerah dan motifnya yang menarik, tidak terlalu ramai,
justru ke simple-an itulah yang membuat menarik. Kain tenun Baduy biasa dibuat
untuk kain rok, selendang atau syal, ataupun ikat kepala. Harga oleh-oleh
disini bervariasi, menurutku harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas
barang yang dibeli.
Malam menjelang, seusai kami semua makan malam,
sebagian dari kami memutuskan untuk berjalan-jalan, ada yang tidur, ada yang
memotret langit, karna meskipun ini desa terluar, pemandangan langitnya masih
sama seperti kampung-kampung lainnya.
Jangan kaget kalo di
desa ini sudah mulai terkena arus modern, karna desa ini paling dekat dengan
dunia luar, yaitu terminal Ciboleger, disini kita masih bisa menemui rumah yang
ada listriknya dan menyediakan jasa charger, sekali charger 2000 rupiah, dan
tak jauh, ada musholla juga toilet umum, dan jika mau jalan sedikit lebih jauh,
kita masih bisa jajan di Minimarket terminal. Banyak rumah di kampung ini
memakai tenaga matahari untuk listrik, oleh karnanya diatas rumah mereka
terdapat beberapa solar panel.
Jumat bersama dingin malam Agustus, Tanggal 5
tahun 2016.
Ciboleger
Pukul 01.30
Usai berbincang malam, kami lekas packing kembali
dan bersiap-siap kembali ke Jakarta, hanya 10 menit saja kami sudah sampai di
terminal Ciboleger kemudian langsung naik elf menuju Stasiun Rangkas Bitung.
Anehnya ketika aku memandangi langit di Ciboleger,
langitnya tidak secerah di Kaduketug tadi, padahal jaraknya tidaklah jauh, dan
meski rumah di Ciboleger sudah memakai lampu, tapi kan jumlahnya tidaklah
banyak, entahlah.
Rangkas Bitung
Pukul 02.30
Kami sampai di Stasiun KA Rangkas Bitung, karna
kereta berangkat pukul 06.00 maka kami menunggu sambil tidur-tiduran di
pinggiran stasiun, sebagian memilih menyantap nasi uduk disana.
KA Rangkas Jaya
06.00
Kami semua sudah
berada di kereta lagi, ada perasaan sedih meninggalkan Baduy, yang awalnya ku
kira 5 hari itu lama, namun sesungguhnya tidak terasa, aku butuh waktu lebih
lama lagi untuk mengenal Baduy, dan aku memutuskan untuk suatu hari nanti,
kembali kesana.
Tanah Abang
Pukul 07.30
Kaki kami kembali menginjakkan Jakarta, kami
langsung disambut oleh ratusan orang lalu-lalang di stasiun untuk berangkat
kerja.
Kelelahan sudah kembali mewarnai wajah kami,
pikiran untuk kembali melanjutkan aktivitas di ibu kota, belum lagi, masih ada
PR untuk kita semua, PR untuk merealisasikan Pameran Fotografi tentang Baduy.
Aku mengerti alasan mengapa Baduy menjadi salah
satu suku pedalaman yang menarik untuk diteliti, bukan hanya oleh orang biasa
sepertiku, namun juga oleh para peneliti yang sudah kesohor dibidangnya.
Masih banyak hal-hal misterius disana- dari mulai
seluk beluk Baduy yang hingga kini belum bisa dipastikan, hingga tentang
kepercayaan mereka terhadap roh-roh alam (animisme). Tidak percuma jika mereka
menjaga Alam dan hasilnya adalah hanya kata-kata keindahan yang tiada berujung,
untuk sanjungan terhadap alam yang mereka jaga.
Well, sampai jumpa lagi, Baduy!