Diberdayakan oleh Blogger.

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

CATEGORY >

(Bagian satu)

"Siapa kamu?"
Kataku didepan cermin.

Aku melihat aku, tapi bukan aku.
Ya, ini adalah monolog dariku, tentang aku, dan untukku.

Aku melihat sisi-sisi lain dalam diriku.
Abstrak, acak, terbolak balik.
Sisi ini baru ada sekarang.
Aku tidak lahir dengannya, dan ia bukan bagian dari diriku.
Namun rasanya, kami terpaut, terasa familiar, dekat, mungkin pernah bertemu.
Ini serasa ia lahir, dari kesalahan masalalu.

Aku putuskan untuk menjabatnya.
"Hai, aku adalah dirimu juga. Dirimu yang lain"

"Ya, bisakah kita berdamai?"

Dan sejak saat itu, aku dan sisi lain itu menjadi satu.

Share on:

Ingat saat kamu dan dia pernah jadi pembunuh?
Membunuh waktu bersama
Membunuh sedih bersama
Membunuh sepi bersama

Jalani masa dimana detik jadi begitu cepat terlalui, dan seolah kalian butuh lebih dari 24 jam dalam sehari.

Tangan jadi begitu rapuh, sehingga kalian hanya ingin berpegangan tangan, untuk saling menguatkan.

Bahkan hujan tidak lagi menjadi hal sial, karna ia membuat waktu untuk kalian bersama semakin panjang.

Dan dunia tak butuh orang lain, cukup kalian berdua saja.

Disanalah saat rasa lain telah mati, kecuali cinta yang tumbuh setiap harinya.

Dan disanalah kita terlalu lupa.
Terlalu bertumpu, terlalu berharap, terlalu percaya, terlalu cinta.
Lupa bahwa semua hal bisa saja berubah.

Kau mencinta hari ini,
Kau membenci esok hari.
Kau bahagia hari ini,
Kau berduka esok hari.

Ada roda-roda yang terus berputar, tak bisa kau ganjal sekalipun. Kehidupan namanya.

Sekejap saja, ia mati, tertikam cintamu sendiri.

Kemudian pikiranmu hanya sibuk menolak kenyataan. Dan ia sibuk membangun hari barunya tanpamu.

Kau hanya ciptakan ia sebagai ilusi dalam bayangan yang selalu akan bersamamu, namun bayangan itu selamanya tidak akan menyatu denganmu, terlihat dekat namun tak dapat dicapai, terlihat bersama namun ia tak bernyawa.

Roda kehidupan menabrakmu. Kau sadar, namun hilang akal. Berharap semua tak terjadi, lahir kata menyesal.

Andai, andai, andai..

Namun penyesalan tak berguna.
Orang baru akan membawa siklus itu kembali.
Terjadi, lagi, lagi, lagi.

Sesal atau sadarmu tak perlu lagi. Begitulah hingga kau mati, membusuk jadi manusia tak berarti, yang tak belajar dan terlatih.

Maka
Bahagialah seperlunya, sedihlah seperlunya, cintapun seperlunya.
Bertumpulah di kakimu sendiri.
Dan bergurulah pada apa yang pernah terjadi.
Jangan sampai kau tertabrak lagi.

Share on:

September
Oktober
November
Desember

Ber.
Belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, mereka menandai bulan-bulan Ber, dengan langit teduh, dingin, dan basah.
Musim yang mereka terka dengan kata Ber.
Selimut rapih diujung kasur, jaket dan mantel tidak lagi dalam almari, mereka tergantung rapih di sangkutan paku belakang pintu.

Ber.
Belasan bahkan puluhan tahun dari waktu itu, saat ini, tak ada lagi patokan musim.
Bisa saja cerah.
Bisa saja teduh.
Bisa saja dingin menusuk.
Atau panas merasuk.
Air yang mengalir di dahi, bisa jadi adalah rintik hujan, atau keringat.

Masa membawanya berubah.

Kini.

Ber.
Bulan-bulan ini, dengan musim macam-macam.
Pancaroba, malaria, mangga, dan rindu dia.

Masa, telah merubah.

Apa yang biasanya statis, dapat berubah drastis.
Apa yang biasanya bahagia tertawa, dapat berubah sedih kecewa.

Empat Ber telah dilalui, dalam bulan dihitung tiga.
Baru kuhitung bulan yang terlalui, sekejap kau hentikan dengan tega.

Mungkin akulah yang masih berpikiran seperti orang jaman dulu, Ber akan tetap, dan selalu sama.
Hingga realita, meneriakiku, apa saja bisa berubah di dunia.

Ber.
Untuk berhenti.

Ber.
Untuk rasa, yang mati.

Ber.
Untuk rindu, yang tak berarti.

Share on:

Sepi
Sendiri
Memaki

Tiga pagi menyambutku lagi
Menyeruak kisah kisah yang tak kunjung usai
Apa kabar hari ini?
Masih sama dengan omong kosong tak bertepi

Alunan alunan musik membawaku pergi
Menyelinap di gelapnya malam yang abadi
Kemudian kau datang menghampiri
Menawarkan bait baru yang kau kantongi

Apa yang hakiki dari hidup ini?
Penjamkan mata dan bayangkan diri terselimuti
Dosa dosa menyenangkan dan cumbuan yang mereka gilai
Ataukah impian impian sampah namun berarti

Kau dekatkan bibirmu ke telingaku, kemudian kau bisiki
Sesekali tubuh ini juga kau peluki
"Jangan hadir di mimpi orang, buatlah mimpimu sendiri"
Dan kau kecupkan bibir ini lagi

Ada sungai dirimu yang ingin ku selami
Ku siapkan perbekalan sejak dini
Tapi, Masalalu, terbayang lagi
Aku lupa aku tak punya cukup nyali

Hari hari berganti
Gundah dan resah terselingi
Dengan rasa rindu yang tak termiliki
Aku rindu sendiri

Share on:

Sahabat bagiku,
Ia yang akan mendukung tiap langkahku, dan bila aku terjatuh, ia akan tetap membangunkan aku, memberikan aku semangat, bahwa hari esok akan lebih baik jadinya.

Sahabat bagiku,
Kau habiskan tak terhitung hari bersamanya, tertawa seperti semua hal buruk adalah lelucon, ia membuat semua menjadi begitu menyenangkan.

Aku menjalani beberapa jalinan persahabatan, dengan banyak orang, banyak sifat, dan banyak keunikan.
Aku bersyukur memiliki orang-orang seperti mereka dalam hidupku, bahkan ketika aku sedang terpuruk, mereka tetap sedia merangkulku.

Dan kini, lagi, tentang persahabatan baru, orang yang masih ingin kupelajari karakternya, kami melingkarkan kelingking kami tanda persahabatan. Aku menyayanginya seperti sahabatku yang lain.

Namun suatu ketika sama sekali aku merasa bukan diperlakukan seperti sahabat olehnya, aku justru merasa, ini lebih dari itu.

"kalo gue sayang, gue yang akan menjauh"
Itulah yang aku katakan kepadanya, sungguh aku ingin persahabatan ini tetap terjaga, namun apa bisa aku menakdirkan kemana hatiku akan bernaung?

Dihari aku akan menyatakan padanya, perasaan ku untuk tetap menjadi sahabatnya, aku ingin ia tau bahwa aku menyayanginya, sebagai sahabat, maka kita harus menyeimbangkan setiap kegiatan kita layaknya sahabat pada umumnya, tidak lebih, tidak kurang. Agar kami dapat sama-sama menahan perasaan, atau jika memang kami lebih dari sekedar sahabat, maka namailah kedekatan kami dengan sebuah kata "pendekatan" dan lupakanlah hal-hal yang berbau pertemanan, agar perasaan kami akan lebih terbebas.
Namun waktu tidak menempatkan kami dalam posisi yang baik. Maka aku urungkan niatku, sampai waktu yang tepat.

Keesokan harinya, diluar dugaan, aku melihatnya bersama orang yang ia sebut terus namanya sebagai orang yang ia sayangi, dan saat itu, hatiku meringis, ada rasa tidak terima dan kesedihan yang tak bisa aku ungkapkan. Bahkan ia seakan pura-pura tidak menyadari kehadiranku disana, seakan kami tidak kenal, sungguh itu menyakitkan, bila memang aku sahabatnya, bersikaplah biasa, selayaknya sahabat.

Perasaan itu sungguh membuatku terus berpikir, mengapa aku harus bersedih, toh wanita itu adalah orang yang ia sayangi. Dan saat itu juga, aku sadar, bahwa aku harus menghindari perasaan ini, dan aku mulai melangkah menjauh darinya. Aku sungguh tak mau kehilangan ia..

Aku menahan diriku, menciptakan jarak aman yang tidak mendekatkan lagi diriku kepadanya. Namun tadi, kulihat ia, matanya sendu memerah, gerakannya lemas tak bersemangat, kemudian ada rasa dimana aku ingin memeluknya, dan menjadi tempat ia menumpahkan segala keluhnya, aku khawatir.

Dan harus aku namai apa kekhawatiran ini?

Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku terus dibayangi saat saat aku habiskan waktu indah bersamanya.. Aku merindukannya..

Sahabatku, apa yang terjadi? bagilah ceritamu padaku, mari keluar dan ciptakan kesenangan, aku ingin lebih mendalami dirimu, aku ingin jadi orang yang meneduhkan hatimu, dan menggariskan senyuman di bibirmu..

Sahabatku, apa aku benar menganggap dirimu adalah sahabat? Aku tak tau lagi bagaimana cara memperbaiki keadaan ini, aku rindu saat dimana waktu jadi musuh terberat kita ketika kita melalui hal yang menyenangkan, seakan tak ingin itu berakhir.

Aku mengkhawatirkanmu, bagilah lagi senyum mu padaku. Aku rindu kamu, sahabatku..

Share on:

Sebentar lagi matahari pagi akan menyapamu, usai dicumbu malam dengan rintik hujan
Jalanan masih basah, rindu makin tajam terasah
Lalu memori mengulang cerita, 21 tahun yang lalu seorang hawa melahirkanmu penuh sukacita, bagaimana hari pernah menjadi baik sebelumnya, pada awal dirimu mengenal dunia
Terekam bagaimana tangan-tangan penuh kasih sayang pernah menuntunmu berjalan, menyusuri liku kehidupan
Hingga bagaimana kamu dapat berjalan sendiri, terjatuh namun bangkit kembali

Kemudian terbentuklah kamu, seorang insan ciptaan Tuhan yang telah berbagi banyak warna dan cerita kepada tanah, langit, air, diatas bumi
Tentang bagaimana mimpi dapat membuat melayang, dan kenyataan menghempaskannya.

Maka bagilah cerita lainnya padaku, selayaknya kamu mendengarkan ceritaku
Jadilah pensil warna, dan warnailah hari-hariku juga banyak orang disekitarmu, dan buat keceriaan didalam cerita mereka

Hari ini, banyak doa terpanjat untukmu, sebagai rasa syukur padaNya karna telah menciptakanmu menjadi sebaik-baiknya dirimu untuk mereka

Dan impian akan menjemputmu kelak, dengan sejuta pengharapan, bahwa seberat apapun harimu esok, kamu akan tetap kuat, dan pelangi selalu menunggumu

Telah ku pinta pergi kesedihan agar jauh dari dirimu, dan menggantikannya dengan nyanyian kebahagiaan
Jangan murung kembali, anggaplah semua hari adalah yang ke 12 bulan 2, sehingga tak pantas kamu pasang murungmu lagi

Selamat menempuh yang ke 21, temanku.

Aku bersuka cita, untukmu.

Share on:

Matahari pagi membawa lagi namamu
Tak ada air mata keluar, lambat laun kenyataan telah menyadarkanku, sesungguhnya hingga hari ini aku dapat berdiri tanpamu, meski angin sempat menggoyahkanku atas kepercayaan diri ini, aku masih tetap bernafas dengan jutaan namamu dalam sel otak ku, tak lantas membuat aku mati sesenggukan.

Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar, sembari mengulang ingatan tentang apa yang selama ini aku lalui, bagaimana aku melepas hal yang tak lagi menjadi milikku, bagaimana aku merelakannya, bagaimana aku mengikhlaskan suatu kenangan yang memang hanya untuk dikenang, bukan dimiliki lagi, karna satu-satunya hal yang kita miliki, adalah hari ini, sedangkan besok, adalah harapan.

Dan hari ini, bersama matahari, aku berharap esok aku bisa hidup tenang tanpa lagi menangisi kepergian orang yang memang tak ingin berjalan bersamaku, tak ingin memegang kembali tanganku, dan membuat seolah dimulai atau diakhiri itu adalah haknya, dan aku tak punya hak itu sama sekali.

Ini adalah saatnya aku mengambil hak milikku, otak dan pikiran yang seharusnya menjadi sepenuhnya milikku, yang sejak sebulan ini kamu bajak sesukamu.

Aku menaruh harapan, agar esok, aku dapat mencintai diriku sendiri, dan menghargai orang yang mencintaiku, tidak seperti kamu.

Memang munafik adanya aku menulis ini, tak bisa kupungkiri jika memang benar adanya aku masih teringatkan kenangan itu, namun, biarlah tulisan ini menjadi saksi bahwa aku punya niat untuk merdeka lagi.

Hari esok sepenuhnya akan menjadi milikku lagi, aku akan menatanya dengan baik, sebaik-baik keputusanmu untuk melangkah pergi, sebaik-baik keputusanmu menarikku, kemudian menyingkirkanku.

Aku selalu ingat bagaimana orang yang telah menghabiskan beberapa kalender bersamaku, membuat penuh warna didalamnya, dan aku bisa mengikhlaskan dirinya, atas nama hakikat cinta, aku ingin orang yang aku cinta bahagia, dengan atau tanpa aku.
Dan aku akan melakukan hal yang sama, dengan kamu yang kuhabiskan waktu hitungan jari, aku yakin bisa melewatinya, jadi sebenarnya yang aku butuhkan bukan kamu yang melangkah pergi, tapi waktu yang merangkulku agar terus melalui semua ini.

Dan waktuku tak akan pernah membawa kamu kembali. Bagaimanapun aku menagisinya, ia tak akan membawamu kesini.

Aku berharap, esok aku temukan kembali senyumku, senyum yang tak ingin kau lihat, senyumku yang tak kau perjuangkan. Namun aku akan berjuang untuk itu.

Kamu percaya aku bisa, iya, aku bisa. Tanpa kau percayai, aku memang pasti bisa.

Terimakasih atas pembuangan waktumu denganku, aku pikir, kamu salah memilih 'rest area', kamu salah memilih tempat singgah. Juga terimakasih atas pelajaran yang begitu berharga, tentang seorang lelaki yang tak pernah memikirkan keputusannya, selama itu hanya menyangkut diri dan kesenangannya sendiri, tanpa memikirkan orang yang terlihat didalamnya.
Dan maaf, ternyata aku mematahkan harapanmu tentang aku, aku yang ternyata tidak sanggup mengikuti alurmu, sesungguhnya kamu hanya menyeretku, bukan mengajakku perlahan, tanpa aku bisa melihat sekelilingku, tanpa sempat aku melihat diriku sendiri, dan kau buat aku hanya melihat kamu dalam seretan di genggaman tanganmu.

Berbahagialah kamu, atas dirimu yang hanya melihat dirimu saja. Berbahagialah, semoga suatu saat nanti Tuhan membuka matamu, dan membuat kamu melihat sekelilingmu..

Aku masih rindu, tapi semoga besok rinduku terobati dengan hal lain yang lebih menghargai perasaan rinduku.

Besok akan menjadi milikku,
Sepenuhnya akan menjadi milikku.

Share on:

Malam yang sesungguhnya sepi lambat laun terasa semakin ramai, karna kamu memenuhi kepalaku.

Ada 1 rasa syukur ketika kamu memutuskan pergi, terkuak 1 rahasia dalam tubuh ini yang terbongkar, dan entah apa jadinya bila kamu tak meninggalkan aku, dan aku tak akan pernah mengetahui rahasia ini.

Tapi malam ini, benar-benar ada perasaan teduh yang terasa, tidak seperti kemarin, aku selalu dibuat sesak nafas, sesenggukan menangis, dan mendapati mataku bengkak dipaginya, tersiksa menahan betapa aku rindu kamu.
Perasaan malam ini berbeda, aku merasa... Dekat denganmu...  Padahal sama sekali tidak.
Aku merasa, teduh, seperti ada kamu disisiku, padahal mungkin sama sekali kamu tidak memikirkanku. Kepalaku penuh dengan dirimu, dan hebatnya tidak ada air mata setetespun turun, seolah kamu menahannya, menahan jatuhnya air mata itu, seperti yang kamu lakukan di waktu terakhir kita bertemu.

Entah aku merasa ada hadirmu, padahal dirimu sama sekali tidak ada disini, atau dimanapun dihidupku, karna mungkin kamu sudah memutuskan menjauhi kehidupanku, dan berbahagia dengan kehidupanmu sendiri.

Dapatkah kamu menjawab, mengapa aku merasa seperti ini sekarang, aku benar benar merasa kamu berada disisiku, memegang tanganku.

Apa karna.... Aku begitu merindukanmu..

Ternyata butuh waktu sebentar untuk melayang, butuh waktu sebentar untuk terjatuh, namun butuh waktu yang lama untuk bangkit setelahnya..

Seburuk apapun aku telah menilaimu, sekuat apapun aku mencoba membencimu, yang aku dapatkan hanyalah rasa rindu yang makin menggila.

Aku ingin bertemu kamu. Ingin bertemu, "sayangku, sayangku yang dari tak seberapa menjadi berharga".

Sesungguhnya 3 hari ini aku sudah berniat untuk tidak menutup diriku, aku mencoba pergi dengan seseorang baik-baik, dia pun memperlakukanku baik-baik, kami bertemu dan berbicara baik-baik, bahwa aku masih menyayangi kamu.. Aku tak bisa lagi membohongi diriku, apalagi orang lain, aku sungguh rindu kamu.

Kamu sudah jadi obatku lagi, menyemangatiku lagi, menjadi kekuatanku lagi.. Namun ketika aku menulis ini, di detik ini, aku sadar, bahwa,

Aku berhalusinasi.

Peluk aku, disini dingin.
Dan genggam tanganku, agar aku kuat lagi.

Aku rindu kamu.

Share on:

Matahari sudah sampai di atas kepala, aku masih belum beranjak bangun meski aku sudah membuka mata sejak pukul 9.

Kepalaku seakan berputar, dan mataku sakit, sebelum dan setelah tidur aku menguras kembali air mataku.

Nafasku terderu panas, aku lemas, dan sekali lagi air mata yang keluar ini membuat kepalaku sakit.

Aku bingung aku kenapa, tidak biasanya menangis hingga seperti ini.
Aku masih bingung dengan apa yang terjadi padaku.
Aku bingung, yang kemarin aku lalui itu, mimpi atau bukan, yang pasti buruk sekali.

Saat aku ditelpon seorang teman yang menanyakan keadaanku, jawab dirinya "begitu, kalo cinta gak cuma pake hati, tubuh jadi ikut kehilangan vitaminnya, makanya sudah kubilang, jangan mudah percaya"

Sejak kapan aku jadi orang yang mudah percaya, sejak aku mengenalnya.
Dulu aku tidak begini.
Dan ketika aku jatuh, aku hanya menyesali perbuatanku, atas kepercayaan diriku, yang ternyata seribu persen salah.

Aku dan tubuhku kaget menerimanya. Aku bahkan tidak ingat lagi bagaimana cara berselera makan. Sungguh ini menyiksa.

Ada juga yang berpendapat "puas puasin sedih sekarang, tapi besok jangan lagi"
Bagaimana bisa?
Yang aku tau, saat ini kepalaku berputar.
Nyaris butuh waktu lama untuk jempolku mengetik ini dengan satu tangan.
Dan seakan kesakitan ini menandakan betapa berat memikirkan mu, hingga kepalaku rasanya terlalu berat untuk di paksa bangun.

Aku berlebihan?
Iya.
Akupun kaget.
Aku butuh obatku, obatku yang pernah aku ceritakan sebelumnya,
Aku butuh kamu.

Share on:

Aku sedang berada di ujung lagi, sekali lagi Tuhan memang Maha pembalik hati manusia. Tuhan Maha adil, Dia tak ingin aku terlalu melayang, maka kali ini aku dihempaskan olehnya, melalui seseorang yang dengan susah payah aku bangun kepercayaan untuknya, hingga aku sangat menyayanginya.

Aku bingung, siapa yang salah disini.
Aku yang terlalu perasa atau kamu yang terlalu gegabah.

Disatu sisi aku menunjukan kekuranganku yang ternyata tak bisa kamu toleransi, hingga akhirnya perubahan demi perubahan terjadi hingga kamu memutuskan tidak melanjutkannya denganku.
Haruskah aku menyalahkan diri atas kebodohan yang kuperbuat, atas diriku yang sebenarnya dan kamu tak bisa terima..
Namun sesungguhnya, sungguh sungguh aku sudah bulatkan tekad, aku memang mau berubah untuk kamu, menjadi wanita yang lebih baik untuk kamu.

Ini baru 1, dari 1000 hitamnya diriku, dan meski aku sedang berusaha berubah, kamu tak menerima, lantas bagaimana dengan 999 hitam lainnya? Sedangkan aku sudah terlanjur menyayangi kamu.

Pikiranku sibuk menerjemahkan apa yang kamu maksud, apa yang kamu mau, dan hanya akan berujung pada, sesungguhnya kamu hanya membuangku perlahan, tapi pasti.

Dan aku menyesali kebodohanku, untuk menyayangi kamu sepenuhnya, seperti yang aku bilang, kamu seperti orang yang memang sudah lama aku cari, namun kini aku tersiksa atas diriku yang terlalu perasa dan terbawa suasana, ini barulah hitungan hari, bisa dihitung dengan jari-jari tubuh, namun kebodohan ini membuat seolah aku sudah menghabiskan beberapa kalender bersama mu.

Terlebih kenyataan menyakitkan lainnya, bahwa kamu tidak menyayangiku, seperti yang ada dipikiranku, kamu hanya turut terbawa suasana dan hanya menyayangi diri kamu sendiri.

Kamu bilang, kenangan telah membuatmu menghargai hari-hari kedepan, dan kepercayaanmu bahwa kamu akan dapat yang lebih baik dari sebelumnya, maka itulah pedomanku, pedomanku untuk mencintaimu, aku ingin jadi yang lebih baik untuk kamu, menjadi orang yang memang benar bisa membuat kamu nyaman, seperti katamu, kenyamanan adalah nomer satu. 
Aku ingin menjadi salah satu semangatmu, seperti katamu, kamu selalu semangat kerja karna kamu berpikir dan membayangkan ada yang menunggu kamu dirumah, yaitu aku. Maka aku akan mengalahkan segala rasa egoku untuk memilikimu sepenuhnya, dan memberikan dorongan sebisaku, agar kamu selalu merasakan semangat itu, aku selalu menunggu kamu pulang, meskipun tak banyak kalimat yang aku dapat, tapi aku merasa itu semua berharga untukku, dan terlebih lambat laun kamu mulai menjauhiku karna berasumsi salah terhadapku, dan suara suara kamu di malam itu lambat laun menghilang.. Kamu lebih suka hidup tanpa aku...

Ataukah perilaku ku yang hanya sekedar ingin merealisasikan keinginanmu, membuat kamu jengah? Aku hanya berusaha yang terbaik, dan ingin menciptakan moment berharga di masa awal hubungan sebelum banyak masalah masuk.
Namun hanya dengan 1 masalah kamu semudah itu menilaiku dengan rendah.. 

Aku merasa saat kemarin aku terjatuh, kamu membangunkan ku, namun kamu mendorong aku lagi.
Aku merasa aku hanyalah pariwara dalam hidupmu, dan bisa kau elak kapan saja.
Aku merasa aku tidak berarti untuk kamu, hingga kamu semudah itu melepas genggamanmu.

Lalu dari semua yang aku rasa, dan kamu perbuat, bagaimana cara aku bertahan melewati semua ini saat semua seolah "tak sengaja" terjadi. Namun apa bisa aku menghilangkan perasaan ku dengan kata "tak sengaja"?

Malam ini banyak kata menyedihkan yang aku ucapkan didepanmu, seolah aku lemah.
Iya sesuai dengan katamu, wanita itu lemah, makanya butuh disayang. Namun aku mencoba kuat dengan sisa sisa harapan ku, sesungguhnya aku benci untuk menjadi lemah, meneteskan air mata depan kamu yang mencoba pergi, aku benci menunjukan kelemahanku, dan untuk pertama kalinya aku tunjukan depan kamu.
Aku hanya....  Lelah, aku baru saja berusaha keras membangun sebuah rumah nyaman untuk kamu, lalu kamu memutuskan pergi meninggalkannya.

Dan kamu menyuruhku untuk runtuhkan lagi rumah yang susah payah aku bangun.

Kamu bilang aku butuh waktu.
Aku hanya butuh kamu.

Kamu bilang aku bisa.
Aku tak bisa.

Kamu bilang aku kuat.
Aku hanya bisa jawab dengan air mataku.

Yang aku dan kamu lalui ini, singkat, tapi, dalam. Aku masih ingat pertama kali bertemu kamu bisa menerima kekuranganku dari masalaluku, namun setelah kita berhubungan, kamu menilaiku begitu rendah.

Aku hanya butuh kesempatan untuk berpikir lagi,  sembari aku berusaha untuk bisa terbiasa tanpamu perlahan-lahan. Hingga entah kapan.
Namun biarlah,
Aku hanya ingin kamu saat ini
Aku hanya ingin kamu.

Share on:
  • ← Previous post
  • Next Post →
  • INSTAGRAM : PETUNIAINTAN.
  • Perangkai kata, dibalik lensa.
140x140

INTAN CHARISMA

penjagalaxy

Cari Aku!

Instagram: Petuniantan
Instagram Portfolio: jepretanintan & Photolicious.Jakarta

facebook.com/pettuniaintan

Twitter: IntnKD

Lineid: Intnkd

Snapchat: Pettuniantan

Path: IntanKharisma

Mail: pettuniaintan@yahoo.com
pettuniaintan@gmail.com


Facebook Twitter Gplus RSS
latest posts
latest comments

Search

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2017 (10)
    • ▼  Desember (3)
      • Monolog 1
      • Terbatas Realitas
      • Ber
    • ►  Juni (1)
      • Sepi
    • ►  Februari (2)
      • Sahabatku?
      • 12221 Untuk Kamu
    • ►  Januari (4)
      • Besok Punyaku
      • Hadirmu?
      • Sakit Kepala
      • Aku Ingin Kamu
  • ►  2016 (27)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (9)

Popular Posts

  • Sudut yang Temaram
    Sudut gelap kamar itu adalah aku Yang panjang menjuntai kedepan, dan lebar kebelakang, ia ada ditengah, berdebu tebal, bersiku kokoh namun t...
  • Raya Ketiga Tanpa Mama
    Saya berdiri lagi, sendiri, menepi. Sebentar lagi raya ketiga, tanpa Mama. Hari ini mendung disertai hujan, saya lihat sekeliling, merasa ad...
  • Mas Nguber
    Kadang suka ngerasa gak sih, kita persiapin sesuatu, tapi kita suka lupa justru waktu yg kebuang buat persiapan bikin kita jadi keteteran? ...
  • Memo Kematian Diri
    Jelaga, ceria, aurora, mega, kelabu, biru. Kau ajari aku. Terbata aku mengeja Bagaimana kau tuntun aku membaca "Ini adalah warna.. ...
  • Pembunuh Senin
    Ini cerita tentang wanita yang ingin membunuh senin. Aku tau betul wajahnya yang selalu terlihat muram. Ia berkata ia juga tau betul banya...
  • Ber
    September Oktober November Desember Ber. Belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, mereka menandai bulan-bulan Ber, dengan langit teduh, ...
  • 24 Mei 2023
    Saya merasa saat orang lain dengan sadar dan sengaja menyakiti saya, umumnya mereka enggan mengucap maaf yang tulus. Tiada gestur menyesal, ...
  • Tentang Kampus Tercinta
    Kampus Tercinta. Kampus kecil di Jakarta Selatan tepatnya di Lenteng Agung. Gue mulai kisah awal gue disini. Tepat September 2014 gue mula...
  • Besok Punyaku
    Matahari pagi membawa lagi namamu Tak ada air mata keluar, lambat laun kenyataan telah menyadarkanku, sesungguhnya hingga hari ini aku dapa...

Mengenai Saya

Unknown
Lihat profil lengkapku
Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

Hercules Design @Hercules_group
@billykulpa Please contact us via info@hercules-design.com
Reply Retweet Favorite

06 May 2014

This blog is to provide you with daily outfit ideas and share my personal style. This is a super clean and elegant WordPress theme for every bloggers. Theme is perfect for sharing all sorts of media online. Photos, videos, quotes, links... etc.

Facebook Twitter Flickr Linkedin Gplus Youtube

Your Charisma

Ketika Kata Mampu Meredakan Rasa

  • Home
Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates